Posts filed under ‘ceritacerita’

lagi-lagi…

3 bulan gak nulis, kangen juga sama blog hihi…

A little update about Dadit. Udah 8 bulan sekarang. Alhamdulillah bisa ngasih ASI exclusive 6 bulan, dan masih sampai sekarang πŸ™‚ Soal menyusui ini, saya pengen nulis banyak. Yang pasti, kalau ada yang bilang nyusuin itu gampang, sini ketemu saya…! πŸ˜› Dadit udah makan bubur saring sekarang, udah makan daging. Udah makin banyak gaya, gak bisa diem. Lasak bangeut kalau tidur. Udah 4 kali nyusruk dari kasur (untung kasurnya udah diturunin, jadi nggak tinggi). Udah bisa protes. Udah bisa marah kalau dipakein baju (heraaannn, ini nurun dari siapa ya gak mau pake baju..?). Udah bisa nangis kalau saya tinggal 😦

Ada banyak hal yang terjadi dalam 3 bulan ternyata. Terlalu banyak kalau buat diceritakan di sini. Some are not for public, anyway.

Minggu lalu, saya jadi volunteer di operasi gratis bibir sumbing (cleft lip) dan langit-langit bolong (cleft palate) yang diadakan Operation Smile di RS Gading Pluit, Jakarta (to read more on Operations Smile, open their website here). Saya bantuin jadi translator, karena dokter-dokternya notabene nggak bisa Bahasa Indonesia.

Hari pertama ada 17 bayi dan anak yang dioperasi. Saya sempat lihat operasinya dari monitor ruang operasi: bayi, umur 4 bulan. Dan sorenya, saya ketemu dia lagi, beserta orangtuanya, di ruang perawatan. Namanya Tegar. Masih ngantuk akibat obat bius, tapi nggak nangis. Matanya seperti berusaha terbuka dan menyapa kami. Melihat dia dan anak-anak lain, saya nggak bisa nahan nangis. Mereka memang masih ada jahitan, tapi mukanya jadi jauh berubah dengan ketika mereka datang. Melihat orangtuanya, yang berseri-seri karena anaknya bisa sembuh, dan berulang-ulang mengucapkan terimakasih, saya cuman bisa diam. Bersyukur, karena anak saya alhamdulillah sehat (ganteng is bonus hehehe). Bersyukur, karena saya diberi kesempatan untuk ikutan acara itu, dan melihat begitu banyak orang-orang yang sangat peduli. Ada yang meleleh di dalam hati saya rasanya…

Ada 1 anak yang datang terlambat. Perempuan, umur 1 tahun 1 bulan. Namanya Siti Humairah. Cantik. Tidak terlihat seperti ada kelainan. Ketika membuka mulut, baru saya tahu, mulutnya tidak ada langit-langitnya. Astagfirullah…Betapa senang dan penuh harapan wajah Ibunya ketika kami beritahu bahwa anaknya bisa ikut dioperasi walaupun datang telat (seharusnya pendataan dan pemeriksaan kesehatan pasien dilakukan serempak sehari sebelumnya). Binar itu tidak akan pernah saya lupa.

Lagi-lagi saya diingatkan untuk bersyukur. Untuk semua hal dalam hidup yang terkadang saya anggap for granted, yang kadang lupa saya syukuri.

Dan saya seperti diingatkan lagi dengan mimpi saya lebih dari setahun yang lalu…tapi dormant tertimbun rutinitas dan kesibukan lain..saya mau mulai mewujudkannya sekarang…Nanti detailnya saya tulis menyusul…Bantu saya ya πŸ™‚

November 12, 2009 at 4:45 pm 4 comments

re-writing dreams

writing2

udah 1 juli, nggak kerasa ya udah setengah tahun lewat..hiks…

Saya lagi menulis ulang mimpi-mimpi saya…

Udah lebih jelas sekarang apa yang saya mau.

Sejak punya Dadit, saya jadi banyak berubah:

1. Bisa bangun pagi, horeeee…! Ini seperti keajaiban dunia ke-8 buat saya :p

2. Tidur nggak kebo-kebo amat…kalo Dadit usrek (dia kalo nggak laper bgt, nggak nangis..tapi kalo saya lama, dia ngomel, teriak-teriak…emang bener-bener deh, gak sabaran kayak emaknya hehehe), saya bisa langsung bangun. Keajaiban dunia ke-9!

