re-writing dreams

writing2

udah 1 juli, nggak kerasa ya udah setengah tahun lewat..hiks…

Saya lagi menulis ulang mimpi-mimpi saya…

Udah lebih jelas sekarang apa yang saya mau.

Sejak punya Dadit, saya jadi banyak berubah:

1. Bisa bangun pagi, horeeee…! Ini seperti keajaiban dunia ke-8 buat saya :p

2. Tidur nggak kebo-kebo amat…kalo Dadit usrek (dia kalo nggak laper bgt, nggak nangis..tapi kalo saya lama, dia ngomel, teriak-teriak…emang bener-bener deh, gak sabaran kayak emaknya hehehe), saya bisa langsung bangun. Keajaiban dunia ke-9!

3. Lebih bisa disiplin manfaatin waktu. Saya kan kerja dari rumah. Dulu bisa berhari-hari kerjanya browsssiiiinnnggg doang, kerjaan dikerjain deket-deket deadline. Sekarang, karena saya juga musti bagi-bagi waktu sama si undul itu, jadi saya musti nyicil-nyicil kerjaan. Dulu mana bisa. Sekalinya mood kerja dan deket deadline, saya bisa kerja sampai subuh, males makan males mandi. Sekarang kan musti makan teratur. Musti berenti-berenti kerjanya, karena nyusuin Dadit. Yah, dinikmati saja 😉

4. Rajin mandi. Nah, ini keajaiban dunia ke-10. Saya mandi teratur 2x sehari sekarang :p Dulu sih 2 hari sekali aja sukur…maaf ya suamiku :p

Banyak lagi sih perubahan-perubahan lain. Tapi yang terpenting, yang membuat saya mau menulis ulang mimpi-mimpi saya adalah, sekarang saya udah makin jelas apa yang saya mau dalam hidup. Prioritas apa yang mau saya dahulukan. Dan caranya supaya saya bisa hidup senang tanpa harus mikirin kerja full-time untuk cari uang. Dan bisa mengerjakan apa yang saya suka dengan sesuka-sukanya (yang biasanya mengeluarkan dan tidak menghasilkan uang hehehe..)

Intinya, saya lagi buat road map, rencana menuju kebebasan financial. Kalau menurut Kiyosaki kan kebebasan finansial itu kalau passive income kita = 3 x pengeluaran rutin kita.

Sekarang? Passive income saya alhamdulillah udah (atau baru ya?) 20% dari pengeluaran rutin. Masih banyak  PR yang musti dikerjakan. Masih banyak rencana yang harus dijalankan. Semoga target bisa tercapai secepatnya, amiennnn…

SEMANGAT !!!

July 1, 2009 at 5:40 am 1 comment

momo mau nyusuin adek sampai kapan pun adek mau…

…udah lama gak update blog, lagi riweuh menjalankan banyak rencana di kepala hehehe…tapi ini ada tulisan yang dibuat tanggal 7 juni yang lalu, posted di note facebook saya…

Hari ini Dadit ulang bulan yang ke tiga. 3 bulan juga Mama tau gimana rasanya jadi ibu, menyusui, begadang, panik ketika bilirubin kamu sempat tinggi atau ketika kamu menangis tanpa Mama tau apa sebabnya.

Ternyata menyusui sama sekali nggak gampang. Ketika hamil, Mama udah baca banyak artikel, ikut kelas menyusui AIMI, kelas kesehatannya dr Wati, beli banyak buku termasuk peralatan menyusui, dari pompa, nursing apron, botol kaca, cooler bag, training cup m*d*l*, u name it. Mama punya peralatan perang lengkap buat nyusuin adek. Mama kira semua akan lancar. Gampang kok nyusuin. Ibu-ibu dulu juga nggak pakai teori macem2, gak pake alat macem2, bisa nyusuin anaknya dengan lancar. Kenapa Mama nggak?

