Archive for March, 2008

memilih

Dari Pak Fauzi Rahmanto, yang tulisannya selalu saya kagumi

===============================================

girl-with-glass-cartoon.jpg“Our lives are a sum total of the choices we have made.” — Dr. Wayne Dyer

Alangkah beruntungnya manusia.

Tuhan memberi kesempatan untuk menjalani setiap detik dalam hidup kita dengan pilihan. Dari bangun tidur, sampai kita tidur lagi, kita dapat memilih. Begitu bangun di pagi hari, Anda dapat memilih untuk langsung bangun dan beraktifitas, atau memilih untuk bermalas-malasan di tempat tidur. Di pagi hari, Anda dapat memilih untuk menyapa anak, istri dan keluarga di rumah dengan semangat dan senyuman, atau cemberut dan mengomel bahwa Anda kesiangan. Sambil sarapan, Anda dapat memilih untuk berbicara dengan anak Anda tentang sekolahnya, membaca berita buruk di koran, atau nonton gossip artis di TV. Di kantor, Anda dapat memilih untuk memulai menyelesaikan pekerjaan Anda, atau sekedar chatting dengan teman-teman Anda di kantor lain. Dan seterusnya. Pendek kata: Anda memiliki pilihan.

Dahsyatnya kekuatan pilihan, dapat Anda lihat dari kehidupan orang-orang sukses. Dunia teori fisika tidak akan diperkaya dengan “radiasi Hawking” seandainya Stephen Hawking memilih untuk menyerah ketika mendapati dirinya lumpuh akibat amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Entah bagaimana wajah industri software komputer saat ini, kalau saja Bill Gates memilih untuk melanjutkan kuliah dan membuang mimpinya merintis perusahaan perangkat lunak bersama Paul Allen. Mungkin tim balap Formula 1 dan produsen mobil sport terkemuka Ferrari tidak akan pernah ada, kalau saja Enzo Ferrari memilih untuk cukup puas menjadi karyawan Alfa Romeo.

Lalu apakah dengan demikian kita harus menunggu untuk membuat sebuah keputusan besar sebagaimana Hawking, Gates atau Ferrari? Tidak. Mereka tidak serta merta membuat sebuah keputusan besar. Namun melalui hidupnya dengan pilihan-pilihan kecil yang membentuk keputusan besar mereka di kemudian hari. Bill Gates tidak serta merta memutuskan untuk mendirikan Microsoft. Namun jauh sebelumnya, Gates muda telah memilih untuk mengikuti “ekskul” komputer di SMA nya. Memilih untuk “hang out” dengan Paul Allen dan kawan-kawan untuk mengutak-atik program komputer, memilih untuk berbisnis di usia muda dengan membuatkan program untuk produsen Altair, kemudian IBM PC, dan seterusnya. Pilihan-pilihan kecil yang kemudian membentuk seluruh hidupnya.

Setiap detik adalah pilihan. Dan setiap pilihan, sekecil apapun, menentukan masa depan kita.

Namun, apakah kita sudah benar-benar memahami bagaimana caranya memilih? Sebagai contoh, ketika ada peluang usaha ditawarkan kepada kita, apakah kita memilih untuk serta merta menolak, atau mencoba mempelajarinya dahulu? Di sebuah acara formal, ketika kita melihat ada orang yang dapat memberikan pengaruh positif kepada kita, apakah kita memilih untuk berkenalan, atau malah menunduk malu dan menghindar? Ketika anak kita tidak mengikuti kemauan kita, apakah akan kita hardik dengan amarah, atau coba ajak bicara? Pilihan-pilihan kecil. Namun bisa berdampak besar.

Ya, tapi bagaimana cara memilih? Mengapa kita sering ada dalam situasi yang sepertinya “salah pilih”. Apakah ada teknik untuk membantu dalam memilih? ADA.

Salah satunya yang menurut saya sangat efektif digunakan di banyak bidang kehidupan adalah teknik H-O-W yang diajarkan oleh David Freemantle dalam buku-nya “How to Choose”.