3. Lebih bisa disiplin manfaatin waktu. Saya kan kerja dari rumah. Dulu bisa berhari-hari kerjanya browsssiiiinnnggg doang, kerjaan dikerjain deket-deket deadline. Sekarang, karena saya juga musti bagi-bagi waktu sama si undul itu, jadi saya musti nyicil-nyicil kerjaan. Dulu mana bisa. Sekalinya mood kerja dan deket deadline, saya bisa kerja sampai subuh, males makan males mandi. Sekarang kan musti makan teratur. Musti berenti-berenti kerjanya, karena nyusuin Dadit. Yah, dinikmati saja πŸ˜‰

4. Rajin mandi. Nah, ini keajaiban dunia ke-10. Saya mandi teratur 2x sehari sekarang :p Dulu sih 2 hari sekali aja sukur…maaf ya suamiku :p

Banyak lagi sih perubahan-perubahan lain. Tapi yang terpenting, yang membuat saya mau menulis ulang mimpi-mimpi saya adalah, sekarang saya udah makin jelas apa yang saya mau dalam hidup. Prioritas apa yang mau saya dahulukan. Dan caranya supaya saya bisa hidup senang tanpa harus mikirin kerja full-time untuk cari uang. Dan bisa mengerjakan apa yang saya suka dengan sesuka-sukanya (yang biasanya mengeluarkan dan tidak menghasilkan uang hehehe..)

Intinya, saya lagi buat road map, rencana menuju kebebasan financial. Kalau menurut Kiyosaki kan kebebasan finansial itu kalau passive income kita = 3 x pengeluaran rutin kita.

Sekarang? Passive income saya alhamdulillah udah (atau baru ya?) 20% dari pengeluaran rutin. Masih banyakΒ  PR yang musti dikerjakan. Masih banyak rencana yang harus dijalankan. Semoga target bisa tercapai secepatnya, amiennnn…

SEMANGAT !!!

July 1, 2009 at 5:40 am 1 comment

momo mau nyusuin adek sampai kapan pun adek mau…

…udah lama gak update blog, lagi riweuh menjalankan banyak rencana di kepala hehehe…tapi ini ada tulisan yang dibuat tanggal 7 juni yang lalu, posted di note facebook saya…

Hari ini Dadit ulang bulan yang ke tiga. 3 bulan juga Mama tau gimana rasanya jadi ibu, menyusui, begadang, panik ketika bilirubin kamu sempat tinggi atau ketika kamu menangis tanpa Mama tau apa sebabnya.

Ternyata menyusui sama sekali nggak gampang. Ketika hamil, Mama udah baca banyak artikel, ikut kelas menyusui AIMI, kelas kesehatannya dr Wati, beli banyak buku termasuk peralatan menyusui, dari pompa, nursing apron, botol kaca, cooler bag, training cup m*d*l*, u name it. Mama punya peralatan perang lengkap buat nyusuin adek. Mama kira semua akan lancar. Gampang kok nyusuin. Ibu-ibu dulu juga nggak pakai teori macem2, gak pake alat macem2, bisa nyusuin anaknya dengan lancar. Kenapa Mama nggak?

Bilirubin kamu sempat tinggi waktu lahir, nak. Mama sempat tergoda untuk ngasih susu formula. Walaupun Mama tau kalau asi ibu pasti cukup untuk anaknya dan Mama nggak boleh berpikiran negatif karena akan mempengaruhi produksi asi, tapi kekhawatiran Mama melihat semua upaya yang sudah Mama dan Papa lakukan (jemur adek tiap pagi, begadang mompa dan nyusuin adek setiap 1.5 – 2 jam) seperti tidak membuahkan hasil membuat Mama sempat bertanya-tanya ‘apakah asi Mama memang tidak cukup?’

Alhamdulillah bilirubin kamu kemudian turun nak. Ketika Mama hampir menyerah untuk kamu disinar saja. Kamu memang the real fighter sayang…Bahkan sejak dari dalam kandungan pun, ternyata kamu sudah berjuang. Ketika kamu dilahirkan, dokter dan kami semua baru tahu bahwa plasenta kamu selama ini ternyata hanya menempel di selaputmu nak. Yang bisa setiap saat putus dan kami akan kehilangan kamu. Subhanallah kamu bisa lahir selamat, sehat, bahkan tidak berberat badan rendah.

Setelah itu bukan berarti perjuangan usai. Jam tidur yang belum teratur, puting lecet, kamu yang terus menerus minta susu, ditambah Mama tetap harus bekerja menyelesaikan analisa data yang harus dipenuhi deadlinenya. Lagi-lagi Mama sempat ingin menyerah, maybe breastfeeding is just not for me…

Beruntung Mama punya Papamu, yang selalu sabar menghibur dan menenangkan Mama. Lalu Mama baca buku ‘what to expect during the first year’, hadiah dari om2 dan tante yg baik hati. Di buku itu ada satu pertanyaan yang hampir sama dgn kegelisahan Mama: I don’t think breastfeeding is for me.

