Posts filed under ‘inspiration and motivation’

you DO have a choice

Buka puasa, ngobrol ngalor-ngidul, ada teman yang bertanya soal rencana saya setelah melahirkan nanti (amien…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…). Rencana? Ya, rencana…apakah akan terus bekerja, atau berhenti dan mengasuh anak.

Saya bilang saya belum tahu. Masih 6 bulan lagi, ntar aja saya pikirin 😉 Teman saya, yang mungkin ternyata mengenal saya lebih baik dari yang saya kira (hehehe, sorry dude!) bilang nggak mungkin saya nggak punya rencana.

Jujur, saya memang nggak punya.

Yang pasti, akhir Desember nanti saya memutuskan berhenti dari salah satu pekerjaan saya. Jadi, waktu saya hamil 7 bulan nanti (insya Allah…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…), otomatis saya ‘hanya’ mengerjakan 1 pekerjaan, yang bisa dikerjakan dari rumah pula.

Lalu, setelah pekerjaan itu selesai? (it’s a consultancy job, doing one cost-benefit analysis, economic study for 1 year)

Saya bilang, saya belum tahu.

Kalau saya bisa cukup hemat menabung, seharusnya tabungan saya setahun ini cukup untuk saya setahun ke depan tanpa harus bekerja. Ditambah uang jajan dari Rahman (hehehe, curang ya saya…udah punya penghasilan sendiri, masih dikasih uang jajan :P), harusnya lebih dari cukup, tanpa harus menurunkan standard dan gaya hidup. Itu dari segi keuangan. Dari segi aktualisasi diri dan kebutuhan lahir-batin saya yang nggak bisa diam? Nah, ini dia yang jadi pertimbangan utama.

Yang pasti, saya mau ngasih ASI dan stimulus ngajarin anak saya macem-macem sampai minimal 2 tahun (insya Allah…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…). Dan yang pasti juga, saya harus tetap punya penghasilan sendiri. Jadi keputusan apapun yang (nanti) saya ambil, harusnya bisa mengakomodir 2 hal itu 😉

Lalu, pekerjaannya apa? tanya teman saya itu, lagi.

Saya belum tahu. I’ll just cross the bridge when I get there, kata saya. Rejeki ada di mana-mana, dan nggak mungkin ketuker. Sekarang saya masih ada saluran rejeki saya. Untuk nanti, ya nanti saya cari. Toh, selama ini saya juga cukup sering berhenti dan pindah kerja. Cukup sering juga dapet rejeki di luar pekerjaan utama 🙂 Positive thinking aja, kalau nanti akan selancar sekarang (insya Allah…amien…amien…).

Ada teman yang lain ikut nimbrung (kok saya jadi seperti disidang ya :P)

“Lo enak Dek. Punya pilihan. Bisa milih mau ngapain. Lha, kita? Mau pindah kerjaan aja susah banget nyarinya,”

Saya diam. Tapi mikir.

Benarkah tidak ada pilihan?

Sampai detik ini (dan semoga sampai berpuluh-puluh tahun mendatang), saya selalu percaya bahwa hidup adalah pilihan. Dan kita selalu punya kesempatan untuk memilih.

Ada cerita seorang teman. Single-parent, dengan 1 anak balita. Dia sudah single-parent sejak mengandung dan melahirkan anaknya (nggak usah dibahas kemana suaminya. Semoga pria b*ngs*t itu dil*kn*t seumur hidupnya, amien…). Saya tahu perjuangannya mengandung, melahirkan, dan bekerja keras setiap hari untuk anaknya. Hebatnya, dia masih bisa kuliah lagi, sambil bekerja dan mengasuh anaknya. Sekarang dia memutuskan untuk berhenti bekerja, agar bisa punya waktu lebih banyak untuk anaknya. Memutuskan untuk mengerjakan apa saja (iya, apa saja. Mulai dari jualan sampai jadi calo) agar anaknya tetap bisa makan dan sekolah.

Saya salut. Sebagian besar orang mungkin akan mikir bahwa mereka NGGAK PUNYA PILIHAN, selain terus bekerja, walaupun mereka nggak suka dengan pekerjaannya. Tapi dia? Dia berani memutuskan sesuatu yang menurutnya memang terbaik untuknya. Walaupun memang akan selalu ada pengorbanan.

Ada cerita tentang seorang tercinta lagi. Saya kaget luar biasa ketika dia memutuskan untuk pindah dan bekerja di luar Jakarta (di luar Pulau Jawa bahkan). Dia punya alasan sendiri, saya tahu. Saya hanya tidak bisa mengerti. Berjauhan dengan suaminya, padahal saya tau ada tawaran pekerjaan di Jakarta yang dia tolak. Kenapa? Sampai sekarang saya nggak tau. Yang saya tau, dia bilang dia senang di sana. Jauh dari polusi, nggak ada macet. Jam empat sudah bisa pulang kantor. Makan siang pulang. Anaknya bisa terus minum ASI (you know who you are. Miss you mbak…). Ahhhh…lagi-lagi pilihan…

Cerita lagi.