Teknik H-O-W ini terdiri dari tiga bagian:

1. Hesitate (Pertimbangan)

Langkah pertama adalah untuk selalu melakukan pertimbangan sebelum Anda memberikan reaksi. Melakukan pertimbangan berarti tidak memberikan reaksi spontan yang seringkali hanya didorong emosi. Contohnya ketika karyawan Anda ada yang melakukan sebuah kesalahan fatal yang merugikan bisnis Anda, apakah yang akan Anda lakukan: memaki, menampar atau langsung memecat. Itu kalau Anda tidak menggunakan pertimbangan. Pertimbangkanlah. Anda punya pilihan. Diamlah sejenak, untuk masuk ke tahap memilih berikutnya.

2. Outcomes (Hasil)

Sudahkah Anda memikirkan hasil yang akan Anda peroleh. Dan yang lebih penting lagi, hasil apakah yang Anda inginkan dari pilihan yang akan Anda ambil? Ketika raport anak Anda di sekolah demikian jeleknya, mungkin Anda ingin memarahi Anak Anda habis-habisan hingga ia menangis, terluka hatinya, dan hilang rasa percaya dirinya. Itukah hasil yang Anda inginkan? Atau Anda menginginkan anak yang bahagia, optimis, percaya diri, dan buahnya nanti adalah prestasi yang baik? Pikirkan dulu hasilnya, sehingga Anda dapat masuk ke tahap memilih yang ketiga.

3. Ways (Cara)

Kalau sudah ketahuan hasilnya, Anda bisa memperluas pemikiran Anda ke cara-cara yang dapat Anda tempuh. Jika hasil yang ingin dicapai adalah karyawan yang tidak melakukan kesalahan, mungkin Anda bisa mulai menulis aturan perusahaan yang lebih tegas, melakukan pelatihan kembali, atau mungkin sistem dan prosedur perlu dibenahi. Jika anak yang sehat lahir batin, bahagia, optimis, bertanggung-jawab dan percaya diri yang ingin Anda peroleh, maka mungkin Anda bisa mulai memberi kepercayaan, tanggung-jawab dan bimbingan untuk anak Anda. Cara ini dapat Anda kembangkan seluas-luasnya, dan dapat Anda jalankan secara parallel.

Ah, tapi hidup adalah pilihan. Menerapkan teknik ini atau tidak, adalah pilihan Anda.

Selamat membuat pilihan yang lebih baik. (Fauzi Rachmanto)

PS:

Saya impulsive, spontan, dan seabrek sifat sejenis lainnya. Tulisan Pak Fauzi ini saya baca di saat saya benar-benar M.A.R.A.H (dengan huruf besar, tebal, garis bawah, dan warna merah, lengkap kan ekspresi marah saya? :)) karena mendengar cerita tentang saya, yang lagi-lagi tidak benar. Saya heran, saya tidak merasa kenal personally dengan orang itu, hanya kebetulan cerita hidup kami ada yang bertemu, sedikit. Tapi kenapa dia begitu teganya cerita macam-macam? Hanya supaya orang mengasihani dia, dan menyalahkan saya? Saya marah dituduh yang tidak-tidak. Marah sekali. Tapi sekarang, saya memilih untuk DIAM. Marah dan konfrontasi langsung malah hanya akan memperkeruh masalah (terima kasih tulisannya Pak, saya jadi memilih untuk membuat pertimbangan dulu sebelum marah :)). Saya percaya KARMA. Saya masih punya Tuhan, yang tanpa saya minta pun pasti akan memberi balasan yang setimpal atas perbuatan semua orang. Baik ataupun buruk. Tuhan itu adil. Dan jangan lupa ya mbakyangsukaasalngomong, fitnah itu dosa besar lho! Dosanya tidak akan hilang selama yang difitnah tidak mengampuni. Dan saya bukan makhluk mulia mbak, saya nggak akan mengampuni sebelum mbak minta maaf. Sama saya. Langsung. Tanpa Perantara. Meanwhile, enjoy your karma 🙂