Jawaban buku itu melegakan Mama. Coba dulu sampai 6 minggu (berarti sekitar 40 hari umurmu ya…), baru putuskan apakah ingin menyusui atau tidak. Kalau memang menyusui hanya menyengsarakan, ya gak usah gak papa. Drpd anak ibu tidak menikmati. Simpel. Jadi Mama coba tahan. Target 40 hari saja. Setelah itu kalau memang Mama nggak sanggup, Mama sudah siap dengan merk susu formula yang paling baik untukmu.

Ternyata benar, bahkan sebelum 40 hari pun, Mama mulai menikmati saat-saat menyusuimu. Memangkumu yang makin lama makin membulat. Melihat wajahmu yang tanpa dosa dengan senyuman dan gigi ompongmu. Dan memperhatikan bagaimana wajah bulatmu terkulai kekenyangan setelah puas menikmati asi. Mama nggak mau kehilangan momen-momen ini. Belum lagi daya tahan tubuhmu yang benar-benar bukti kalau asi memang yang terbaik untuk bayi.

Masih panjang perjalanan kita nak…
Bahkan masih beberapa bulan lagi untukmu menikmati asi exclusif…
Tapi yang pasti, Mama mau menyusuimu nak, sampai kapan pun kamu mau…Walaupun Mama harus repot merah…harus bawa-bawa cooler bag kemana-mana…harus menghentikan apapun kegiatan Mama ketika kamu mulai haus…harus tahan dengar semua omongan orang…harus bangun 2-3 jam setiap malam…apapun…

Bukan demi gelar ibu yang baik…
Bukan demi gelar S1, S2 dan S3 asix seperti yang diberikan milis kepada bayi-bayi yang berhasil mendapatkan asi sampai 6 bulan, 1 tahun dan 2 tahun…

Tapi karena Mama percaya, Tuhan sudah berbaik hati memberikan hadiah terbaikNya untuk kami…

Kami janji akan selalu menjaga hadiahNya ini dengan juga memberikan yang terbaik…

Untukmu nak…

Sekarang, nanti, selamanya…

yang sehat ya dek…
Amin…

.Dedek Astrilia Gunawan.
Momo of Mahatma Raditya Siregar (3M18D)

bornMahatma Raditya Siregar

born on March 7, 2009 at 17.26

(picture was taken at 17.35. fresh from the womb ;))

n709308385_2004176_667500Dadit recently

picture was taken on june 7, otw to uda andri’s wedding…

June 25, 2009 at 8:35 am 7 comments

nostalgi(L)a

Gara-gara (baru) baca The Secret Life of Bees, plus nonton ‘Jersey Girl’, ditambah hormon hamil dan demam foto-foto lama di Facebook, saya jadi teringat banyak hal jaman dulu kala. Banyak yang udah lupa juga sih πŸ˜‰ Tapi jadi kepikiran untuk menulis sebagian cerita hidup saya. Yah, minimal buat dibaca anak saya kalau dia besar nanti. Biar dia tau cerita ibunya juga πŸ˜‰ Dari saya langsung, dan punya pendapat sendiri tentang saya. Apapun itu. Bukan dijejali pendapat orang-orang.

Dan karena saya cuman tahu menulis sebagai sarana menyampaikan apapun yang ingin saya sampaikan SEKARANG untuk dibaca NANTI, jadi ya blog inilah yang jadi sarana :D. Yang tidak terlalu privacy, tentu. Yang privacy? Saya tulis di tempat lain, maaf, bukan konsumsi publik πŸ˜‰ Jadi mulai sekarang blog ini isinya juga akan ada nostalgi(L)a pengalaman saya. Nggak ada kronologis waktu, yang kebetulan saya ingat, akan saya tulis. Ini untungnya punya blog sendiri, suka-suka mau nulis apa hehehe

September 2002

Saya lulus S-1 dari FEUI jurusan Studi Pembangunan, konsentrasi Ekonomi Sumber Daya Alam. 5 tahun kuliah. Banyak cerita, yang mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Ada tawaran untuk kerja di sektor swasta, tapi saya lebih memilih kerja di NGO lingkungan hidup, Conservation International. Saya udah mulai jadi volunteer kemudian jadi staf temporer di situ dari tahun 2001 (atau 2000, lupa!). I like the job, the people, the environment. Sambil kerja, saya udah niat, mau sekolah lagi. Kemana? Tujuannya Eropa. Saya nggak suka USA (maaf buat yang suka…tapi itu benua terakhir yang saya minati untuk kunjungi, kalau sudah tidak ada benua-benua lain yang bisa dijelajahi ;)). Saya mau kuliah, sambil jalan-jalan (kenyataan yang kemudian terjadi adalah jalan-jalan sambil kuliah, hahaha!). Europe isΒ  heaven for backpacker. I must go there! Negara apa? Jerman – saya nggak bisa bahasanya. Prancis – idem! Saya cuman bisa bahasa Inggris. Jadi pilihan makin sempit, Belanda (yang memang banyak punya program berbahasa Inggris, dan penduduknya juga terbuka berbahasa Inggris) atau Inggris. Mulai cari-cari info. Apply STUNED (beasiswa untuk ke Belanda) dan Chevening (beasiswa untuk ke Inggris).

