Archive for April, 2008

parno!

Iya, paranoid. Saya lama-lama jadi paranoid. Padahal biasanya saya percaya-percaya aja, bahkan sama orang yang baru kenal sekalipun.

Mau makan sekarang was-was. Ini pakai formalin nggak ya? Pakai pewarna tekstil? Pakai bahan kimia apa saja? Aspartame? Borax? Makan seafood deg-degan mercury. Makan ikan dan tahu was-was formalin. Sayuran ngeri pestisida. Daging ayam takut flu burung. Belum lagi issue yang daging tikus itu. Daging sagi? Waduh, kalau madcow gimana? Belum lagi sekarang ada issue telor palsu. Benar-benar menurunkan nafsu makan. Jadi kita makan apa?

Mau belanja online juga deg-degan. Kalau ditipu gimana? Kalau nanti barangnya jelek gimana? kan cuma liat dari foto. Padahal saya juga pedagang online. Dan nggak mau nipu.

Mau naik pesawat, takut juga. Kalau pesawatnya jelek gimana? Kalau perawatannya asal gimana? Tau sendiri kan perlindungan hukum untuk konsumen di Indonesia kurang sekali. Apalagi kalau masalah pesawat, kalau ada apa-apa, di udara gitu lhoooo…

Lama-lama jadi capek sendiri. Beberapa jadinya saya cuek aja. Makanan kalau emang enak, ya lupakan sejenak kuman-kuman dan bahan kimia itu. Tapi kalau lagi inget, ya sok bergaya hidup sehat. Makan organik!hehehe Pesawat juga. Tapi saya lebih suka naik budget flight yang *ir*si* itu daripada naik pesawat yang nggak budgettapiperawatannyabudget. Sepertinya pesawat *ir*si* itu lebih terawat, kabinnya bersih, termasuk interior dalam yang (buatoranglainmungkin) nggak penting, tapi membuat saya merasa lebih aman.

Jadi ingat salah seorang teman saya. Saking parnonya, dia nggak mau sama sekali untuk parkir menggunakan jasa vallet kemanapun dia pergi. Dia lebih betah muter-muter, bahkan sampai beberapa jam, nunggu parkiran kosong, daripada harus vallet. Untung saya belum tidak separno itu. Kalau akibatnya belum sampai mempengaruhi kesehatan dan keselamatan, saya masih OK. Termasuk soal belanja online (ya lain kali kan jadi nggak belanja di situ. Dan semoga yang nipu kena karmanya hehehe), vallet, parkir paralel (ada temen saya yang lain yang nggak mau sama sekali mobilnya diparkir paralel. Karena takut lecet ketika didorong-dorong katanya), dan parkir beberapa hari di parkiran umum (saya pernah ninggalin mobil di bandara, ninggalin mobil di Gambir, dan parkiran-parkiran lain. Alhamdulillah, aman-aman aja). Soal nggak percaya vallet ini, saya juga sempat nggak nyangka. Waktu pernikahan saya, di Rumah Ranadi, parkirnya memang tidak luas. Untuk akad nikah masih OK karena hanya keluarga yang hadir. Tapi untuk resepsi saya menyewa vallet. Sedihnya, ternyata ada beberapa teman saya yang tidak percaya vallet, dan memilih untuk parkir nun jauh di jalanan, atau sang suami tetap menyetir mobil keliling-keliling, dan sang pasangan memberi salam, langsung pulang. Waduh! Padahal valletnya itu bener-bener bukan vallet asal kok…itu perusahaan vallet professional, yang juga menangani vallet di beberapa hotel dan mal.

Di satu sisi, paranoid (yang tidak berlebihan) mungkin ada sisi positifnya juga. Kita jadi lebih waspada, lebih aware sama kemungkinan-kemungkinan terburuk. Jadi bisa lebih preventif. Ya, asal tidak berlebihan.