Kali ini tentang seorang sahabat yang sangat mendamba untuk punya anak. Awalnya nggak. Tapi setelah menikah hampir 10 tahun, dan belum juga punya anak, dia mulai resah. Periksa dokter, katanya kesehatannya bagus. Mungkin karena load pekerjaan yang terlalu banyak, stress, jadi terbawa ke hormon. Lalu? Dia berhenti kerja. Total program untuk hamil. Walaupun itu berarti harus merubah banyak hal, berkorban banyak hal, tapi itu pilihan kan?

Ah, saya udah terlalu panjang cerita.

Semoga saya juga selalu ingat kalau:

There are always choices.

Even when you choose not to choose anything. But THAT IS YOUR CHOICE!

September 4, 2008 at 5:23 am 8 comments

Michael Jordan’s 10 Success Secrets

1. Take Responsibility

“Some people want it to happen, some wish it would happen, others make it happen.”

Throughout his life, Michael Jordan had the honorable quality of taking responsibility for his own destiny. That means that he took action while others paused to ask questions, gather more data, or consult experts. Not that he didn’t have mentors, but essentially it was his wrists that snapped the ball into the hoop.

2. Give It A Try

“I can accept failure, everyone fails at something. But I can’t accept not trying.”

One of the biggest causes of procrastination is the problem of hesitation. Sometimes people over think, and over analyze, which prevents them from taking that first step that will carry them one thousand miles. If
you want to increase sales by trying a new technique, you will never know unless you try. This can apply to baking cakes, meeting singles, or anything that you can wrap your mind around.

3. Fail Freely

“I’ve missed more than 9,000 shots in my career. I’ve lost almost 300 games. 26 times, I’ve been trusted to take the game winning shot and missed. I’ve failed over and over and over again in my life. And that is why I
succeed.”

Can you believe that Michael Jordan missed so many shots and lost so many games? I thought he was the best! Well, he is indeed the best, and it’s because he was willing to fail, and keep going. That allowed him to get past his plateaus and persevere. That’s another big reason for procrastination. When we think we’ll fail, we do not attempt. A good solution is to consider what the worst case scenario of failing would be, because once you do that, it’s never as bad as when the scenario was an unknown. Worst-case scenario is not that you’ll die, it’s that you lived a miserable (or comfortable) life as a coward.

4. Commit Yourself

“The game is my wife. It demands loyalty and responsibility, and it gives me back fulfillment and peace.”

Till death do we part, just me and my goal. I know in my heart that this is my role. When you give yourself fully and remove all other distractions you gain an invaluable level of attention to detail that will pool in
resources you did not know you were capable of harnessing.

5. Enjoy Your Game

“Just play. Have fun. Enjoy the game.”

So many people get stuck in dead end, zero-sum, no fun jobs because they didn’t find their love, or just simply don’t have the knack for taking pleasure in what they have. Consider the fact that you spend more time in your place of work than you do in your place of worship and with your family combined. By not being excited about, or getting full enjoyment out of work, you are cheating yourself from having a life of design and a life of fulfillment. I don’t have a solution for your life, but I think you know which sacrifices you need to make, and are willing to make, in order to have the life of your dreams become your reality.

6. Play To Win

“I play to win, whether during practice or a real game. And I will not let anything get in the way of me and my competitive enthusiasm to win.”

Why bother playing the game of basketball, work, or life if you aren’t planning to win? Do you even know what a statistically relevant way of measuring your personally defined “win” would look like? If you’re in the
game to make money does winning mean being the richest man in the world? If you’re in the game for your family does that mean that you see them often and share the joys of life over a vibrant laugh? Whatever your game is, make sure you define what a win looks like, and play to win.

7. Be Selfish and Humble

“To be successful you have to be selfish, or else you never achieve. And once you get to your highest level, then you have to be unselfish. Stay reachable. Stay in touch. Don’t isolate.”

Take notes from Michael Jordan, first be selfish until you get on top, and once you are on top be humble and grounded. Being selfish in how you jump over people and slam dunk in their face, whether you are an athlete or business person. In a family setting this would mean taking care of your personal health before worrying about the well-being of your family. If you let your health fail you are of no use, or even worse a burden, to your family. This is why in case of an air plane emergency they tell you to put the air mask on yourself first and then on your children.

8. Find Your Way Around

“Obstacles don’t have to stop you. If you run into a wall, don’t turn around and give up. Figure out how to climb it, go through it, or work around it.”

Anything in life that is dear to us is worth so much because of the time and effort we put into acquiring it. This goes for championships, businesses, and most importantly our relationships. One thing that determines how hard we’ve had to work is the amount of obstacles that were thrown in our way. Next time there’s an obstacle, don’t let it hinder you, think about the fact that whatever you’re trying to reach will be that much worth it on the other side.

9. Make Your Own Expectations

“If you accept the expectations of others, especially negative ones, then you never will change the outcome.”

The number one thing that will literally ruin your life is if you live it by someone else’s expectations. Every single person is different and has their own views on what’s best, which follows what their goals are in this
life. By listening to the voices of others, instead of your own voice, you are effectively submitting to live your life for the sake of accomplishing their goals. Set your own expectations, meet your own goals, and live your
own extraordinary life (or don’t).