Bilirubin kamu sempat tinggi waktu lahir, nak. Mama sempat tergoda untuk ngasih susu formula. Walaupun Mama tau kalau asi ibu pasti cukup untuk anaknya dan Mama nggak boleh berpikiran negatif karena akan mempengaruhi produksi asi, tapi kekhawatiran Mama melihat semua upaya yang sudah Mama dan Papa lakukan (jemur adek tiap pagi, begadang mompa dan nyusuin adek setiap 1.5 – 2 jam) seperti tidak membuahkan hasil membuat Mama sempat bertanya-tanya ‘apakah asi Mama memang tidak cukup?’

Alhamdulillah bilirubin kamu kemudian turun nak. Ketika Mama hampir menyerah untuk kamu disinar saja. Kamu memang the real fighter sayang…Bahkan sejak dari dalam kandungan pun, ternyata kamu sudah berjuang. Ketika kamu dilahirkan, dokter dan kami semua baru tahu bahwa plasenta kamu selama ini ternyata hanya menempel di selaputmu nak. Yang bisa setiap saat putus dan kami akan kehilangan kamu. Subhanallah kamu bisa lahir selamat, sehat, bahkan tidak berberat badan rendah.

Setelah itu bukan berarti perjuangan usai. Jam tidur yang belum teratur, puting lecet, kamu yang terus menerus minta susu, ditambah Mama tetap harus bekerja menyelesaikan analisa data yang harus dipenuhi deadlinenya. Lagi-lagi Mama sempat ingin menyerah, maybe breastfeeding is just not for me…

Beruntung Mama punya Papamu, yang selalu sabar menghibur dan menenangkan Mama. Lalu Mama baca buku ‘what to expect during the first year’, hadiah dari om2 dan tante yg baik hati. Di buku itu ada satu pertanyaan yang hampir sama dgn kegelisahan Mama: I don’t think breastfeeding is for me.

Jawaban buku itu melegakan Mama. Coba dulu sampai 6 minggu (berarti sekitar 40 hari umurmu ya…), baru putuskan apakah ingin menyusui atau tidak. Kalau memang menyusui hanya menyengsarakan, ya gak usah gak papa. Drpd anak ibu tidak menikmati. Simpel. Jadi Mama coba tahan. Target 40 hari saja. Setelah itu kalau memang Mama nggak sanggup, Mama sudah siap dengan merk susu formula yang paling baik untukmu.

Ternyata benar, bahkan sebelum 40 hari pun, Mama mulai menikmati saat-saat menyusuimu. Memangkumu yang makin lama makin membulat. Melihat wajahmu yang tanpa dosa dengan senyuman dan gigi ompongmu. Dan memperhatikan bagaimana wajah bulatmu terkulai kekenyangan setelah puas menikmati asi. Mama nggak mau kehilangan momen-momen ini. Belum lagi daya tahan tubuhmu yang benar-benar bukti kalau asi memang yang terbaik untuk bayi.

Masih panjang perjalanan kita nak…
Bahkan masih beberapa bulan lagi untukmu menikmati asi exclusif…
Tapi yang pasti, Mama mau menyusuimu nak, sampai kapan pun kamu mau…Walaupun Mama harus repot merah…harus bawa-bawa cooler bag kemana-mana…harus menghentikan apapun kegiatan Mama ketika kamu mulai haus…harus tahan dengar semua omongan orang…harus bangun 2-3 jam setiap malam…apapun…

Bukan demi gelar ibu yang baik…
Bukan demi gelar S1, S2 dan S3 asix seperti yang diberikan milis kepada bayi-bayi yang berhasil mendapatkan asi sampai 6 bulan, 1 tahun dan 2 tahun…

Tapi karena Mama percaya, Tuhan sudah berbaik hati memberikan hadiah terbaikNya untuk kami…

Kami janji akan selalu menjaga hadiahNya ini dengan juga memberikan yang terbaik…