March 30, 2008 at 4:19 pm 5 comments

nikmatilah proses itu…

Saya senang jualan. Buat saya, sekarang jualan itu udah bukan sekedar cari tambahan penghasilan, tapi udah ke aktualisasi diri, sarana networking, melatih kreativitas, dan melatih otak biar nggak mandeg, nggak jalan di tempat karena hanya mengerjakan hal-hal yang sambil merem pun bisa kita lakukan-saking seringnya dilakukan. Kalau bosan dengan rutinitas, terus ketemu ide barang jualan baru, wah semangatnya, benar-benar seperti battery yang habis di-charge 😉 Perkara untung atau rugi, dalam bentuk rupiah, jujur saya belum terlalu menghitung (mungkin saya harus ya, biar lebih semangat :)), karena saya merasa ada banyak keuntungan lain yang saya dapat, yang non-material, yang tidak bisa diukur dengan uang.

Mulai dari ide, konsepnya, mikir buat strategic plannya, buat promosinya, cari vendor, cari customer, design kartu nama, banner, ketemu orang-orang baru, wah…prosesnya itu lho, seru!

Dulu, waktu saya masih berjualan baju yang dibuat kakak saya (yang jait mas jait namanya, nanti kapan-kapan saya cerita tentang masjait yang udah di keluarga kami 14 tahun itu…), kalau ada yang tanya, bajunya darimana? Tinggal dijawab, buat sendiri mbak..kita juga terima jaitan lho…beres!

Sekarang, setelah industri tekstil China gila-gilaan murahnya, jauh lebih efisien dan murah untuk beli jadi. Bayangkan saja, harga 1 m kain di Jakarta = harga 1 dress di Bangkok. Itu kain yang sama persis lho…Contoh: kain untuk membuat baju ini, yang juga saya lihat kain mentahnya di Jakarta:

dress-polkadot-hitam.jpg

Note: dress koleksi cuwi (beli jadi di Bangkok)

Padahal untuk buat baju seperti itu butuh kain lebih dari 1 m, kain itu belum dijahit, belum beli benang, kancing, bayar tukang jait, dll. Kacau kan perbandingan harganya? Mas Jait yang jaitannya bagus dan rapih itu tentu nggak bisa dihargai sama dengan penjahit konveksi yang produksinya massal. Di China pula, yang tenaga kerja nyaris tak ada harganya.

Jadi untuk baju-baju casual, kami lebih memilih beli di China atau Bangkok. Mas Jait untuk kebaya, baju muslim, dan baju-baju ‘serius’ lain yang memang harus diukur, dibuat satu-satu.

Nah, sejak tau barang-barang saya kebanyakan dari Bangkok atau China, entah kenapa pertanyaan ‘Elo beli baju di mana Dek? Di Bangkoknya dimana Dek? Gue mau jualan juga’ mulai banyak saya terima. Awalnya saya juga bingung jawabnya, karena saya dan kakak adik saya tidak punya supplier tetap. Kami suka belanja, jadi kalau ada yang bagus dan murah, ya kami beli. Sebagian untuk kami pakai sendiri, sebagian untuk dijual lagi. Sering belanja, lama-lama memang kami jadi tau toko mana yang barangnya lucu-lucu dan sesuai selera kami, mana yang buang waktu saja didatangi.

Lagi-lagi, itu proses. Dan saya menikmatinya.

Tapi tetap saja untuk menjawab koleksi cuwi beli dimana, kok saya masih bingung untuk menjawabnya ya?

Panjang umur, pertanyaan soal supplier ini ternyata juga menimpa beberapa pedagang online seperti saya. Dan saya setuju dengan mereka semua: sangat tidak etis menanyakan supplier Anda siapa dalam dunia bisnis.