10. Now, Take One Shot

“I never looked at the consequences of missing a big shot . . . when you think about the consequences you always think of a negative result.”

The way this applies to life is quite simple. Much of the time we look too far into the future, while performing a task that needs our full attention right now. This act could take away our focus, paralyze us from taking action, and take away the pleasure of doing what is at hand. In life you can take one shot at a time, then another, and from this all your dreams will come true. At least that’s what works for Michael Jordan.

July 18, 2008 at 4:34 am Leave a comment

quote

Kesuksesan kita 5 tahun ke depan ditentukan oleh apa yang kita baca (ilmu dan wawasan), siapa yang kita kenal (networking dan silahturahim) dan bagaimana kita mengaplikasikannya (praktek dan ikhtiar) – Eko June, TDA

July 9, 2008 at 4:10 am Leave a comment

belajar dari brownies gagal

Being a Monday-traffic-hater (ja, ja, it’s getting worse and worse every week huhuhu), there is no (not even one strongest) reason can push me to work on that day. So, I choose not to work every Monday.

Last Monday, staying at home, I decide to try another new recipe, it’s BROWNIES this time. Actually, the reason is simple, I got an order for my chocolate fountain last weekend, and I still have lots of dark chocolate left. So? It’s brownies then 🙂

Ada resep untuk brownies kukus dan brownies standard (yang dibakar itu). Saya lebih suka yang dikukus, lebih empuk soalnya, dan rasanya lebih eksotis menurut saya (halah, apa sih Dek? Lagi-lagi alasan yang tidak penting!). Akhirnya saya memutuskan buat brownies kukus.

Dari sederet bahan-bahan, saya ternyata nggak punya meises, yang harusnya ditaburkan di tengah adonan (kebayang kan brownies kukus, yang di tengah-tengahnya seperti ada lelehan coklat? Itu meises yang mencair setelah dikukus). Akhirnya saya ganti dengan selai kacang (lagi-lagi, lengkap dengan chunkynya nyam!) dan saya kasih lagi kacang mede (saya beli kacang mede sekilo, udah buat macem-macem dari muffin, pancake, cookies, sampe brownies, masih belom abis juga. Hebat!).

Aduk-aduk-aduk. Nggak sreg dengan takaran coklat cair di resep, kurang banyak, saya tambah lagi. Aduk-aduk-aduk. Beres. Tinggal dikukus.

Menurut resep harusnya lapisan pertama dikukus 15 menit, taburi meises, kukus lagi 20 menit. Tapi kok brownies saya sampai 1 jam belum mateng-mateng? Enak sih, tapi kok jadinya lempes? Kok nggak kayak di gambar? Boro-boro kayak brownies kukus Bandung yang melegenda itu. Apa karena coklat cair saya kebanyakan? Kurang tepung?

Satu setengah jam. Saya nggak sabar. Akhirnya saya angkat. Cicip. Enak. Tapi kok penampilannya ‘layu sebelum berkembang’ begini ya?

Akhirnya saya coba masukan ke oven. Bakar aja deh, barangkali jadi lebih bagus.

25 menit. Dan begitu saya keluarkan dari oven, YES!!! Browniesku tampak sempurna! Senangnyaaaaa!!! Apalagi waktu saya cicip. Saya nggak suka brownies yang keras (brownies terenak menurut saya adalah yang ada di sini, moist, hangat, dan ada pecannya, nyam!), dan ternyata brownies gagal saya tadi luarnya krenyes, dalamnya moist. Enak! Wah…wah…wah…saya jadi merasa jago sekali hehehe

Saya jadi berpikir. Seringkali dalam hidup, saya ketemu atau melakukan hal-hal yang kemudian ternyata hasilnya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Ya, gagal atau apapun itu namanya. Ada panduan, tapi di tengah jalan suka sok pinter eksperimen, akhirnya jadi malah gagal. Sudah usaha susah-susah, menghabiskan energi-waktu-dan uang yang tidak sedikit, dan ternyata…belum berhasil. Rehat sejenak mungkin perlu. Tapi memutuskan untuk berhenti? Hmmm, maybe it’s not a good idea.

Saya percaya hukum kekekalan energi. Energi APAPUN yang kita lepaskan ke alam semesta ini tidak akan hilang lenyap tanpa bekas begitu saja. Tapi berubah bentuk jadi energi lain, and if we keep on trying, those energy might helps us at the end…

Kalau kata pepatah, ibarat nasi telah menjadi bubur. Tapi masih bisa dijadikan bubur ayam yang enak, bukan? Dikasih cakwe, cheese stik, taburan bawang, kecap…duh, saya jadi pengen bubur barito 😛

Atau ibarat brownies kukus tadi, walaupun awalnya gagal, tapi masih bisa diperbaiki jadi bentuk lain, dan ternyata lebih enak…

Besides, sometimes I do think, that maybe it is God’s way of saying that brownies bakar is better for me than brownies kukus 🙂

carpe diem,

.dedek.