Kalau buat saya, ke-paranoid-an saya sama makanan jadi buat saya makin rajin..masak!hihihi…Iya, saya suka makan. Suka masak juga, soalnya bisa eksperimen sesuka hati saya. Nggak akan ada yang protes kalau bakso saya bakar dan saya kasih kuah mpek-mpek. Saya yang buat, saya yang makan. Nggak bisa protes kan?hehehe Tapi hobi masaknya, sama seperti hobi-hobi yang lain, amat sangat ditentukan oleh MOOD! Nah, karena parno ini saya jadi lebih niat masak. Setidaknya saya tau makanan itu terbuat dari bahan terbaik (yang bisa saya dapat), tidak mengandung MSG, pengawet, apalagi borax dan formalin. Bagus kan pengaruhnya? 😀

April 30, 2008 at 9:02 am 3 comments

concerned only with money

Saya baca satu artikel ini di Jakarta Post, sudah lama sekali. Sempat saya save, dan sekarang pas lagi beres-beres file, kebaca lagi. It is still true…

===============================================================

Since 1991 I have visited many places in Indonesia , from Medan to Makassar . As I learned Bahasa Indonesia I can easily mingle with ordinary Indonesians. My first opinion about Indonesia was very positive. Most people greeted me and invited me to their homes. In particular people in the countryside are very happy when a westerner visits their village.

After staying a long time in this country and having talked with many people at all social levels, from farmers to government officials, it seems that most have only one topic which keeps them entertained: money.

In my country, the Netherlands , people have many hobbies and ambitions. Dutch children as young as four years old want to become doctors, police officers, dentists, lawyers, musicians, dancers, etc. They are encouraged by their parents to swim, dance, sing, draw cartoons, love animals, respect nature and so on.
Indonesian children simply hang around all day in the vicinity of their house without having anything to do. They aren’t encouraged by their parents to do something useful as these parents only watch television, chat with neighbors or, even worse, sleep. As a European I become bored of being told every day that I am rich just because I’m from Europe .

Indonesians don’t care about their achievements, but only about the amount of money they acquire. The way they get this money doesn’t matter to them. People at all levels protest daily about corruption, but most of them are themselves corrupt. If those protesters could acquire top positions they wouldn’t mind being corrupt in the same way they now accuse others. A lot of the media, especially The Jakarta Post, run stories on widespread corruption. Unfortunately, it’s only talk with almost no action at all. In my opinion, the high level of corruption in Indonesia is caused by the fact that Indonesians have no ambition, except to acquire money. When they have more than they need, they simply have a party, buy a car, television, or waste it on other meaningless items. They don’t save it for their children’s education and future like we do in Europe .

What’s the meaning of money if you don’t know what to do with it?
How is this country going to develop if nobody cares about their achievements but only about money?

RONALD RAMAKERS

Medan , North Sumatra

April 29, 2008 at 4:28 am Leave a comment

SOSRO – GEBYAR KULINER NUSANTARA

Datang ya…Saya jualan juga 😉

April 17, 2008 at 2:33 am 1 comment

emas: investasi yang tak kenal inflasi

Dalam rangka diversifikasi keranjang investasi (kan katanya ‘don’t put all your eggs in one basket’ ;)), saya jadi terpikir untuk mulai berinvestasi di emas. Soal emas ini sebenarnya kakak saya yang paling tua dari dulu udah cerewet ‘kalau punya uang, beli emas’. Tapi saya jaman dahulu kala, yang jauh lebih menghargai sehelai tiket pesawat pp daripada bongkahan emas, mana mau mendengar? Dulu kalau liat tiket murah, langsung sakau, meriang panas dingin, pengennnn…! Sekarang ya sudah lebih mendingan. Sekarang udah bisa menahan diri, sedikiiiittt…Bangga saya 🙂

Back to emas.

Kenapa emas? Kalau untuk kaum perempuan, mungkin karena emas juga bisa sekaligus dipakai sebagai perhiasan dan (tidak jarang) menunjukkan status. Tapi sebagai instrumen investasi, ada yang lebih penting: emas dipercaya sebagai instrumen investasi yang tahan inflasi. Percaya tidak percaya, tapi nilai sebuah koin Dinar, emas 22 karat di masa Nabi Muhammad SAW – lebih dari 1400 tahun silam, masih tetap sama dengan nilainya hari ini. Harga seekor kambing tetap 1-2 Dinnar baik pada masa Rasulullah maupun saat ini. Tidak ada devaluasi, tidak ada inflasi. Hebat kan? Bandingkan dengan mata uang yang kita kenal. Harga 1 paket hemat McD 10 tahun yang lalu saja sudah jauh berbeda dengan harganya saat ini. Apalagi ratusan, bahkan ribuan tahun mendatang.