Untukmu nak…

Sekarang, nanti, selamanya…

yang sehat ya dek…
Amin…

.Dedek Astrilia Gunawan.
Momo of Mahatma Raditya Siregar (3M18D)

bornMahatma Raditya Siregar

born on March 7, 2009 at 17.26

(picture was taken at 17.35. fresh from the womb ;))

n709308385_2004176_667500Dadit recently

picture was taken on june 7, otw to uda andri’s wedding…

June 25, 2009 at 8:35 am 7 comments

biaya pendidikan anak

Keponakan tercinta, tersayang, lanang ganteng saya udah 3 tahun. Sekolahnya yang biasanya cuman main-main di T*mbl* T*ts mau dipindah sama Ibunya ke sekolah yang lebih ‘serius’. Sekolahnya bagus, enak bangeut, saya aja jadi pengen. Ada kasurnya segala, katanya anak-anak suka ngantuk kalau di kelas, jadi biar bisa tiduran hehehe Yang buat saya takjub, biaya sekolahnya. UGGGHHH! Itu untuk tahun sekarang. Tahun depan naik lagi, lagi dan lagi…Kalau anak saya sekolah nanti, udah berapa..? Saya jantungan!

Iseng-iseng menghitung biaya sekolah yang diperlukan nanti. Kalau mulai nabung (atau investasi) dari sekarang kan MUNGKIN nggak gitu berasa ya 😉

Hal penting yang harus diingat untuk menghitung biaya sekolah anak:

Inflasi biaya pendidikan di Indonesia = 20% per tahun. Besar ya? Tapi memang segitu. Bandingkan dengan kenaikan gaji rata-rata kita yang 10% per tahun aja udah alhamdulillaaaahhh bgt…Belum lagi krisis begini, punya kerjaan aja syukur ya, jangankan mikirin bonus dan kenaikan gaji tahunan.

Ini attach excel filenya, ayo itung-itung-itung…Begini cara pakainya:

1. Ada berbagai jenjang pendidikan di tabel, mulai dari playgroup sampai kuliah.

2. Yang harus kita isi adalah kolom-kolom yang berwarna biru (dirubah aja angkanya)

3. Kolom A: Tahun masuk sekolah dari sekarang. Misal anaknya sekarang umur 1 tahun, mau masuk playgroup umur 3 tahun. Jadi isi angka ‘2’ di kolom sebelah playgroup. Begitu seterusnya untuk setiap jenjang pendidikan.

4. Kolom B: Biaya saat ini. Kalau udah ada sekolah yang diincer untuk anaknya, bisa ditanya, berapa biayanya untuk masuk sekolah itu tahun ini. Masukkan angkanya untuk setiap jenjang pendidikan. Tabel ini hanya untuk biaya masuk sekolah ya. Belum termasuk biaya bulanannya.

5. Kolom C: Asumsi inflasi setiap tahun. Kalau mau lebih dari 20%, biar lebih aman, monggo diganti aja angkanya.

Kolom D (biaya nanti) adalah perkiraan biaya yang harus dikeluarkan nanti, dihitung otomatis oleh bang excel.

Kalau cuman mau liat berapa jumlah yang dibutuhkan nanti (angkanya bikin shock memang hehehe), udah cukup sampai situ aja ngisi tabelnya.

Tapi kalau mau tau, gimana caranya mencapai angka yang segitu, dengan cara apa, isi lagi kolom biru terakhir (kolom E, target rate investasi per tahun).

Asumsi return investasinya ini:

Deposito                                                                     5%

Obligasi / Reksadana Pendapatan Tetap     10 – 15%

Reksadana Campuran                                         15 – 20%

Reksadana Saham                                                 25 – 30%

Itu semua asumsi. Ingat, high risk high return. Kalau mau aman, ya masukin deposito. Misal semua diisi dengan return deposito (5%), nanti bang excel akan menghitung berapa yang harus disetor tiap bulan. Dengan investasi yang low return, setoran per bulannya juga musti besar.

Ayo mulai menghitung.

Karena anak sekolah nggak bisa nunggu bapak ibunya punya uang 😉

PS: Berhari-hari cari cara buat upload file excel ke wordpress, nggak nemu-nemu hehehe *gaptek* Jadi saya upload di sini aja ya. Monggo diunduh..

Excel file perhitungan biaya pendidikan anak

February 27, 2009 at 3:07 pm 5 comments

advice from warren buffet

Hei…walaupun mungkin agak terlambat, mumpung masih Februari, ini ada nasihat bagus menghadapi 2009 dari Opa Warren…Hope we become wiser this year, not just older. SEMANGAT !!!