PS:

Tentang hukum kekekalan energi yang dikeluarkan itu, menurut saya berlaku tidak hanya untuk energi positif (yang hasil kembalinya akan positif juga) tapi juga berlaku untuk energi negatif yang kita lepaskan, yang hasilnya akan jadi negatif juga. So, better be careful on your energy 🙂

June 11, 2008 at 3:24 pm 2 comments

life is too short…

Picture from ndesign-studio.com

…to be sad

…to waste time hating people

…to live it just for you

…to stay mad for too long

…to obsess

…to wake up in the morning with regrets

…to be bitter about someone or something

…to be afraid

…to have drama and stress

…to spend it alone

…to be wasted away

…to care about appearance more than what’s inside

…to live the same day twice

…to be taken seriously

…to be unhappy

…to do the wrong job

…get upset at small things

…to worry about what other people think about you

…to worry about weight and wrinkles

…to worry about yesterday

…to worry about everything (yes, include to worry about how short life is :))

Whether it’s business or baseball, or the theater, or any field. If you don’t love what you’re doing and you can’t give it your best, get out of it. Life is too short. You’ll be an old man before you know it.” – Al Lopez

Family means too much, Friends are too valuable, And life is too short, To put-off sharing with people, How much they really mean to you, And pursuing whatever it is that makes you happy.” –

Forgive, forget. Bear with the faults of others as you would have them bear with yours. Be patient and understanding. Life is too short to be vengeful or malicious.” – Phillip Brooks

Life is too short to be small.” – Benjamin Disraeli

“Life is too short not to make the best and the most of everything that comes your way everyday” – Sasha Azevedo

Life is too short to be spent griping about the past,
griping things you don’t have,
places you haven’t seen,
things you haven’t done.

Life is too short to be spent
holding grievances against another,
finding fault in your brother, counting the wrongs done on you – Tricia Mae Chua

Yeahhh…life is just too short for not being happy…

ENJOY LIFE 🙂

compiled from many sources, includes my own


June 8, 2008 at 2:31 pm 3 comments

selai kacang untuk anak jalanan

Saya berhenti memberi anak-anak jalanan uang receh sejak tahun lalu. Banyak alasannya, termasuk salah satu yang terkuat adalah bahwa uang-uang itu mereka gunakan untuk nge-lem (istilah untuk mabok dengan menggunakan lem aibon yang dihirup sampai mereka mabok. Mabok murah meriah).

Sebagai gantinya, mobil saya isi dengan keripik, biskuit, coklat yang saya bagikan setiap bertemu mereka. Mereka senang. Saya juga. Setidaknya, saya yakin mereka dapat makanan yang lebih baik. Bergizi? Saya kurang yakin juga sebenarnya. Keripik full MSG itu? (tapi enak sih ya, saya juga suka hehehe). Tapi untuk memberi mereka nasi bungkus setiap hari, saya belum sanggup. Karena keterbatasan waktu, terutama.

Diskusi nggak penting saya dengan ekonom senior di tim kami, ngalor-ngidul ke Muhamad Yunus (ooo…how I love this guy!) dan program activianya. Terus jadi ke selai kacang. Menurut si bapak konsultan senior dari Belanda itu, selai kacang sangat baik untuk anak-anak. Anak-anak yang gizi buruk, lebih baik diberi selai kacang. Kebutuhan gizinya terpenuhi.

Saya mulai browsing untuk cari-cari tau soal selai kacang ini. Walaupun menurut beberapa situs kesehatan, selai kacang bisa menimbulkan alergi bagi anak di bawah umur 2 tahun, tapi plain peanut butter provides a good source of protein and healthy (mono-unsaturated) fats. Healthier alternatives include reduced fat, reduced sugar, and flaxseed enriched. Flaxseed gives the butter some added flavor while providing omega 3 and 6 fatty acids. These oils promote cardiovascular health and joint support (from helium.com).

And here is another one: the best reason is that most younger children, even those who are very picky eaters, like eating peanut butter and it is a ‘good’ food, being high in protein, having plenty of calories, no cholesterol, and being rich in vitamins and minerals, including iron, Vitamin E and B Vitamins. Combine some peanut butter thinly spread on a piece of white bread, and you are also getting your child lots of calcium too (from the bread).

Di situs lain lagi, saya liat kalau lebih baik peanut butter yang tanpa potongan kacang (jadi yang halus saja) agar anak tidak tersedak.

Voila!

Saya jadi dapat ide. Saya kasih aja anak-anak jalanan itu roti tawar isi selai kacang.

Praktis, dan anak mana yang gak suka selai kacang? Nyammm…!

Roti selai kacang dan susu kemasan dalam satu paket. Bergizi kan?

Ini perhitungannya untuk setiap paket:

Roti tawar isi 10 Rp 7.000 @ Rp 700

Selai kacang, kalau gak salah saya beli harganya 7000 juga, bisa buat 7 kira-kira @ Rp 1000

Susu (ada tuh, ultramilk buat yang versi kemasan ekonomis. Rasanya enak kok) @ Rp 1500

Berarti per paket (isi selai kacang dan susu) @ 3300

Berapa 2.5% dari gaji Anda sebulan? 😉

Mungkin ini bisa jadi salah satu alternatif biar anak Indonesia sehat-sehat ya…amien…

PS:

Saya menemukan cara enak makan selai kacang dari murid privat saya dulu, bule umur 9 tahun. Begini caranya:

Celupkan sendok makan ke selai kacang (lebih enak yang ada chunkynya hehehe). Setelah sendok makan penuh dengan selai kacang, celupkan lagi sendok itu ke mesis. Kalau saya, saya masukin lagi ke susu bubuk. Nanti makannya kayak makan lollypop. Nyammmmmmmmm bangeut! Cobain deh!

