Archive for October, 2008

krisis…krisis…

Makin hari krisis makin berasa ya ke sektor riil. Ya jadinya pengaruh besar juga ke kita-kita ini. Harga susu naik, pampers naik, gas naik, jatah makan siang musti naik juga, taxi jadi mahal bangeut. Duh!
Di dunia maya juga, makin banyak email-email saya dapat soal what to do-what not to do di saat-saat begini. Pegang cash, jangan beli dollar, jangan beli emas, beli emas, beli dollar kan udah 11 ribu lebih..waduh, pusing!

Saya bukan ahli masalah keuangan, lagi belajar juga nih. Tapi ketika ada teman yang bilang ‘sayang bangeut ya investasi lo’ (investasi saya memang lagi jeblok bangeut sekarang), ‘coba kalau tau dari awal tahun ya, kan bisa ditarik duluan’, ‘nasi udah jadi bubur ya’, saya agak-agak mikir juga…Haruskah saya menyesal? Soalnya walaupun (sementara) uang saya ambles, tapi kok saya tidak menyesal hehehe :p

Kenapa?

Selain karena uang yang saya investasiin memang juga nggak banyak (kalau nggak saya investasiin paling juga berubah wujud jadi pernak-pernik lucu gak penting), sebenarnya tanda-tanda krisis ini udah dari awal tahun kok. Cuman waktu itu kan belom (terlalu) pengaruh ke sektor riil, jadi ke kita nggak berasa. Dan saya tetap memilih untuk tidak menarik investasi saya, malahan tetap berusaha berinvestasi dengan teratur. Jadi bukan karena ‘nasi sudah menjadi bubur’ :p

Investasi saya yang ikutan tergonjang-ganjing (baca: saham) adalah investasi untuk jangka panjang.
Yang baru akan saya gunakan nanti, lebih dari 15 tahun lagi. Masa’ sih dalam waktu 15 tahunan itu, pasar tidak membaik? Lagipula, kalau saya berhenti investasi dan mulai menabung saja (seperti saran dalam salah satu email berantai yang saya terima), uangnya jadi nggak cukup untuk mencapai tujuan keuangan saya. Misalnya saja untuk dana pensiun. Setelah itung-itung, saya dan Rahman butuh uang 28 milyar untuk pensiun dengan nyaman, tanpa membebani anak cucu. Banyak bangeut ya? Ngeri melihat angkanya. Kalau dengan menabung, saya harus nabung sekitar 90 jutaan per bulan, selama 25 tahun untuk mencapai angka itu. Darimana uang sebanyak itu??? Ngeliat angkanya aja saya pingsan! Kalau investasi, insya Allah dengan ratusan ribu per bulan, 25 tahun lagi uang saya yang pas-pasan ini cukup buat mencapai angka segitu. Amien…

Kalau untuk tujuan jangka pendek, seperti melahirkan dan rencana-rencana lain yang pengennya dicapai dalam 3 tahun ke depan ini, saya memang lebih memilih menabung/deposito. Lebih aman untuk jangka pendek. Saham saya boleh anjlok, tapi saya tetap harus melahirkan (insya Allah) 4 bulanan lagi kan?

Jadi, kalau saya boleh urun rembug what to do with your money, yang paling penting menurut saya adalah:

Pertama, dana darurat, dana darurat, dana darurat.

Dana ini jadi 1000x lipat lebih penting sekarang. Nggak ada yang tau kondisi perekonomian ke depan gimana. Nggak ada yang tau sampai kapan perusahaan bisa membayar kita. Jadi, DANA DARURATnya dipenuhin dulu, jangan sampai kosong!

Kedua, Kalau dana daruratnya udah penuh, sampe luber, udah siap dengan kondisi apapun yang bakalan terjadi nanti (diPHK, harga barang makin menggila dll), dan masih ada uang sisa banyak, lihat lagi tujuan keuangan Anda, terutama yang jangka pendek. Alokasikan untuk memenuhi yang buat jangka pendek dulu. Caranya? Lihat profil resiko. Kalau mau aman, ya nabung aja.