================================================================

We begin this New Year with dampened enthusiasm and dented optimism. Our happiness is diluted and our peace is threatened by the financial illness that has infected our families, organizations and nations.

Everyone is desperate to find a remedy that will cure their financial illness and help them recover their financial health. They expect the financial experts to provide them with remedies, forgetting the fact that it is these experts who created this financial mess.

Every new year, I adopt a couple of old maxims as my beacons to guide my future. This self-prescribed therapy has ensured that with each passing year, I grow wiser and not older.

This year, I invite you to tap into the financial wisdom of our elders along with me, and become financially wiser.
Ø Hard work: All hard work bring a profit, but mere talk leads only to poverty.
Ø Laziness: A sleeping lobster is carried away by the water current.
Ø Earnings: Never depend on a single source of income. [At least make your Investments get you second earning]
Ø Spending: If you buy things you don’t need, you’ll soon sell things you need.
Ø Savings: Don’t save what is left after spending; Spend what is left after saving.
Ø Borrowings: The borrower becomes the lender’s slave.
Ø Accounting: It’s no use carrying an umbrella, if your shoes are leaking.
Ø Auditing: Beware of little expenses; A small leak can sink a large ship.
Ø Risk-taking: Never test the depth of the river with both feet. [Have an alternate plan ready]
Ø Investment: Don’t put all your eggs in one basket.

I’m certain that those who have already been practicing these principles remain financially healthy.

I’m equally confident that those who resolve to start practicing these principles will quickly regain their financial health.

With Best Regards,
Warren Buffet

February 23, 2009 at 11:14 am 2 comments

nostalgi(L)a

Gara-gara (baru) baca The Secret Life of Bees, plus nonton ‘Jersey Girl’, ditambah hormon hamil dan demam foto-foto lama di Facebook, saya jadi teringat banyak hal jaman dulu kala. Banyak yang udah lupa juga sih 😉 Tapi jadi kepikiran untuk menulis sebagian cerita hidup saya. Yah, minimal buat dibaca anak saya kalau dia besar nanti. Biar dia tau cerita ibunya juga 😉 Dari saya langsung, dan punya pendapat sendiri tentang saya. Apapun itu. Bukan dijejali pendapat orang-orang.

Dan karena saya cuman tahu menulis sebagai sarana menyampaikan apapun yang ingin saya sampaikan SEKARANG untuk dibaca NANTI, jadi ya blog inilah yang jadi sarana :D. Yang tidak terlalu privacy, tentu. Yang privacy? Saya tulis di tempat lain, maaf, bukan konsumsi publik 😉 Jadi mulai sekarang blog ini isinya juga akan ada nostalgi(L)a pengalaman saya. Nggak ada kronologis waktu, yang kebetulan saya ingat, akan saya tulis. Ini untungnya punya blog sendiri, suka-suka mau nulis apa hehehe

September 2002

Saya lulus S-1 dari FEUI jurusan Studi Pembangunan, konsentrasi Ekonomi Sumber Daya Alam. 5 tahun kuliah. Banyak cerita, yang mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Ada tawaran untuk kerja di sektor swasta, tapi saya lebih memilih kerja di NGO lingkungan hidup, Conservation International. Saya udah mulai jadi volunteer kemudian jadi staf temporer di situ dari tahun 2001 (atau 2000, lupa!). I like the job, the people, the environment. Sambil kerja, saya udah niat, mau sekolah lagi. Kemana? Tujuannya Eropa. Saya nggak suka USA (maaf buat yang suka…tapi itu benua terakhir yang saya minati untuk kunjungi, kalau sudah tidak ada benua-benua lain yang bisa dijelajahi ;)). Saya mau kuliah, sambil jalan-jalan (kenyataan yang kemudian terjadi adalah jalan-jalan sambil kuliah, hahaha!). Europe is  heaven for backpacker. I must go there! Negara apa? Jerman – saya nggak bisa bahasanya. Prancis – idem! Saya cuman bisa bahasa Inggris. Jadi pilihan makin sempit, Belanda (yang memang banyak punya program berbahasa Inggris, dan penduduknya juga terbuka berbahasa Inggris) atau Inggris. Mulai cari-cari info. Apply STUNED (beasiswa untuk ke Belanda) dan Chevening (beasiswa untuk ke Inggris).