Bukan karena saya takut rejeki saya diambil orang. TIDAK SAMA SEKALI. Saya percaya sekali kalau rejeki sudah ada yang mengatur, sudah ada jatahnya masing-masing, dan TIDAK MUNGKIN tertukar. Kalau rejeki saya di jualan baju di’ambil’ orang, pasti ada banyak pintu rejeki lain yang terbuka, bukan? 🙂
Lalu, kenapa tidak etis? Saya setuju dengan apa yang Mbak Doris bilang di blognya:

‘Hargailah proses mereka yang sudah melewati jatuh bangunnya mencoba supplier demi supplier hingga akhirnya menemukan yang pas sesuai dengan target market toko, proses mencari jalan untuk mendapatkan keuntungan dari usahanya setiap hari dan juga proses mencari jalan untuk mempertahankan pelanggannya agar tetap loyal berbelanja di toko masing-masing.’

P.R.O.S.E.S.

Kita seringkali mencari jalan pintas, dan lupa kalau jalan panjang nan berliku yang bernama PROSES itu yang menempa kita menjadi lebih baik.

Kalau masih juga menganggap saya pelit bagi-bagi rejeki, begini saja:

Mulailah mencari suppliermu sendiri. Nikmati dan rasakan prosesnya.

Lalu tanya kembali, etiskah kalau ada yang menanyakan supplier saya siapa? Tanya jawabannya pada hati nurani masing-masing 🙂

PS:

– Semoga tidak ada yang salah sangka dengan postingan saya ini. Tidak ada yang tersinggung. Tidak ada yang marah dan bicara di belakang. Saya TIDAK SUKA orang bicara di belakang, jadi monggo bilang langsung…

– Koleksi fashion cepat berubah. Saya pernah beli baju yang larismanis. Bulan depannya saya ke Bangkok lagi, mau beli lagi, dan ternyata sudah habis. Sudah muncul banyak koleksi baru. Jadi lagi-lagi, itu rejeki namanya kalau bisa menemukan baju-baju lucu TEPAT pada saat kita lagi belanja 🙂

– Saya mau dan tidak keberatan berbagi ilmu, walaupun ilmu saya masih cetek. Tapi tolong bedakan antara berbagi ilmu vs info soal supplier ya 🙂

March 29, 2008 at 5:47 pm 7 comments

confession of a really bad driver

bad-driver.pngSetelah dengar cerita Imme soal proses perpanjangan SIM (baca di blognya aja, lebih detil dan jelas daripada diceritain), saya jadi terpaksa inget kalau SIM saya udah expired…2 tahun!

SIM saya tercinta itu habis masa berlakunya 11 Maret 2006. Waktu itu saya mau perpanjang, pas saya kebetulan pulang ke Lampung, ternyata katanya harus bawa KTP Lampung. Kalau KTPnya Jakarta, ya perpanjang di Jakarta aja, walaupun sebelumnya itu SIM Lampung. Nah, di Jakarta susah banget cari waktu buat perpanjang SIM. Dan sekarang kata Imme, musti pake test drive pula…Saya emang bisa nyetir, tapi matic only! hehehe…Saya putus asa belajar manual. Mati-mati melulu. Lagipula, buat apa mobil matic diciptakan, kalau bukan untuk mempermudah hidup, bukan?

2 tahun tanpa SIM sebenarnya bukan aman-aman saja. Saya pernah nulis soal ditangkap polisi, tapi waktu itu saya masih ber-SIM. Nah, setelah SIM saya habis masa berlakunya tahun 2006 lalu, saya pernah 1 tahun juga tidak berSTNK. STNK saya abis bulan Maret juga (iya, iya, lupa adalah bukan alasan untuk tidak membayar pajak, tapi saya benar-benar lupa).