June 5, 2008 at 3:42 am 8 comments

comfort zone: ketika hidup serasa di jalan tol

From wikipedia: a comfort zone denotes that limited set of behaviors that a person will engage without becoming anxious. Alternatively denoted as a “plateau” it describes that set of behaviors that have become comfortable, without creating a sense of risk.

Kali ini cerita tentang seorang sahabat. Yang sangat saya sayang. Teman berbagi untuk banyak hal.

Dia sedang gundah. Bekerja di perusahaan yang sama selama hampir 6 tahun, dan sekarang mulai jenuh. Bukan sekarang sebenarnya. Sudah lama saya mendengar cerita kebosanan dan kejenuhannya.

Hebatnya, dia masih sanggup bertahan. Salut saya. Tidak seperti saya yang sering berpikir pintas. Bosan, kesal dengan suasana kerja yang tidak kondusif, berhenti, cari kerjaan baru. Saya harus belajar banyak dari dia.

Dalam rangka belajar, menyerap energinya (siapa tau saya jadi ketularan betah di satu tempat kerja? :)), saya tanya kenapa dia mau bertahan. Yang saya tau, 2 tahun lalu, kebosanannya benar-benar memuncak, dan dia memutuskan untuk melamar pekerjaan lain. Diterima. Tapi toh, tetap saja, sahabat saya itu memilih untuk tidak mengambil tawaran pekerjaan baru itu, dan kembali ke pekerjaan lamanya. Kembali ke rutinitasnya. Dan kembali ke kebosanannya.

Kenapa?

Katanya dia takut. Dia merasa sekarang sudah di kantor yang enak, terjamin, dan dia takut untuk mencoba lagi di tempat yang baru. Mungkin kalau menurut ilmu ekonomi yang masih saya ingat, opportunity cost untuk memulai di tempat yang baru terlalu besar.

COMFORT ZONE.

Siapa yang tidak ingin hidup nyaman? Saya punya beberapa teman, yang sepertinya waktu kuliah, benar-benar anti kemapanan (hahaha…you know who you are!). Tapi saya percaya, semua orang berubah. Karena waktu, tekanan pengaruh lingkungan, persoalan, pengalaman hidup. Banyak hal. Dan naluri ilmiah manusia pastilah suatu waktu akan mencari kenyamanan bin kemapanan itu.

Lalu? Kenapa saya sering pindah-pindah kerja?

Sejak kapan pindah kerja dihubungkan terbalik dengan kemapanan?

Saya merasa masih muda (hahahaah…). Kalau sekarang saya memuaskan ego saya untuk pindah-pindah kerja, yang rugi hanya saya. Itu juga saya nggak merasa rugi kok 🙂 Berdasarkan pengalaman saya yang belum seberapa ini, akselerasinya malah jadi jauh lebih cepat, daripada saya tetap di satu organisasi yang sama. Keuntungan lain: network. Networking saya jadi makin banyak dengan pindah-pindah kerja ini. Lagipula, saya tidak suka terlena dengan kenyamanan yang sudah saya terima selama ini. Akuilah, makin lama kita bekerja di satu tempat, makin kenal dekat dengan orang-orangnya, makin mengerti dan paham pekerjaannya, kita pasti akan merasa nyaman bukan? Apalagi gaji cukup, tunjangan menjanjikan, apalagi?

CHALLENGE.

Saya selalu merasa kurang tertantang dengan pekerjaan yang sudah saya tekuni cukup lama. Kalau tidak ada tantangan baru, otak jadi stagnan, dan kita seperti katak dalam tempurung yang tidak tau perkembangan dunia di luar sana. Ketika kita merasa nyaman, seringkali kita jadi terlena, merasa diri sudah maju padahal kita seperti lari di treadmill. Tidak kemana-mana…

Jangan salah.

Saya penganut paham hidup nyaman. Apa gunanya kita bekerja keras kalau salah satunya tidak digunakan untuk membuat hidup lebih nyaman, bukan? Hidup nyaman juga salah satu anugerah yang musti disyukuri, karena tidak semua orang bisa mendapatkan hal itu. Tapi jangan terlena. Kalau hidup ibarat sebuat perjalanan. Ketika kita ada di comfort zone, hidup serasa di jalan tol. Lurus, mulus, bisa ngebut tanpa buat perut murus 😉 Tapiiiii…jalan tol yang terlalu panjang juga membuat ngantuk. Membuat kita tidak waspada. Dan karena tidak siap, akibatnya malah lebih fatal. Seperti kejadian tabrakan beruntun di jalan tol.

Daripada saya nulis panjang lebar soal ini, lebih baik saya cerita.