Ada perbedaan antara dua beasiswa itu. Kalau STUNED, kita apply ke universitasnya dulu. Baru setelah universitas menerima kita, acceptance letternya kita gunakan sebagai salah satu syarat mendaftar beasiswa. Kalau Chevening, daftar beasiswanya dulu, baru cari universitasnya. Mulailah saya sibuk cari info sekolah di Belanda. Saya pengen belajar kebijakan, public policy. Entah mengapa, dengan kenaifan saya waktu itu, menurut saya cara terbaik untuk memperbaiki dan memberi sumbangsih untuk negara tercinta ini adalah dengan ‘mengotak-atik’ para policy makernya…Once we have a good policy, dunia akan aman tenteram dan damai 🙂 Nggak ada rakyat kekurangan sembako, susah bayar uang sekolah, sakit nggak bisa bayar obat dll. Oh, I was young…(PS: akhir-akhir ini saya lebih suka kerja di grassroot level euy daripada di tataran kebijakan. Bikin frustasi dan emosi hehehe)

Setelah browsing, di Belanda, (waktu itu) hanya ada dua universitas yang menawarkan program Public Policy. University of Leiden (di Leiden) dan Institute of Social Studies (ISS – di Den Haag). University of Leiden sudah sering saya dengar. Pusatnya study tentang hukum. ISS? Naon? Waktu itu saya cuman membandingkan silabus kedua universitas itu, dan saya kok lebih tertarik dengan ISS. Programnya Public Policy and Management. Saya waktu itu nggak tau, ternyata ISS itu terkenal kalau di kalangan development workers. Spesialisasinya memang development studies, ilmu yang saya suka. Saya juga nggak tau kalau Den Haag adalah kota cantik yang elegant sekali, dan yang paling penting, dekat dari mana-mana, jadi mempermudah saya ketika (kemudian) jalan-jalan. Semuanya mengalir begitu saja. Saya pilih apa yang saya mau, mengikuti kata hati. Ah, saya memang berhutang banyak pada ‘kata hati’ saya. Impulsive? Biarlah…toh selama ini no harm done 🙂

Saya daftar. Tadinya tetap mau daftar keduanya (Leiden dan ISS), untuk jaga-jaga. Soalnya persyaratan pengalaman kerja saya belum cukup. Walaupun udah kerja mulai dari bangku kuliah, tapi saya kan lulus belum 1 tahun? Bidang study itu diperuntukkan untuk level menengah ke atas dalam pemerintahan dan manajemen. Bukan kuli kroco yang hobinya masih main dan cengengesan seperti saya. Iseng, ya coba aja, toh nothing to loose. Tapi yang Leiden akhirnya saya nggak daftar (lupa kenapa…me and my -sometimes- bad memories)

Maret 2003

Kok saya belum dapet juga pemberitahuan apakah saya diterima atau tidak? Teman saya yang daftar bareng udah dikabarin, dan diterima. Nekad, saya telpon ke bagian admissionnya ISS. Jawabannya melegakan: saya diterima, tapi email yang isinya acceptance letter saya ternyata bounce, mungkin karena filenya terlalu besar, jadi ditolak server kantor. Saya beri account email lain. 2 hari kemudian, yes, I got my acceptance letter! Yupiiieee!