Waktu tidak ber-SIM dan ber-STNK, saya pernah ke Bandung dengan 2 sahabat saya. Pergi tanpa rencana, seperti biasa. Suatu malam kita lagi makan roti bakar di Menteng, dan sedikit protes dengan kejunya yang sedikit. Diskusi masalah hidup (halaaahhh…) kemudian beralih ke roti bakar mana yang paling yummy, kejunya banyak, dan semua langsung setuju…MATARI !!! BANDUNG !!! Dan entah siapa yang memulai, semua juga langsung setuju untuk…pergi ke Bandung! Malam itu juga! Kami rindu Matariiii !!!

Yang ironis, sampai Bandung, Matari udah abis, dan kita akhirnya end-up di Oh La La, Dago yang buka 24 jam. Besok paginya keliling Bandung, saya yang nyetir, karena si dodolduren tea males nyetir, dengan alasan capek! Di depan McD, perempatan Dago (otw ke tempat sop es duren), tiba-tiba kita di-stop polisi. Saya panik berats! Nggak tau salah apa, tapi yang pasti, STNK dan SIM saya mati. Sok cuek, buka kaca, tanya ‘Kenapa pak? Salah saya apa?’ Pak Polisi yang terhormat itu lalu memerintahkan untuk menepi. Menepilah saya perlahan, dan Pak Polisi mengikuti dengan jalan kaki di belakang. Tiba-tiba, nggak tau kenapa, mobil saya mati mesinnya! Nggak pernah tuh sebelumnya kayak gitu. Dengan panik, saya buka kaca dan bilang, ‘Pak, mobilnya mogok nih…Gimana dong Pak?’. Si polisi itu terus bilang, ‘Dorong..dorong..ke pinggir…’. Terus saya liat polisi itu balik arah, jalan menjauh. Males kali ya beliau, takut diminta bantu dorong. Dan tiba-tiba, setiba-tiba matinya mesin mobil, setiba-tiba itu juga mesin mobil saya nyala! Dan di belakang ada 2 truk sampah besar-besar, sedikit menghalangi polisi-polisi itu (ada dua polisinya). Dan dengan cerdasnya, salah satu sahabattercinta saya itu bilang,”Kabur Dek, kabur…”. Dan saya yang nggak cerdas tapi refleksnya bagus, langsung kaburrrr….! Dan kami selamat sampai tempat es duren, walaupun agak muter-muter masuk jalan-jalan lain dulu, takut dikejar sama polisinya…Ternyata kita ditangkap polisi karena sahabat saya yang duduk di jok depan, dengan gayanya pake seat-belt nggak niat, jadi keliatan dari luar seperti tidak pakai seat-belt. Aaarrrggghhh!

Saya pernah kabur juga waktu (nyaris) ditangkap polisi di Mal Taman Anggrek (MTA). Saya mau ke rumah kakak saya, lewat jalan yang di sebelah MTA. Saya belok kiri, dari lajur tengah. Biasanya OK aja. Tapi tiba-tiba ada polisi, dan saya lihat polisi itu melambai-lambai, menyuruh saya berhenti. Dengan pasang tampang lempeng, saya jalan aja terus, kebuuutttt!!! Untung nggak dikejar…pheeewwww….!

Mungkin Tuhan kesal lihat saya yang udah banyak ditolong, tapi tetap nggak sadar untuk bayar STNK dan perpanjang SIM. Sepulang dari menghadiri press conference Singapore Tourism Board di EX (saya bolos kantor, demi panggilan tugas yang lain :)), saya ditangkap polisi karena muter di bunderan yang ada patung kuda (apayanamanya). Padahal, saya hanya mengikuti mobil box di depan saya. Mobil itu lolos, saya tidak.