Ada perbedaan antara dua beasiswa itu. Kalau STUNED, kita apply ke universitasnya dulu. Baru setelah universitas menerima kita, acceptance letternya kita gunakan sebagai salah satu syarat mendaftar beasiswa. Kalau Chevening, daftar beasiswanya dulu, baru cari universitasnya. Mulailah saya sibuk cari info sekolah di Belanda. Saya pengen belajar kebijakan, public policy. Entah mengapa, dengan kenaifan saya waktu itu, menurut saya cara terbaik untuk memperbaiki dan memberi sumbangsih untuk negara tercinta ini adalah dengan ‘mengotak-atik’ para policy makernya…Once we have a good policy, dunia akan aman tenteram dan damai πŸ™‚ Nggak ada rakyat kekurangan sembako, susah bayar uang sekolah, sakit nggak bisa bayar obat dll. Oh, I was young…(PS: akhir-akhir ini saya lebih suka kerja di grassroot level euy daripada di tataran kebijakan. Bikin frustasi dan emosi hehehe)

Setelah browsing, di Belanda, (waktu itu) hanya ada dua universitas yang menawarkan program Public Policy. University of Leiden (di Leiden) dan Institute of Social Studies (ISS – di Den Haag). University of Leiden sudah sering saya dengar. Pusatnya study tentang hukum. ISS? Naon? Waktu itu saya cuman membandingkan silabus kedua universitas itu, dan saya kok lebih tertarik dengan ISS. Programnya Public Policy and Management. Saya waktu itu nggak tau, ternyata ISS itu terkenal kalau di kalangan development workers. Spesialisasinya memang development studies, ilmu yang saya suka. Saya juga nggak tau kalau Den Haag adalah kota cantik yang elegant sekali, dan yang paling penting, dekat dari mana-mana, jadi mempermudah saya ketika (kemudian) jalan-jalan. Semuanya mengalir begitu saja. Saya pilih apa yang saya mau, mengikuti kata hati. Ah, saya memang berhutang banyak pada ‘kata hati’ saya. Impulsive? Biarlah…toh selama ini no harm done πŸ™‚

Saya daftar. Tadinya tetap mau daftar keduanya (Leiden dan ISS), untuk jaga-jaga. Soalnya persyaratan pengalaman kerja saya belum cukup. Walaupun udah kerja mulai dari bangku kuliah, tapi saya kan lulus belum 1 tahun? Bidang study itu diperuntukkan untuk level menengah ke atas dalam pemerintahan dan manajemen. Bukan kuli kroco yang hobinya masih main dan cengengesan seperti saya. Iseng, ya coba aja, toh nothing to loose. Tapi yang Leiden akhirnya saya nggak daftar (lupa kenapa…me and my -sometimes- bad memories)

Maret 2003

Kok saya belum dapet juga pemberitahuan apakah saya diterima atau tidak? Teman saya yang daftar bareng udah dikabarin, dan diterima. Nekad, saya telpon ke bagian admissionnya ISS. Jawabannya melegakan: saya diterima, tapi email yang isinya acceptance letter saya ternyata bounce, mungkin karena filenya terlalu besar, jadi ditolak server kantor. Saya beri account email lain. 2 hari kemudian, yes, I got my acceptance letter! Yupiiieee!

Saya inget bangeut deadline STUNED itu akhir Maret (selalu akhir Maret setiap tahun), jadi mulailah saya sibuk buat segala macem. Motivation letter why they should accept me, why Netherlands, why development study, why public policy, recommendation letter, dan segala perintilan lain. Akhir Maret, pas d-day deadline, saya submit aplikasi saya (me and deadline :P)

Ibu saya sedang sakit keras waktu itu. Kanker mulut rahim. Opname di RS berbulan-bulan, saya dan adik-kakak saya juga gantian nginep. Pergi dan pulang kantor dari RS. Mitra Keluarga, Medistra, terakhir Dharmais. Ibu saya dari dulu nggak setuju saya sekolah ke luar negeri. Setelah beliau meninggal, baru bapak saya bilang alasannya. Takut saya kawin sama bule, dan dibawa keluar Indonesia. Hahahaha, what a reason! (tapi hampiiirrrr ya Ma hihihi :p). Herannya, waktu sakit, beliau sudah mulai merestui keinginan saya untuk cari sekolah di luar negeri.