Saya inget bangeut deadline STUNED itu akhir Maret (selalu akhir Maret setiap tahun), jadi mulailah saya sibuk buat segala macem. Motivation letter why they should accept me, why Netherlands, why development study, why public policy, recommendation letter, dan segala perintilan lain. Akhir Maret, pas d-day deadline, saya submit aplikasi saya (me and deadline :P)

Ibu saya sedang sakit keras waktu itu. Kanker mulut rahim. Opname di RS berbulan-bulan, saya dan adik-kakak saya juga gantian nginep. Pergi dan pulang kantor dari RS. Mitra Keluarga, Medistra, terakhir Dharmais. Ibu saya dari dulu nggak setuju saya sekolah ke luar negeri. Setelah beliau meninggal, baru bapak saya bilang alasannya. Takut saya kawin sama bule, dan dibawa keluar Indonesia. Hahahaha, what a reason! (tapi hampiiirrrr ya Ma hihihi :p). Herannya, waktu sakit, beliau sudah mulai merestui keinginan saya untuk cari sekolah di luar negeri.

Mei (atau Juni – lupa) 2003

Saya dapet berita kalau saya tidak diterima STUNED. Saya memang sudah siap. Coba lagi tahun depan. Toh, acceptance letter di ISS berlaku untuk dua tahun. Saya juga belum 1 tahun lulus. Umur 24 tahun. Ditambah ibu saya sakit. Yah, memang bukan tahun ini.

8 Juli 2003

Ibu saya meninggal. Itu kehilangan terbesar pertama yang pernah saya rasakan. Tapi saya bersyukur, Mama bisa lepas dari penyakitnya. Bisa kembali ke Sang Maha Segala, yang pasti bisa merawat Mama jauh lebih baik dari kami semua di sini (I wrote once, a really long one, about my mom. Mau publish, pas baca, nangis lagi. Jadi ya nggak tau dimana sekarang. Ntar saya cari lagi kalau masih ada hehehe)

Kira-kira 8-10 hari setelah ibu saya meninggal, dan saya kembali ke Jakarta (ibu saya dimakamkan di Lampung), ada telpon dari STUNED. Saya dapet kesempatan untuk interview lagi. Mereka mempertimbangkan aplikasi saya! Aneh bangeut! Kan saya udah ditolak? Tapi ya saya jalani saja.

Beberapa hari, keluar hasilnya. Saya diterima! Full scholarship to ISS! Leaving Indonesia on August! Ternyata mereka menghitung juga pengalaman kerja saya selama kuliah, yang memang sudah saya jalani 3 tahun lebih.

Saya udah nggak ngerti apa perasaan saya waktu itu. Campur baur. Sedih karena Mama. Senang, excited, nervous, bingung, ambil nggak ya? Saya meninggalkan keluarga saya dalam keadaan begini? Saya bisa tabah ditinggal Mama karena melihat bapak, adik-adik dan kakak-kakak saya juga mencoba tabah. Saya kuat karena ada mereka. Sekarang saya harus pergi? Sendirian? Apa rencanaMu ya Allah…?

Bapak saya bilang saya harus kuat. Pergi, ini kesempatan bagus buat Dedek. Mama juga pasti senang kalau Dedek bisa pergi, bisa dapet beasiswa (ah, saya jadi ingat betapa gembiranya Mama waktu saya dapet beasiswa SMA, juga waktu saya lulus UMPTN dan tidak harus jual mobil untuk biaya kuliah).

Mungkin ini memang rencana Tuhan. Tuhan tahu apa dan kapan yang terbaik buat kita. Saya ditolak dulu beasiswanya, biar bisa nungguin Mama sampai Mama meninggal.

Masih seperti mimpi, saya memutuskan untuk berangkat. Mempersiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan. Ngurus resign dari kantor. Pamit ke keluarga besar. Belanja koper dan keperluan lain. Browsing cari info kehidupan macam apa yang akan saya temui di sana. Semua saya jalani antara sadar dan tidak. Seperti mimpi. Pengurusan visa yang sempat memakan waktu lama dan membuat keberangkatan saya tertunda. Semuanya.

Akhirnya, September 2003, I was leaving for Netherlands ! Den Haag, to be exact!