Tentang dua ekor kodok. Yang pertama, dimasukkan ke dalam panci berisi air panas mendidih. Apa yang terjadi? Sang kodok panik, kaget, dan serentak loncat keluar dari panci. Lalu ada kodok yang kedua. Kodok dimasukkan ke dalam panci yang berisi air dingin, lalu perlahan-lahan panci dipanaskan sampai mendidih. Apa yang terjadi? Mulanya sang kodok menikmati air dingin tersebut. Ketika ia sadar kalau airnya sudah panas mendidih, semua sudah terlambat, ia sudah tidak punya cukup tenaga untuk keluar dari panci tersebut. Saya rasa semua mengerti inti dari cerita itu: Itulah yang akan terjadi jika terlena dalam kenyamanan, sementara kenyamanan tidak selamanya mau bersahabat dengan kita.

Ada satu tulisan bagus yang saya baca dari lifehack.org (this is a great site, full of inspiring articles, love it!), about this comfort zone thingy.

“Over time, we all gather a set of constricting habits around us-ones that trap us in a zone of supposed comfort, well below what our potential would allow us to attain. Pretty soon, such habits slip below the level of our consciousness, but they still determine what we think that we can and cannot do-and what we cannot even bring ourselves to try. As long as you let these habits rule you, you’ll be stuck in a rut.”

TAKUT?

Ada lagi tulisan yang saya suka.

Nobody’s born with an instruction manual for life. Despite all the helpful advice from parents, teachers and elders, each of us must make our own way in the world, doing the best we can and quite often getting things wrong. Messing up a few times isn’t that big a deal. But if you get scared and try to avoid all mistakes by sticking with just a few “tried and true” behaviors, you’ll miss out on most opportunities as well. Lots of people who suffer from boredom at work are doing it to themselves. They’re bored and frustrated because that’s what their choices have caused them to be. They’re stuck in ruts they’ve dug for themselves while trying to avoid making mistakes and taking risks. People who never make mistakes never make anything else either.

Enough the talking, I guess you got the point already:

When needed, get out your comfort zone, and enjoy the bumpy ride!!!

HAVE FUN !!! 🙂

PS:

Tulisan ini saya buat BUKAN karena saya sedang berpikir untuk mengundurkan diri dari organisasi yang seharusnya mempekerjakan saya, dan mencari pekerjaan lain (lagi hehhee), tapi karena alasan ketakutan meninggalkan comfort zone, makin sering saya dengar akhir-akhir ini.

May 16, 2008 at 3:52 am 3 comments

masih mau yang instant?

dangdut-mania.jpghihihi…ketauan ya saya sedang tergila-gila dengan ‘PROSES’? 😉 Tapi, instant kalo makanan enak kok…Indomie goreng, ayamnya KFC, fillet-o-fishnya Mc D, nyaaaammmm…!!!

KISAH SELEBRITI GAGAL
Kompas Minggu, 30 Maret 2008

Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai “selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.

Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. “Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.

Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.

Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.

Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. “Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.

Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.

Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. “Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan “goyang suster ngesot”.

Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. “Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya. Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. “Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.

Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. “Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.

Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. “Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.

Korban mimpi
Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.

Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.

“Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.

Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. “Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.

Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. “Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.

Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. “Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”

Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. “Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.

Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.

April 1, 2008 at 5:01 pm 2 comments

memilih

Dari Pak Fauzi Rahmanto, yang tulisannya selalu saya kagumi

===============================================

girl-with-glass-cartoon.jpg“Our lives are a sum total of the choices we have made.” — Dr. Wayne Dyer

Alangkah beruntungnya manusia.

Tuhan memberi kesempatan untuk menjalani setiap detik dalam hidup kita dengan pilihan. Dari bangun tidur, sampai kita tidur lagi, kita dapat memilih. Begitu bangun di pagi hari, Anda dapat memilih untuk langsung bangun dan beraktifitas, atau memilih untuk bermalas-malasan di tempat tidur. Di pagi hari, Anda dapat memilih untuk menyapa anak, istri dan keluarga di rumah dengan semangat dan senyuman, atau cemberut dan mengomel bahwa Anda kesiangan. Sambil sarapan, Anda dapat memilih untuk berbicara dengan anak Anda tentang sekolahnya, membaca berita buruk di koran, atau nonton gossip artis di TV. Di kantor, Anda dapat memilih untuk memulai menyelesaikan pekerjaan Anda, atau sekedar chatting dengan teman-teman Anda di kantor lain. Dan seterusnya. Pendek kata: Anda memiliki pilihan.

Dahsyatnya kekuatan pilihan, dapat Anda lihat dari kehidupan orang-orang sukses. Dunia teori fisika tidak akan diperkaya dengan “radiasi Hawking” seandainya Stephen Hawking memilih untuk menyerah ketika mendapati dirinya lumpuh akibat amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Entah bagaimana wajah industri software komputer saat ini, kalau saja Bill Gates memilih untuk melanjutkan kuliah dan membuang mimpinya merintis perusahaan perangkat lunak bersama Paul Allen. Mungkin tim balap Formula 1 dan produsen mobil sport terkemuka Ferrari tidak akan pernah ada, kalau saja Enzo Ferrari memilih untuk cukup puas menjadi karyawan Alfa Romeo.