Masih inget kan email berantai yang bilang kalau jangan bayar sama polisi, tapi minta saja slip biru, karena itu artinya kita mengaku salah, dan tidak akan kena pungli dll? Mencoba jadi warga negara yang baik (iya, iya, tidak bayar pajak adalah bukan warganegara yang baik, tapi kan saya usaha ;)), saya ikuti anjuran itu. Saya bilang sama Pak Polisi (saya dibawa ke pos, yang penuh berisi polisi) kalau saya minta slip biru saja. Eh, ternyata slip biru tidak ada! Dengan sombongnya, polisi itu bilang, ‘Slip biru apa?!? Udah, sidang saja!’. Paniklah saya mengiba-iba. Kalau salah saya ‘hanya’ melanggar rambu lalu lintas, mungkin saya bisa lebih tenang. Tapi ini? Kesalahan saya tiga: melanggar rambu lalu lintas, STNK belum dibayar, dan SIM saya mati! Tanpa saya harus cerita, pasti tau kan akhirnya? Polisi Indonesia belum berubah kok 😉

Masih belum kapok, saya belum juga bayar STNK dan perpanjang SIM. Dan kembali saya ditangkap. Kali ini di Bundaran HI. Pulang dari nonton di Blitz, sedikit macet di Bundaran HI. Dan saya sok pindah jalur (ke jalur sebelah kanan). Dan saya ditangkap! Katanya kalau di bundaran HI nggak boleh pindah jalur ke kanan (benar nggak ya?). Dan kembali kesalahan saya tiga. Dan kembali saya lolos, dengan cara yang sama.

Kapok, saya lalu bayar pajak.

SIM?

Belum…

sampai sekarang…

PS:

– Tadi jalan kaki dari Pacific Place (teman-temanku yang tidak di Indonesia, ada mal baru -beberapa bulan- di depan BEJ) ke jaktv. Ternyata dekat kok, kurang dari sepuluh menit.

– Setelah selama ini kalau buat kue saya pakai feeling, tadi akhirnya saya ingat untuk beli timbangan. Jadi makin semangat eksperimen! 🙂

March 27, 2008 at 4:36 pm Leave a comment

kerja: keinginan atau kebutuhan?

Semua ilmu perencanaan keuangan pasti bilang:

‘Sebelum membelanjakan uang, bedakan antara kebutuhan dan keinginan’ .

Maksudnya, kalau hanya keinginan, bukan kebutuhan, berarti lebih baik kendalikan diri, beli yang dibutuhkan saja.

Nah, itu dari sisi pengeluaran. Lalu bagaimana dari sisi pendapatan?

Salah satu sumber pendapatan kita adalah dari bekerja. Sampai sekarang, kerja buat saya masih kebutuhan. Ya butuh uang gajinya: untuk hidup sehari-hari, dan juga untuk membiayai keinginan-keinginan saya yang banyak sekali itu :); butuh juga untuk aktualisasi diri, sosialisasi, networking, dan yang paling penting: wadah pengembangan diri, untuk melihat dunia, biar tidak seperti katak dalam tempurung.

Kalau di CV, riwayat pekerjaan saya belum begitu panjang, ‘baru’ 5 (dalam 5 tahun kerja ;)). Ini urutannya: FEUI, Conservation International – Indonesia, ASEAN Secretariat, GTZ, dan WSP-EAP, World Bank. ‘Hanya’ itu yang saya tulis di CV, padahal sebenarnya ada banyak ‘sampingan’ lain yang juga jadi ajang pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang saya bilang di atas.

Orangtua saya pengusaha, dengan penghasilan tidak menentu. Pernah ditipu orang sampai bangkrut, sering dimanfaatkan ‘teman’ yang hanya ingin uangnya saja, dan itu semua membuat kami sekeluarga harus kerja sama, kompak, dan kreatif agar bisa tetap survive. Kedua orangtua saya pejuang sejati, saya belajar banyak dari mereka. Ah, saya jadi ingin bercerita tentang kedua orangtua tercinta itu, tapi nanti saja ya di tulisan yang lain, daripada tulisan ini kembali masuk draft 😉 Saya mulai ‘bekerja’, cari uang sendiri, resminya dari SMA. Kakak saya punya jaitan (kakak saya nggak bisa jait, tapi suka design baju, padahal kuliah psikologi – keluarga saya memang aneh hehehe), sering buat baju casual, rok-rok lucu, jadi saya bantu jualan ke teman-teman SMA saya. Lumayan, saya jadi tidak harus minta uang jajan 😉