Mei (atau Juni – lupa) 2003

Saya dapet berita kalau saya tidak diterima STUNED. Saya memang sudah siap. Coba lagi tahun depan. Toh, acceptance letter di ISS berlaku untuk dua tahun. Saya juga belum 1 tahun lulus. Umur 24 tahun. Ditambah ibu saya sakit. Yah, memang bukan tahun ini.

8 Juli 2003

Ibu saya meninggal. Itu kehilangan terbesar pertama yang pernah saya rasakan. Tapi saya bersyukur, Mama bisa lepas dari penyakitnya. Bisa kembali ke Sang Maha Segala, yang pasti bisa merawat Mama jauh lebih baik dari kami semua di sini (I wrote once, a really long one, about my mom. Mau publish, pas baca, nangis lagi. Jadi ya nggak tau dimana sekarang. Ntar saya cari lagi kalau masih ada hehehe)

Kira-kira 8-10 hari setelah ibu saya meninggal, dan saya kembali ke Jakarta (ibu saya dimakamkan di Lampung), ada telpon dari STUNED. Saya dapet kesempatan untuk interview lagi. Mereka mempertimbangkan aplikasi saya! Aneh bangeut! Kan saya udah ditolak? Tapi ya saya jalani saja.

Beberapa hari, keluar hasilnya. Saya diterima! Full scholarship to ISS! Leaving Indonesia on August! Ternyata mereka menghitung juga pengalaman kerja saya selama kuliah, yang memang sudah saya jalani 3 tahun lebih.

Saya udah nggak ngerti apa perasaan saya waktu itu. Campur baur. Sedih karena Mama. Senang, excited, nervous, bingung, ambil nggak ya? Saya meninggalkan keluarga saya dalam keadaan begini? Saya bisa tabah ditinggal Mama karena melihat bapak, adik-adik dan kakak-kakak saya juga mencoba tabah. Saya kuat karena ada mereka. Sekarang saya harus pergi? Sendirian? Apa rencanaMu ya Allah…?

Bapak saya bilang saya harus kuat. Pergi, ini kesempatan bagus buat Dedek. Mama juga pasti senang kalau Dedek bisa pergi, bisa dapet beasiswa (ah, saya jadi ingat betapa gembiranya Mama waktu saya dapet beasiswa SMA, juga waktu saya lulus UMPTN dan tidak harus jual mobil untuk biaya kuliah).

Mungkin ini memang rencana Tuhan. Tuhan tahu apa dan kapan yang terbaik buat kita. Saya ditolak dulu beasiswanya, biar bisa nungguin Mama sampai Mama meninggal.

Masih seperti mimpi, saya memutuskan untuk berangkat. Mempersiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan. Ngurus resign dari kantor. Pamit ke keluarga besar. Belanja koper dan keperluan lain. Browsing cari info kehidupan macam apa yang akan saya temui di sana. Semua saya jalani antara sadar dan tidak. Seperti mimpi. Pengurusan visa yang sempat memakan waktu lama dan membuat keberangkatan saya tertunda. Semuanya.

Akhirnya, September 2003, I was leaving for Netherlands ! Den Haag, to be exact!

PS: Beasiswa Chevening sempat saya ikuti prosesnya. Udah sampai tahap interview. Tapi saya nggak dateng. Soalnya Chevening itu apply tahun ini, berangkat tahun depan. Kalau STUNED, apply tahun ini, berangkat tahun ini. Saya kan kalau moodnya udah hilang, udah males πŸ˜› Untung juga ternyata berangkat pas umur 24 tahun, tiket murah di Eropa (untuk youth) hanya berlaku sampai umur 26 tahun. I still have lots of time. Pas! πŸ˜€

February 1, 2009 at 8:24 am 3 comments

financial planning is NOT fun!

Saya masih ingat benar ‘perkenalan’ saya dengan nama-nama seperti S*fir Send*k dkk. Waktu itu, kira-kira setahun yang lalu, waktu ada promo HP CDMA Esia yang mulai mengeluarkan HP-HP murah. Lagi ngobrol-ngobrol mau beli type yang mana, seorang teman mengeluarkan kalkulator, mulai menghitung pendapatan, pengeluaran bulanan, dan tambahan pengeluaran kalau membeli tambahan 1 nomor HP lagi. Intinya, katanya, bedakan kebutuhan vs keinginan. Itu kata Safir Senduk, katanya lagi. Itu pertama kali saya dengar nama itu.