Lalu apakah dengan demikian kita harus menunggu untuk membuat sebuah keputusan besar sebagaimana Hawking, Gates atau Ferrari? Tidak. Mereka tidak serta merta membuat sebuah keputusan besar. Namun melalui hidupnya dengan pilihan-pilihan kecil yang membentuk keputusan besar mereka di kemudian hari. Bill Gates tidak serta merta memutuskan untuk mendirikan Microsoft. Namun jauh sebelumnya, Gates muda telah memilih untuk mengikuti “ekskul” komputer di SMA nya. Memilih untuk “hang out” dengan Paul Allen dan kawan-kawan untuk mengutak-atik program komputer, memilih untuk berbisnis di usia muda dengan membuatkan program untuk produsen Altair, kemudian IBM PC, dan seterusnya. Pilihan-pilihan kecil yang kemudian membentuk seluruh hidupnya.

Setiap detik adalah pilihan. Dan setiap pilihan, sekecil apapun, menentukan masa depan kita.

Namun, apakah kita sudah benar-benar memahami bagaimana caranya memilih? Sebagai contoh, ketika ada peluang usaha ditawarkan kepada kita, apakah kita memilih untuk serta merta menolak, atau mencoba mempelajarinya dahulu? Di sebuah acara formal, ketika kita melihat ada orang yang dapat memberikan pengaruh positif kepada kita, apakah kita memilih untuk berkenalan, atau malah menunduk malu dan menghindar? Ketika anak kita tidak mengikuti kemauan kita, apakah akan kita hardik dengan amarah, atau coba ajak bicara? Pilihan-pilihan kecil. Namun bisa berdampak besar.

Ya, tapi bagaimana cara memilih? Mengapa kita sering ada dalam situasi yang sepertinya “salah pilih”. Apakah ada teknik untuk membantu dalam memilih? ADA.

Salah satunya yang menurut saya sangat efektif digunakan di banyak bidang kehidupan adalah teknik H-O-W yang diajarkan oleh David Freemantle dalam buku-nya “How to Choose”.

Teknik H-O-W ini terdiri dari tiga bagian:

1. Hesitate (Pertimbangan)

Langkah pertama adalah untuk selalu melakukan pertimbangan sebelum Anda memberikan reaksi. Melakukan pertimbangan berarti tidak memberikan reaksi spontan yang seringkali hanya didorong emosi. Contohnya ketika karyawan Anda ada yang melakukan sebuah kesalahan fatal yang merugikan bisnis Anda, apakah yang akan Anda lakukan: memaki, menampar atau langsung memecat. Itu kalau Anda tidak menggunakan pertimbangan. Pertimbangkanlah. Anda punya pilihan. Diamlah sejenak, untuk masuk ke tahap memilih berikutnya.

2. Outcomes (Hasil)

Sudahkah Anda memikirkan hasil yang akan Anda peroleh. Dan yang lebih penting lagi, hasil apakah yang Anda inginkan dari pilihan yang akan Anda ambil? Ketika raport anak Anda di sekolah demikian jeleknya, mungkin Anda ingin memarahi Anak Anda habis-habisan hingga ia menangis, terluka hatinya, dan hilang rasa percaya dirinya. Itukah hasil yang Anda inginkan? Atau Anda menginginkan anak yang bahagia, optimis, percaya diri, dan buahnya nanti adalah prestasi yang baik? Pikirkan dulu hasilnya, sehingga Anda dapat masuk ke tahap memilih yang ketiga.

3. Ways (Cara)

Kalau sudah ketahuan hasilnya, Anda bisa memperluas pemikiran Anda ke cara-cara yang dapat Anda tempuh. Jika hasil yang ingin dicapai adalah karyawan yang tidak melakukan kesalahan, mungkin Anda bisa mulai menulis aturan perusahaan yang lebih tegas, melakukan pelatihan kembali, atau mungkin sistem dan prosedur perlu dibenahi. Jika anak yang sehat lahir batin, bahagia, optimis, bertanggung-jawab dan percaya diri yang ingin Anda peroleh, maka mungkin Anda bisa mulai memberi kepercayaan, tanggung-jawab dan bimbingan untuk anak Anda. Cara ini dapat Anda kembangkan seluas-luasnya, dan dapat Anda jalankan secara parallel.

Ah, tapi hidup adalah pilihan. Menerapkan teknik ini atau tidak, adalah pilihan Anda.