Ketiga, dana darurat udah, tujuan jangka pendek juga udah terpenuhi. Terus ngapain? Ya…liburan aja, daripada pusing mikirin masa depan yang nggak jelas! hehehe 😛 Seriously, daripada uangnya abis ke M*tr* Great Sale yang penuh orang itu (termasuk saya hehehe), sisihkan sebagian aja buat ke great sale yang lain, stock market! Saham-saham bagus lagi obral gila-gilaan tuh. Tapi inget, ini uang yang emang bener-bener harus udah siap kalau hilang ya. Udah siap kalau harus menunggu lamaaaa sekaliiii baru menghasilkan. Uang yang memang nggak akan dipergunakan sewaktu-waktu (kan tadi udah punya dana darurat, jadi bisa dong pake itu ;))

Yang pasti, jangan ikut-ikutan jadi spekulan dadakan yang jual-beli USD dalam keadaan begini. Paling untung berapa sih? Tapi makin membuat negara kita seperti kehilangan harga diri.

Mendingan uangnya buat beli produk-produk Indonesia (nah, yang ini saya setuju dengan email berantai itu). Seharusnya kita memang cinta produk-produk Indonesia SELALU bukan, nggak cuman pas krisis aja? 😉

October 30, 2008 at 10:43 am 6 comments

2008

I once wrote about things I wanna do and accomplish in this year.

It’s the 10th month of the year, the year is not yet end, but there are many things happen in my life already. Some are expected, most are definitely not. It is indeed an amazing year! Happy, sad, happy, joy, nervous, happy, confuse, happy, worry, excited…too many too mention…Achieve some plans, neglect others, achieve some unplanned things…Funny how life works…

When I wrote in the middle of the year that I feel like many more surprises are about to come, I had no idea that it is indeed true. How couple of months (ja..ja..just two months!) later my family’s life are about to change. To a better direction, we all hope and pray. One thing for sure, it is indeed getting us one step closer to our dream. Funny how life works…

Still 2 months before 2008 ends…

Still many months before life ends (hopefully…)

Can’t thank YOU (up there) enough for all YOU’ve given me…

I’ll just fasten my seatbelt and enjoy the beautiful view and (sometimes bumpy) rides

carpe diem,

October 23, 2008 at 3:47 am Leave a comment

ngobrol!

Seorang teman dekat saya akan menikah (uhuyyy..cihuyyy..!!!). Mulailah diskusi kami yang biasanya berkisar antara ‘si ini jadian dengan ini’, ‘artis ini kok gitu ya’, ‘ada promo ke sini’, ‘ada diskon di sini”, bergeser jadi ke hal yang lebih serius. Salah satunya, soal kebiasaan mengelola keuangan pasangan (yang lain banyak, tapi di sini bahas yang ini aja hehehe).

Saya akui, satu ilmu SANGAT penting yang saya pelajari dalam 1 tahun belakangan ini (dari pertengahan tahun kemarin, tepatnya) adalah soal mengelola keuangan. Sampai dengan akhir tahun kemarin, jangan harap saya punya tabungan kecuali untuk liburan yang sudah saya rencanakan. Tujuan keuangan saya cuman satu: pergi ke ABC, XYZ, DEF. Tercapai pergi ke satu tempat, muncul tempat yang lain. Duh!

Ketika sudah mulai berpikir untuk serius dengan Rahman, topik soal hal yang (katanya) sensitif ini juga salah satu yang jadi bahasan. Sebenarnya, Rahman duluan yang mulai ngebahas soal ini. Saya waktu itu masih gengsi 😛 (Gile aje, ntar dikira gue matre! Padahal kan saya juga punya penghasilan sendiri. Bisa kok beli mobil dan apartemen -walaupun seuprit- sendiri. Jadi sorry deh ye kalau matre! hehehe). Dari hasil obrolan berkelanjutan itu (lanjut sampai sekarang, bahkan), banyak yang bisa saya pelajari. Walaupun profil resiko kami bagai bumi dan langit, untungnya saya dan Rahman punya banyak pandangan yang sama soal pengelolaan keuangan.