Dan saya spontan bengong. Idih, males bangeut! Beli HP yang (menurut saya) penting itu aja kok diitung-itung? Ada duit ya beli…Hidup kok ya dibuat susah! Mendzalimi diri sendiri!

Ngeliat saya yang bengong gitu, teman saya mulai nyerocos soal perencanaan keuangan, pentingnya budgeting, punya tujuan keuangan, dan lagi-lagi itu, bedakan keinginan dan kebutuhan. Saya langsung males lagi. Keinginan ya kebutuhan. Kerja susah-susah cari uang, buat apa kalau nggak untuk memenuhi keinginan, bukankah begitu?

Terus mulai ngomong soal investasi. Nah, ini saya agak tertarik. Retire young, retire rich, dan bisa bersenang-senang tanpa mikirin cari uangnya gimana. Liburan, HOREEEE !!!

Dari situ mulai deh saya beli buku, browsing, melahap semua soal keuangan, termasuk menulis di blog ini, supaya saya nggak lupa apa yang saya pelajari (dan mulai coba lakukan). Memang nggak semua saya tulis, malu-maluin soalnya kadangan hehehe Tapi lumayan lah, ada kemajuan, kalau saya liat blog-blog saya yang dulu, mana ada topik beginian πŸ˜‰ I feel more like a responsible adult πŸ˜€ Ini benar-benar dunia baru buat saya. Jangan salah, saya memang lulusan ekonomi, tapi lebih ke ekonomi makro, dengan segala asumsi, perhitungan dan teori perekonomian makro (halah, better not discuss it here). Bukan finance, apalagi personal finance (maybe I should take another course in personal finance? menarik soalnya ternyata, saya suka hehehe :D). Untung juga kuliah ekonomi, jadi lumayan cepet ngeh soal inflasi, return on investment, pengaruh kondisi makro ke investasi (pribadi), interest rate…

Segala sesuatu kan katanya awalnya yang susah. Kalau udah jadi kebiasaan, jadi lebih gampang. Saya juga baru setahun ini mulai menata keuangan saya yang nggak seberapa. Makanya ditata, diplanning, biar yang nggak seberapa itu bisa maksimal. Sekarang sih masih ‘muda’, masih kuat cari uang lembur-lembur, tapi kita nggak mau kan diperbudak kerjaan terus? Diperbudak uang terus? Kerja keras cari uang, tapi uangnya nggak tau kemana, seperti menguap begitu saja. Nanti kalau pensiun gimana? Kalau dipecat kantor gimana? Kalau tiba-tiba ada resesi besar-besaran dan susah cari kerja gimana?

Saya dulu juga begitu 😦 Uang nggak tau abis kemana. Masih asik-asik aja, karena tiap bulan masih terima gaji. Beli mobil aja kalo nggak dipaksa kakak (dibayarin DP-nya, dan saya ‘terpaksa’ nyicil uang kreditnya yang ampun-ampunan itu tiap bulan), mungkin sampai sekarang saya belum punya mobil, tapi uang tetep abis nggak tau kemana. Urunan beli apartment juga gitu. Tau-tau kakak saya beli apartment 2 unit, dan saya ‘harus’ urunan bayar cicilannya yang bayarnya pake tunai bertahap itu. Ampuuunnn! Tapi sekarang saya bersyukur. Kalau nggak ‘dipaksa’ gitu, uang saya akan tetep abis, lengkap dengan tumpukan barang tak terpakai di gudang yang makin meninggi πŸ˜‰

Masih belajar, masih salah-salah juga kadangan. Learning by doing, and mostly I did it wrong hehehe Makanya saya suka nyetanin teman-teman saya untuk mulai investasi dkk, jadi saya kan ada tambahan teman diskusi πŸ™‚ Adik saya ikutan saya setanin juga. Dia suka juga tuh. Saya bangga, seumur dia, dia udah mulai mikirin investasi (mengingat dulu nazar lulus UMPTNnya adalah beli buku komik, heran juga dia bisa mulai mikirin investasi :D). Saya seumur dia dulu, wuahaahahah…!!! (btw, kalau mau baca blognya, di sini – http://ciwigunawan.blog.friendster.com).

Ternyata nggak se-menyiksa diri seperti yang saya kira. Justru kayaknya hidup lebih aman. Masih kok ikutan rebutan ke sale. Masih juga hunting tanggal merah, tiket murah, dan menghitung-hitung kapan uang saya cukup buat liburan. Masih hobi nyobain tempat makan.