Untuk berinvestasi di emas, para pakar banyak menyarankan untuk tidak berinvestasi dalam bentuk perhiasan. Karena pada saat kita membeli perhiasan tersebut, ada ongkos pembuatan yang harus dibayar, dan ongkos ini tidak dihitung ketika suatu saat kita akan menjual perhiasan kita kembali. Jadi sebaiknya, berinvestasilah dalam bentuk emas batangan atau koin. Di ANTAM, pembelian emas batangan tidak dikenakan PPN. PPN dikenakan pada emas yang sudah diubah bentuknya menjadi tidak standard seperti koin emas atau emas perhiasan.

Untuk pembelian emas (batangan atau koin) bisa langsung ke

PT. Antam Logam Mulia, counter Trading

Telp. (021) 475 7108 Ext. 142-146 (Sdr. Maria, Sdr. Ria, Sdr.Joko)

Emas yang tersedia adalah emas batangan LM dengan kadar 99.99% dengan berat @ 1 gram, 2gram, 3gram, 5gram, 10gram, 25gram, 50gram, 100gram, 250gram, 1000gram

Transaksi bisa dilakukan secara Cash di kasir (max 50 juta), atau debit BCA, bisa juga melalui rekening PT ANTAM di BCA atau Mandiri.

Notes mengenai harga emas:

. Harga LM : Harga Jual ; Harga beli
. Harga emas setiap harinya berubah-ubah menurut standar Internasional (Lontdon Metal Exchange Price /LME Price). Harga LM ada dua sesi : Harga Pagi (09.00 s/d 12.00) dan Harga Siang (13.00 s/d 15.30)

Menurut PT ANTAM, order via telpon pada prinsipnya dapat dilakukan, hanya saja faktur akan dibuat jika pembeli telah mengirimkan bukti transfernya, harga hanya berlaku 1 hari saja.

Walaupun pembayarannya via transfer, emas yang dibeli hanya dapat diambil di counter Logam Mulia. Katanya lagi, ada jasa delivery, hanya untuk wilayah Jabodetabek, dan akan dikenakan biaya tambahan tergantung dari berat emas yang dibeli dan lokasi pembeli.

Untuk yang di luar Jakarta, LM hanya memiliki satu kantor perwakilan, di Surabaya.
Jl. Genteng Kali No. 67B, Surabaya
Telp. (031) 031-5491723

Selamat berinvestasi di emas ya 🙂

PS:

Kalau mau tahu lebih jauh soal emas, recommended booknya: ‘Keunikan Investasi Emas’. Ada kok di Gramedia.

April 16, 2008 at 8:22 am 19 comments

(terpaksa) merenung di siang bolong

Seringkali saya bersyukur dengan semua ‘kebetulan’ yang terjadi dalam hidup saya…’Kebetulan’ yang saya tidak percaya kalau itu ada, karena saya lebih percaya akan adanya Sang Sutradara Sang Maha-SuperPower-Adikuasa yang membuat semuanya terjadi, daripada hanya sekedar sederetan huruf yang kemudian membentuk kata ‘kebetulan’.

Seringkali juga saya bersyukur dengan semua anugerah yang sudah saya terima. Tidak semuanya indah. Tidak semuanya membawa senyum dan cengiran (yah, kalau udah lewat, jadinya cengengesan sendiri juga, kok ya bego polos bangeut! hahaha :P).

Tapi lagi-lagi, Sang Sutradara juga Maha Tahu, sangat amat tahu apa yang terbaik untuk saya, dan dengan sukarela selalu memberi, bahkan tanpa saya minta.

Tak jarang saya takut. Saya merasa selama ini saya bisa hidup baik-baik saja di dunia ini karena kebaikan (lagi-lagi) Sang Maha Segala. Saya makhluk ceroboh. Keluarga dan sahabat-sahabat saya sudah hapal betapa cerobohnya saya. Sering lupa. Sering ketinggalan barang. Sering ngelamun kalau nyetir. Sering melamun dimana-mana (I am a dreamer, a BIG ONE! huhuhu…). Sering ketinggalan barang. Nggak pernah punya barang yang awet, karena kalau nggak lupa naro, saya lupa punya barang itu (semangat belinya doang! 😦