Salah satunya:

Seorang laki-laki WAJIB menafkahi istri dan anak-anaknya. Sementara jika seorang perempuan mampu bekerja, ia TIDAK WAJIB memberikan hasil kerjanya itu kepada keluarganya.

Jadi?

Kalau kata Rahman, uang dia = uang saya. Semua kebutuhan pokok keluarga harus dari gaji dia. Karena itu tanggung jawab dia, katanya.

Uang saya = ya uang saya, pake aja semau saya buat apa. Tapi yang penting, kalau nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan Rahman dan pendapatannya (diPHK, misal, audzubillahimin dzalikkkk), pendapatan saya bisa jadi ‘bemper’ sementara, sampai dia dapat pekerjaan baru.

Hahahaha…big grin on my face hihihi (I guess this is one of the many reasons why I said yes when he asked me to marry him hehehe I don’t mind to start everything from zero, but I need to make sure that he is responsible, right?)

Lalu, siapa yang mengelola keuangan?

Di keluarga kami berdua, kebetulan Ibu yang berperan besar dalam pengelolaan keuangan. Kalau di antara kami berdua? Rahman tipe yang nggak mau repot, maunya liat best practice orang-orang kayak gimana, he’ll follow the same path. Tipe konservatif, yang cari aman dalam berinvestasi. Saya kalau soal uang, risk taker. Sering Kadangan suka nggak mikir panjang. Boros pula. Impulsive buyer kelas berat. Tapi kalau udah niat sama sesuatu, yah bisa juga lah berpikir jernih. Kadang-kadang hehehe

Mengakomodir itu semua, jalan tengah memang sepertinya yang terbaik.

Gaji Rahman untuk memenuhi kebutuhan pokok kami sehari-hari, ditambah dengan alokasi untuk proteksi, dana pendidikan anak dan beli rumah (dia bilang itu tanggung jawab dia, karena kebutuhan pokok-papan. He said he doesn’t want my money :P)

Gaji saya untuk memenuhi tujuan keuangan yang lain (dana pensiun, dana weekend, dana liburan – I don’t mind saving to go places anyway…yay!, dan seharusnya bisa mulai membangun mimpi saya untuk punya active assets)

Pilihan investasi kemana?

Saya kan yang hobi browsing dan baca yang begini-begini, jadi untuk gaji Rahman saya buat ‘proposal’ mau investasi kemana. Instrumen yang aman-aman aja deh. Reksadana campuran paling maksimal (untuk mengurangi rasa bersalah saya juga kalau nanti ternyata lost :P). Uang saya? Nah, ini dia yang bahaya hehehe Toh, saya pikir dana pensiun ‘baru’ akan kami pergunakan kira-kira 25 tahun lagi. Kalau untuk jangka panjang, boleh dong investasi ke instrumen yang resikonya (agak) besar? 😉

Untuk liburan? Kalau investasinya nggak berhasil, ya tinggal ubah tujuan liburannya ke tempat yang lebih murah 😛

Ada untungnya juga punya profil resiko yang beda begini. Saya jadi lebih ‘mikir’ dulu sebelum bertindak. Sebelum beli yang mahal-mahal (kalau yang nggak mahal mah ya sudahlah…I work for that, I deserve it dong :P). Nggak terlalu grabag-grubug. Walaupun tetap masih kacau juga 😦

Kepanjangan.