Tapi kayaknya jadi lebih tenang. Karena saya tau, walaupun uang saya habis untuk berburu sale atau pernak-pernik gak penting kesukaan saya, tapi dana buat ngelahirin, buat sekolah anak, buat dana darurat kalau ada apa-apa, buat dana pensiun, alhamdulillah mulai terkumpul dikit demi sedikit, dan aman tersimpan di postnya masing-masing πŸ™‚

So yeah, now I can say that financial planning is NOT indeed FUN! πŸ™‚

December 10, 2008 at 6:51 pm 2 comments

puaaasss !

Saya punya sahabat dekat yang sudah seperti abang saya sendiri. Teman dari SMP, tapi baru dekat setelah lulus SMA dan kuliah. Dari dulu hobinya nyela saya, yang dibilang Cina murtadlah, tembemlah, pisces sensitif tapi kebo lah…wah, udah kebal rasanya becanda, berantem, sampai saling kritik pedas tak berdasar πŸ˜›

Saya menikah akhir Januari 2008, dia Mei 2008 (ikut-ikuutttt aja deh! :P). Ini saya puas (nyela). Karena dia menikah dengan seorang perempuan baik hati dan sabar (yang ini sangat saya syukuri :)), orang Manado berkulit putih yang notabene seperti Cina, dan agak…tembem! Padahal dulu dia (ngakunya dan memang semua mantannya) suka sama perempuan berpipi tirus…Huahahaha…

Tidak lama setelah dia menikah, dia telpon saya, katanya ****** (istrinya hamil). Saya juga baru beberapa hari sebelumnya tau kalau saya hamil πŸ˜› Dengan puas, saya bilang ngelahirinnya pasti nanti Maret. Hidup Pisces! πŸ˜€

Beberapa waktu yang lalu, dia telpon lagi. Tanya HPL (Hari Perkiraan Lahir) saya.

Dan ini yang buat saya makin puasssss!

Saya lahir tanggal 11 Maret.

HPL saya (kata dokter saya) insya Allah tanggal 12 Maret πŸ˜€

HPL istri sahabat saya itu (kata dokternya) tanggal 13 Maret πŸ˜›

Wuahahahahaha…!

November 27, 2008 at 8:08 am 1 comment

first trimester is over

* disclaimer*

* this post is really late, like 2 months late..I am 21 weeks now πŸ˜› *

* USG picture below was taken when the fetus = 15 weeks *

dsc002343

Katanya trimester pertama itu yang lagi berat-beratnya. Masa pembentukan janin, masa-masa dimana si Ibu sedang parah-parahnya mual muntah, bahkan susah makan dan mencium bau apapun…

Saya alhamdulillah bangeut, nggak mual, nggak muntah, nggak ada ilang nafsu makan (menggila malah iya…Laper mulu! Kacau!)

Percaya nggak percaya, sugesti dan ngajak ngomong janin itu works! At least for me…

Waktu pertama tau positif hamil, saya udah wanti-wanti dalam hati

“We need to work together as a great partner for the next 9 months, so please..please…help me…Please…please…don’t make me vomit and nausea…You can ask any food you want…But I still need to do my activities…Please…I need you to work together with me…”

Voila, saya nggak mual hehehe Good kid! Dan percaya nggak percaya, the kid indeed ask for the food s/he wants! Selera makan saya berubah. Saya jadi suka pasta dan makanan Eropa lain. Padahal saya kan pencinta makanan Asia hiks…

This is me in the first trimester:

– Mulai minum susu khusus buat ibu hamil. Dan…gak suka! I loooovvveee milk, so it’s killing me when I feel so terrible every time I have to drink that chocolate-taste liquid, yikes! Akhirnya, saya cuman tahan minum susu hamil 2 dus (kira-kira 2 minggu), abis itu I am back to my Ultramilk and Bear Brand…Love them!

– Laper mulu. Gila-gilaan. Waktu awal hamil dan pas ke kantor, saya nggak bawa bekal apa-apa. Sore laper bangeut, akhirnya delivery lasagna (I’ve told you I am craving for Italian food, right?). Hampir 2 jam kemudian baru dianter 😦 Besoknya, saya bawa bekal: buah. Ternyata nggak cukup. Saya masih lapar. Mau delivery lagi, kapok, kalau lama lagi, lapernya bener-bener buat saya meradang. Oprek-oprek dapur (kantor saya kayak rumah, ada dapur, enak deh!), ketemu telur dan ada nasi sisa makan siang. Mau goreng telor, nggak ada minyak. Jadilah saya makan telor rebus+nasi+sambel botol+kecap. Kenyang dan saya tenang πŸ™‚ Kalau lagi kerja di rumah enak bangeut. Laper tinggal buka kulkas. Kalau ke kantor, sekarang saya bawa bekal memadai (roti 2, buah minimal 2, dan yogurt). Jangan salah, makan siang tetep makan di luar πŸ˜› 3 bulan pertama, saya naik 6 kilo πŸ˜€