Tapi lagi-lagi berkat Sang Super Power, saya baik-baik saja. Ketinggalan barang yang tak terhitung banyaknya, 90% selalu bisa saya temukan kembali. Padahal ketinggalannya nggak kira-kira. Di tram di Athena, Yunani. HP jatuh di satu toko di Belanda (saya nggak sadar. Baru sadar ketika ada seorang bapak yang mengejar sambil membawa HP saya. Padahal saya sudah di toko lain, di blok lain. Duh!). Koper ketinggalan (dua kali!) di London. HP lagi ketinggalan di kampus (ditemukan secara ‘kebetulan’ oleh teman saya hahaha). Kepala saya pernah nyariiiisss kepentok Secure Parking yang biasanya otomatis menutup ketika mobil akan bayar parkir. Pertama, di PIM. Saya nyebrang dari Ranch Market ke PIM, sambil ngelamun (guilty, confess!). Sementara teman yang bersama saya dan pak penjaga parkir sudah teriak histeris, saya sama sekali tidak sadar. Kedua kali, di JAKtv. Sering terlambat ke bandara, tapi sering juga pesawat beneran delay dan saya selamat. Banyak lagi cerita lain, panjang…malasbosan… Saya pikir keberuntungan rejeki saya berakhir setelah saya diterima UMPTN (hahahaha…menjadi saya, butuh keberuntungan luar biasa dan doa beribu orang untuk bisa diterima di UMPTN :P). Tapi ternyata tidak, masih banyak rejeki lain yang tak henti saya dapat. Tuhan baik, sangat baik, teramat baik.

Apa ya inti renungan siang bolong saya ini?

Saya sedang bingung. Mau hiatus dari nge-blog, mengurangi frekuensi kongkow-kongkow (hiks…), libur sebentar dari jalan-jalan, puasa sekejap dari makan enak (oooo, tidakkkkk…ini tidak bisa hehehe), mengurangi belanja, karena ingin fokus menyelesaikan SATU proyek idaman saya. Tapi ternyata, lagi-lagi, tawaran untuk ‘selingkuh’ datang…

3 more offers !!! The Fantastic Four with my (used to be) one and only focus…!!!

Saya pilih yang mana ya…?

PS: – Saya suka males buat keputusan. Suka nggak enak hati. Suka kebanyakan pertimbangan kalau dikasih waktu untuk mikir. Born impulsive, most of the decision I made are based on that judgement: impuls! Tapi itu enaknya punya Tuhan. Instead of blaming yourself for making awful bad decisions, you can ‘blame’ Him when things go wrong hahahaha…Yah, semoga kali ini pun begitu, amien…

April 14, 2008 at 9:21 am 2 comments

CUWI is in GO Girl

Adek saya, pas kebetulan lagi baca majalah GO Girl, eh…kok ketemu foto kaos yang kayaknya kenal! Lho, kok namanya sama??? Dan ternyata…

YESSS…

Our online store, CUWI, masuk GO Girl !!! Edisi Februari, yang special edition (baru ‘nemu’ sekarang hehehe…)

Dibilangnya, “toko online yang jualannya seru-seru…” YIPPPIIIEEE !!!

Senangnyaaa….jadi lupa kalau mau hiatus dulu dari dunia blogger hehehe

PS:

Majalahnya belum di-scan, yang penting pengumuman dulu 😛

April 12, 2008 at 7:56 am Leave a comment

permisi…

mau HIATUS dulu sebentar…

got a project in mind, will tell you later when…

I AM READY!!! 😉

PS:

Picture from here

April 7, 2008 at 3:11 pm Leave a comment

ITE: bukan hanya blokir situs porno

Sejak RUU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) disyahkan pemerintah tanggal 25 Maret 2008 lalu, dunia maya Indonesia makin rame ya…Banyak blog menulis, koran membahas, televisi mengupas, huru-haranya seperti Pemilu 🙂

Mulai dari omongan sang ‘pakar’ multimedia Roy Suryo yang bilang:

“Meskipun pemerintah telah memiliki undang-undangnya, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan ada perlawanan dari para blogger dan hacker yang biasanya akan mengganggu sistem pemblokiran tersebut. Saya yakin para blogger dan hacker pasti akan melakukan serangan terhadap sistem itu.”

Busyet, sejak kapan blogger suka nge-hack? Saya hacker dong?!? Hebat euy…Hidup blogger!