Selamat membuat pilihan yang lebih baik. (Fauzi Rachmanto)

PS:

Saya impulsive, spontan, dan seabrek sifat sejenis lainnya. Tulisan Pak Fauzi ini saya baca di saat saya benar-benar M.A.R.A.H (dengan huruf besar, tebal, garis bawah, dan warna merah, lengkap kan ekspresi marah saya? :)) karena mendengar cerita tentang saya, yang lagi-lagi tidak benar. Saya heran, saya tidak merasa kenal personally dengan orang itu, hanya kebetulan cerita hidup kami ada yang bertemu, sedikit. Tapi kenapa dia begitu teganya cerita macam-macam? Hanya supaya orang mengasihani dia, dan menyalahkan saya? Saya marah dituduh yang tidak-tidak. Marah sekali. Tapi sekarang, saya memilih untuk DIAM. Marah dan konfrontasi langsung malah hanya akan memperkeruh masalah (terima kasih tulisannya Pak, saya jadi memilih untuk membuat pertimbangan dulu sebelum marah :)). Saya percaya KARMA. Saya masih punya Tuhan, yang tanpa saya minta pun pasti akan memberi balasan yang setimpal atas perbuatan semua orang. Baik ataupun buruk. Tuhan itu adil. Dan jangan lupa ya mbakyangsukaasalngomong, fitnah itu dosa besar lho! Dosanya tidak akan hilang selama yang difitnah tidak mengampuni. Dan saya bukan makhluk mulia mbak, saya nggak akan mengampuni sebelum mbak minta maaf. Sama saya. Langsung. Tanpa Perantara. Meanwhile, enjoy your karma 🙂

March 30, 2008 at 4:19 pm 5 comments

90/10

Udah pernah denger ‘Prinsip 90/10’-nya Stephen Covey belum?Menurut beliau, dalam hidup kita ini:

– 10% terjadi karena apa yang KITA ALAMI…
– 90% sisanya ditentukan dari cara KITA BEREAKSI…

Kita tentu tidak bisa mengendalikan yang 10% itu. Buru-buru ke kantor karena ada meeting, tapi jalanan macet…Pesawat delay, gajian telat masuk, hidung pesek, muka jerawatan, badan pendek, dan seabrek hal lain yang kadang kita keluhkan. Kita memang nggak bisa mengontrol pesawat yang delay, hidung yang pesek, gaji yang telat masuk, ban mobil bocor, dan banyak hal lainnya, tapi kita bisa mengontrol yang 90%, REAKSI KITA ketika hal-hal itu terjadi.

Ya, reaksi kita. Punya hidung pesek, muka jerawatan, terus apa reaksi kita? Marah-marah? Jadi murung dan rendah diri? Terus hidung kita jadi mancung, muka jadi mulus? Kan nggak…Reaksi negatif yang kita keluarkan hanya membuat kita makin jauh dari jalan keluar, dan lupa bahwa ada banyak nikmat lain yang kita punya.

Contoh lain lagi: Bangun kesiangan, baru ingat kalau pagi ini ada meeting di kantor. Buru-buru ganti baju (tanpa mandi dan gosok gigi seadanya), minum kopi, daaaannnn…kopi tumpah ke baju. Apa reaksi kita? Ngomel sambil ganti baju? Di mobil masih ngedumel dan makin ngedumel karena jalanan macet. Takut telat, akhirnya maksa minta jalan, daaannnn..nyenggol mobil di kanan. Bemper mobil penyok, orang yang mobilnya tersenggol marah, harus bayar ganti rugi. Akibatnya? Sampai kantor malah makin telat…

Hari yang dimulai dengan situasi yang buruk, jika diteruskan dengan reaksi yang buruk juga, akan membuat semua makin buruk. Lebih parah, bahkan. Kejadiannya buruknya cuman 10%, reaksi kita menyumbangkan 90%, jadi benar-benar besar pengaruh reaksi kita itu. Kejadiannya bisa jauh berbeda kalau kita menghadapinya dengan lebih tenang, santai, dan kepala dingin. Dimulai dengan hal yang sama, tapi akhirnya bisa berbeda, lagi-lagi karena reaksi kita.

Prinsip 90/10 ini memang manjur berats. Membuat hidup lebih enteng kalau buat saya yang doyan ngomel ini (:P). Ada orang yang fitnah, walaupun sempat marah, tapi terus ya udah lah, biarin aja, saya percaya karma. Bangkrut dan menghabiskan uang ratusan puluhan juta saat mulai belajar bisnis dengan serius tahun lalu, ya coba relakan (walaupun nyesek bangeut sih, uangnya bisa buat apa gitu tuh hehehe). Anggap-anggap itu tabungan kegagalan, kita jadi belajar (belajar yang sangat mahaaalllll huhuhu), dan sukses pasti bakalan datang kalau kita terus usaha kan…? Amien…

Intinya ya…legowo…! React properly. Semua kejadian yang terjadi di muka bumi ini kan pasti ada yang ngatur (btw, saya salah satu penganut tidakpercayakebetulan), dan semua yang terjadi kan yang terbaik buat kita, jadi ya…santai sazaaaaa !!!

Next time, when something bad happens, watch out your reaction yak!

PS:

– salah seorang sahabat saya baru datang pulang dari Belanda, dan minggu kemarin kita kumpul lagi berempat. When things go wrong, and you know you’re not the only one who got broke a bit flips in life yet you can still laugh at it, mentertawakanbodohandirisendiriketawasampesakitperut, is still the best therapy of all! Thanks!

– pulang dari brewww, lewat Jl. Bangka Raya, ada rumah besaaarrrr bgt, kayak istana. Baru sadar ada bangunan itu disana. Itu bangunan apa ya?

March 18, 2008 at 3:18 am 1 comment


Categories

…recommended…

...photos...photos...

…i am part of…

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

...since january 3, 2008...

  • 118,986 hits