– Degdegdeg. Bener ya ternyata, hamil itu buat kita jadi gampang khawatir. Dulu saya suka sebel liat kakak saya yang kuatir-kuatir nggak jelas, sekarang saya baru ngerti. Khawatir, soalnya nggak bisa liat dia gimana di dalem. Baik-baikkah? Mana banyak cerita-cerita horor soal kehamilan gitu. Pertama saya deg-degan soal blighted ovum. Lega dari situ, deg-degan lagi soal TORCH. Dengan riwayat saya yang pemakan segala dan pencinta daging mentah/setengah mateng, saya panik setengah mampus. Nunggu hasil test lab yang sehari itu aja kayak 100 tahun 😦 Ketika rencana mau hamil, saya udah rencana mau tes TORCH. Ternyata, belum sempet test, udah positif. Terus lupa mau tes. Begitu sadar, panik minta ampun. TORCH kan bahaya sekali untuk kehamilan, trimester pertama terutama. Alhamdulillah, ternyata negatif semua juga. Karena TORCH itu virus, sebenernya sih tergantung ketahanan badan kita ya. Ada teman saya yang jauh lebih resik dari saya, jauh lebih menjaga makanan, ternyata positif tokso. Jadi memang badan kita harus kuat dulu…Btw, soal deg-degan ini, Rahman bilang kayaknya ntar anaknya sehat, bapaknya yang jantungan, kuatir mulu πŸ˜›

– cewek atau cowok? Huuu…spekulasi soal jenis kelamin ini memang selalu ada mitos yang menyertai ya. Ada yang bilang anak saya cewek, karena saya hamilnya cenderung lempeng, nggak mual muntah. Katanya kalau nggak ribet gini, anaknya perempuan. Juga bentuk perutnya membulat. Yang terakhir langsung dibantah sama adik saya, ‘kak dedek kan emang udah bulat dari sebelom hamil.’ $##$#$#@@@!!!

Ada lagi yang bilang anak saya lelaki. Karena muka saya jadi jerawatan (belom lagi punggung…wuhuuuu…ku tak tau bagaimana menghilangkannya nanti :(). Juga karena saya males dandan bahkan malas mandi. Yang ini juga langsung dibantah adik saya, “kak dedek kan emang udah males mandi dari dulu.” πŸ˜›

Saya pasrah aja dikasih anak jenis kelamin apapun. Dikasih anak aja udah bersyukur bangeut kok πŸ˜‰

The magic movement. Hei, saya udah ngerasain dia nendang-nendang waktu saya masih 10 minggu lho. Awalnya saya nggak percaya itu dia. Soalnya saya baca-baca katanya some lucky mother can already feel the movement when the pregnancy is 12 weeks. Kok 10 minggu udah? Pas saya tanya-tanya, bener ternyata itu the movement πŸ˜€ Pas USG, emang dia selalu aktif gerak-gerak sih. Alatnya udah diarahin ke jantungnya (saya mau denger jantungnya), eh dia gerak, pindah lagi posisi jantungnya. Rahman seneng bangeut anaknya lasak gitu, mirip dia πŸ˜›

– Vitamin dari dokter yang saya minum: elevit, fetavita. Fungsinya apa, browsing aja ya πŸ™‚

– Join milis hypno-birthing. Soal hypno-birthing ini, nanti saya cerita lebih detil (kalau nggak telat posting lagi :P). Siapa tau berguna buat yang lain ya…

– Nggak nyetir. Karena katanya 3 bulan pertama itu rawan, jadilah saya juga libur nyetir. Sebenernya kata dokter gak papa sih, kakak saya dulu juga sampai 9 bulan masih nyetir sendiri kemana-mana. Tapi karena ini kehamilan pertama, jadi suamiku itu ikutan rese’ ngelarang-larang. Saya jadi takut ada apa-apa juga, jadi nurut. Kemana-mana dianter jemput sama yang ngelarang (siapa suruh ngelarang :P).

We still have 5 more months kiddo…Sorry if I sound like a selfish mother, keep on asking you to be strong…I need you to be strong, I have to…But I know you are doing great there (USG shows that you are in a healthy condition, and bigger than baby your age – no wonder if you see how big I am now :P). So, please be strong, and bear with me…Love you…muchmuchmuchmuchmuch…

November 5, 2008 at 11:30 am 5 comments

Older Posts


Categories

…recommended…

...photos...photos...

…i am part of…

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

...since january 3, 2008...

  • 118,239 hits