Ah, pokoknya obrolan masalah pengelolaan keuangan emang nggak pernah abis deh…

Selamat ngobrol dengan (calon) pasangan ya 🙂

Update:

Banyak komentar japri yang masuk ke email saya soal posting ini. Yang cewek pro. Yang cowok bilang enak bangeut 😛 Just to make things straight, jangan salah persepsi soal postingan saya di atas. Sama sekali bukan mengajarkan apalagi provokasi bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik dan benar. Karena memang nggak ada yang benar dan salah. Semua tergantung. Tergantung pasangan yang akan menjalaninya. Kebetulan, buat Rahman dan saya, itu yang terbaik buat kami. Menurut kami.

Yang saya mau highlight di postingan ini, hanya bahwa: sangat penting untuk mulai ngobrol (bagi yang belum) dengan (calon) pasangan masalah yang satu ini. Udah, itu aja. Bagaimana nanti menjalaninya, ya terserah hasil obrolan berdua. Dicari yang enak buat kedua pihak. Itu kan gunanya NGOBROL..? 😉

October 16, 2008 at 10:27 am 2 comments

gonjang-ganjing pasar modal: what should I do?

Udah lama nggak nulis soal keuangan dan perencanaan keuangan…Belajar saya mandek, lagi tertarik belajar hal lain hehehe Tapi mumpung pasar modal lagi gonjang-ganjing begini, sepertinya penting untuk ikutan urun rembug apa yang harus kita lakukan.

Alasan apa yang terjadi di pasar modal global, dan imbasnya ke pasar modal Indonesia, udah banyak diulas dimana-mana ya. Males nulis di sini hehehe

Lalu, setelah begini, kita sebagai orang yang baru belajar investasi, harus bagaimana?

1. Rencana keuangan harus jalan terus

Kalau sudah kondisi begini, kesediaan dana darurat harus diperhatikan. Dana darurat yang besarnya sekitar 3-6 kali kebutuhan bulanan kita itu, sangat berguna ketika kita butuh uang tunai mendadak, seperty safety net ketika pasar modal atau investasi kita yang lain terjun bebas.

2. Investasi juga harus jalan terus

Untuk pilihan investasi yang mana dan bagaimana, kenali resiko investasi Anda.

Konservatif
Kalau Anda tipe konservatif, jangan ragu dan malu untuk berhenti dulu jika Anda tidak merasa nyaman dengan kondisi pasar modal sekarang yang sangat tidak stabil. Tapi tetap sisihkan sebagian penghasilan Anda, untuk bermain di instrumen-instrumen jangka pendek. Jadi, tetaplah menabung, deposito, atau berinvestasi pada produk-produk berisiko rendah seperti reksadana pendapatan tetap.

Moderat
Jangan ikutan panik dan sibuk mencairkan reksadana. Saat ini kondisi pasar sedang menurun, jika Anda mencairkan reksadana sekarang, maka Anda akan melakukan cutloss. Padahal kalau tidak Anda cairkan, kerugian yang Anda derita hanya di atas kertas saja (tidak real). Tetap lakukan investasi secara reguler, karena kalau tidak, berarti Anda kehilangan momentum untuk mencapai apapun itu tujuan finansial Anda. Dibutuhkan tabungan yang jauh lebih besar nantinya, untuk menggantikan investasi Anda saat ini.

Agresif
Hi…hi…it’s time for shopping! 😉
Pasar saham sedang menuju ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Anda yang berani mengambil resiko pasti tak mau kehilangan kesempatan, memanfaatkan momentum penurunan tersebut. Bisa dengan menambah/menitikberatkan investasi pada reksadana saham untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang (di atas 10 tahun).

Apapun keputusan yang diambil, ingat untuk jangan ikut-ikutan. Banyak baca, tanya, sebelum mengambil keputusan. Dan jangan menipu diri sendiri. Kenali profil resiko Anda 🙂

October 15, 2008 at 8:04 am 1 comment


Categories

…recommended…

...photos...photos...

…i am part of…

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

...since january 3, 2008...

  • 118,239 hits