PS: Beasiswa Chevening sempat saya ikuti prosesnya. Udah sampai tahap interview. Tapi saya nggak dateng. Soalnya Chevening itu apply tahun ini, berangkat tahun depan. Kalau STUNED, apply tahun ini, berangkat tahun ini. Saya kan kalau moodnya udah hilang, udah males 😛 Untung juga ternyata berangkat pas umur 24 tahun, tiket murah di Eropa (untuk youth) hanya berlaku sampai umur 26 tahun. I still have lots of time. Pas! 😀

February 1, 2009 at 8:24 am 3 comments

30 weeks

outside

30-weeks

inside

pipiku tembem, I wonder where it comes from 😉

ganteng-ya

sleepy…hoaaahmmmm…

(hobiku kalau siang tidur, kalau malem begadang nendang-nendang)

ngantuk

ngemut jari

ngemut-jari

pusiiiinnnggg…

(mirip bapakku kalau lagi ada network error di kantornya hehehe)

pusing-ada-trouble-di-kantor

hayoooo…am I a baby boy or girl? 😉

ini-apaku-hayooo

January 13, 2009 at 4:48 am 7 comments

annual (financial) check up

financial-image

Mumpung masih bulan Januari, kita check up tahunan yuk..Jangan cuman kesehatan badan aja, kesehatan keuangan juga harus di-check up lho. Ibaratnya lagi mau road-trip dari Jakarta ke Bali, apa kita masih di jalan yang benar? Kita lewat jalan tol (fast track) atau lewat jalan macet? Harus terus atau take a U-turn? Biar nyasarnya (kalau nyasar) nggak kejauhan 😉

1. Rasio cicilan hutang

Hari gini kayaknya jarang yang nggak punya hutang ya…Mulai dari cicilan kartu kredit, beli mobil/motor, sampai KPR/KPA. Lalu, cicilannya bagaimana? Rasio cicilan hutang yang baik adalah maksimal 30-35% dari penghasilan. Jadi kalau sekarang cicilan hutang Anda masih lebih dari rasio itu, ada 2 alternatifnya: lunasi hutang secepatnya (jual asset, hemat pos pengeluaran yang lain, dan jangan buat hutang yang baru) atau cari tambahan penghasilan lain.

2. Dana darurat, udah berapa?

Kalau urusan hutang udah beres, periksa kondisi ‘pundi-pundi’ yang isinya dana darurat yuk. Udah berapa banyak? Kalau di-PHK atau kehilangan sumber penghasilan, bisa bertahan hidup sampai berapa bulan? Idealnya, dana darurat ini besarnya 3-6 kali penghasilan bulanan (untuk yang single) atau 6-12 kali penghasilan bulanan (untuk yang sudah berkeluarga). Kalau belum ada dana darurat sama sekali? Ya harus mulai menabung, mau nggak mau alokasikan sebagian penghasilan untuk mengisi ‘kantong’ ini. Kalau belum ada dana darurat, lebih baik jangan investasi dulu. Kalau ada apa-apa, nanti investasinya jadi harus diambil, padahal kan investasi untuk jangka panjang. Nanti malah rugi.

3. Investasi

Kalau dana darurat udah aman, ayo mulai investasi! Menurut para financial planner, katanya rasio yang pas untuk investasi ini sekitar 25% dari gaji. Hayooo, udah segitu belum?

4. Kebutuhan bulanan

Berapa besar kebutuhan bulanan setiap individu/keluarga pasti beda-beda. Tergantung jumlah penghasilan, jumlah anggota keluarga dan gaya hidup. Kalau idealnya, jumlah pengeluaran bulanan itu jangan lebih dari 45% dari penghasilan (untuk yang sudah berkeluarga) dan jangan lebih dari 25% untuk yang masih single.

5. Asset oh asset…

Saya juga baru tau dari acaranya Aidil Akbar di O-channel, kalau idealnya kita harus punya asset yang nilainya sebesar:

Penghasilan setahun x usia : 10

Jadi misal penghasilan setahun 100 juta, usia 30 tahun, idealnya harus punya asset sebesar:

100 juta x 30 : 10 = 300 juta

Nah, berapa asset yang Anda miliki sekarang?

Semoga tahun ini kondisi keuangannya lebih sehat.

HAPPY NEW YEAR !!!

January 12, 2009 at 6:26 am Leave a comment

Older Posts Newer Posts


Categories

…recommended…

...photos...photos...

…i am part of…

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

...since january 3, 2008...

  • 118,239 hits