Yang lalu disambut dengan surat undangan terbuka kepada Roy Suryo, yang lalu ditanggapi dengan…wah, panjang, buka sendiri blognya 😉

Bukan kapasitas saya buat komentar soal RUU ini, nggak ngerti soalnya…Daripada sok pinter, salah, malu…Mendingan nggak tau, diam, cari tau…

Dari hasil ‘cari tau’ itu, saya baru tau kalau ternyata RUU ITE tidak hanya membahas soal pemblokiran situs porno, seperti yang selama ini banyak digembar-gemborkan. UU ini juga akan membahas masalah kepastian hukum dan pengamanan transaksi elektronik, yang tentu SANGAT BERMANFAAT bagi pelaku bisnis online. Bisnis Jualan online saya masih kecil sekali, gurem (malu juga bilang itu bisnis), nggak berguna buat di-hack 😛 tapi buat yang bisnisnya sudah mendunia dan menggurita, keamanan transaksi elektronik tentu bukan hal main-main. Apalagi cybercrime (hacking dan carding) semakin marak saja di dunia maya. Indonesia bahkan sudah sangat terlambat dalam hal ini. Negara-negara seperti Singapura, Malaysia dan India sudah lebih dulu jauh melangkah, apalagi negara-negara maju seperti USA dan di Eropah sonoh. Tapi daripada tidak sama sekali, yaahhh…asal bener aja implementasinya (jangan seperti kebijakan dilarang merokok di ruang publik).

Back to pelaku bisnis. Pelaku bisnis online bukan hanya penjual. Pembeli juga. Masih ingat pasti bagaimana dulu kartu kredit Indonesia tidak diterima di manapun untuk transaksi online. Lihat barang lucu di ebay, nggak bisa ikut bid, sengsara deh. Baru tahun ini (atau akhir tahun lalu ya?) paypal akhirnya bisa masuk ke Indonesia. Kemajuan besar yang menggembirakan dan memudahkan banyak pihak, termasuk saya yang jadi gampang belanja-belanja, hooraaaayyy!!!

Ini saya kutip dari Press Release: RUU ITE Disyahkan

“Adapun terobosan-terobosan penting yang dimiliki RUU ITE adalah: Tanda Tangan Elektronik diakui memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tandatangan konvesional (tinta basah dan materai), alat bukti elektronik diakui seperti alat bukti lainnya yang diatur dalam KUHAP, Undang-undang ITE berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di luar Indonesia, yang memiliki akibat hukum di Indonesia”

Setuju atau tidak setuju dengan RUU itu biasa. Mau cari siapa yang setuju-kenapa, siapa yang tidak setuju-kenapa, bisa lihat di blog yang lain. Blog saya cuman mau memberi informasi, kalau RUU ITE tidak melulu tentang blokir situs porno.

Ngomong-ngomong soal pembatasan pornografi di dunia maya, RUU Pornografi kita kemana ya…? Padahal dulu waktu masih draft, semua orang ikut bicara, dari politisi, pakar, pejabat, artis, tokoh agama, sampai ibu rumah tangga, tukang sayur, pedagang asongan, semuaaaa…Sampai juga ada ketakutan menurunkan turisme di Bali karena ada larangan turis bule berjemur telanjang dengan pakaian seadanya di pantai…Nyatanya? Jangan-jangan RUU ini juga akan…?

PS:

Kalau ada yang mau baca versi lengkap draft RUU ITE, ini ya…

ruu-ite-final-copy.pdf

April 2, 2008 at 5:27 am Leave a comment

masih mau yang instant?

dangdut-mania.jpghihihi…ketauan ya saya sedang tergila-gila dengan ‘PROSES’? 😉 Tapi, instant kalo makanan enak kok…Indomie goreng, ayamnya KFC, fillet-o-fishnya Mc D, nyaaaammmm…!!!

KISAH SELEBRITI GAGAL
Kompas Minggu, 30 Maret 2008

Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai “selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.

Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. “Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.

Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.

Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.

Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. “Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.

Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.

Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. “Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan “goyang suster ngesot”.

Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. “Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya. Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. “Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.

Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. “Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.

Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. “Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.

Korban mimpi
Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.

Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.

“Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.

Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. “Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.

Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. “Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.

Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. “Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”

Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. “Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.

Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.

April 1, 2008 at 5:01 pm 2 comments


Categories

…recommended…

...photos...photos...

…i am part of…

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

...since january 3, 2008...

  • 118,987 hits