Setelah kuliah, kebiasaan dan kebutuhan untuk jualan makin menjadi. Waktu musim tas bulu, saya dengan kakak dan adik saya tiap hari Minggu jualan di Senayan (waktu itu pedagang masih boleh jualan di pinggir putaran lari). Berangkat dari Depok jam 4 pagi (kalau kesiangan, tempatnya sudah penuh), sampai Senayan cari posisi, ngemper, membentangkan sehelai kain dan tas-tas ditaruh di atasnya. Waktu itu hasilnya lumayan bangeut, bisa lebih dari 1 juta rupiah, jam sembilan dagangan kami sudah habis. Datang gotong-gotong karung berat, pulangnya enteng. Senang 🙂 Lebih dari cukup untuk biaya hidup sehari-hari, dan kami bisa belanja-belanja juga (banyak barang lucu-lucu lho di Senayan itu…). Tas bulu itu juga saya jual di bazaar dan teman-teman kampus. Mungkin karena model tas kami yang beda, lucu-lucu katanya, jualan kami laris manis. Alhamdulillah…

Musim tas bulu berakhir, kami jualan baju, tas (bukan bulu), celana, sepatu, pokoknya semua kebutuhan perempuan. Ikut bazaar di mana-mana, dari perkantoran, bazaar mingguan di KTS (masih inget kan booming kafe tenda di Semanggi? Nah, dulu ada bazaarnya juga, rame…), sampai bazaar di Kemang. Kalau ingat ini, terkadang saya miris juga. Tak jarang ada yang menghina kami jualan begini. Bahkan ada yang menanyakan, ‘kenapa nggak kuliah?’. Wah, kalau sudah ditanya begitu, saya cuman bisa cengengesan, dan bilang, ‘Iya, ini lagi ngumpulin uangnya’. Padahal dalam hati saya yakin, pendidikan saya jauh lebih baik dari yang nanya 😉 (ah, saya kok jadi ikut menilai orang dari luar ya…)

Dengan teman kuliah, saya pernah juga beberapa kali jualan. Pertama, coba jualan waffel, di bazaar buku FEUI. Laku berats! Saya bisa ngadon (ngaduk adonan buat waffel) di tempat jualan beberapa kali karena yang dibawa dari rumah sudah habis. Awalnya hanya pakai cetakan waffel punya saya, tapi kemudian dari hasil keuntungan, partner jualan saya jadi bisa beli cetakan tambahan.

Terus pernah juga jualan bunga mawar di wisuda UI. Bunga mawarnya yang besar-besar, dijualnya lebih mahal daripada mawar biasa, tapi laku-laku aja tuh 😉 Jualan sehari, cukup buat uang jajan sebulan…

Tahun ketiga kuliah, tahun 1999, saya jadi asisten dosen. Waktu itu untuk mata kuliah Statistika, dibayar Rp 75,000/1 jam ngajar. Lumayan banget. Setau saya, di fakultas lain asdos dibayar tidak setinggi itu. Sempat juga diledek teman-teman, saya yang jarang masuk kok jadi asdos? Mau jadi apa itu anak-anak? 😉

Sambil ngasdos, saya juga ngajar private. Beruntung kemampuan bahasa Inggris saya bagus, jadi saya bisa ngajar anak expatriate, anak SD. Rumahnya di Fatmawati, dekat D-Best. Penghasilan saya sekitar Rp 300,000/bulan waktu itu. Seminggu sekali saya juga ngajar bahasa Inggris di IEC – Depok, bayarannya nggak sebanyak asdos dan ngajar private, tapi lumayan untuk tambahan. Keuangan saya mulai membaik, dan saya merasa kaya 🙂

Note: Dengan ketiga sampingan itu, dan saya juga gabung di 2 organisasi kampus (AIESEC – 5 tahun, bahkan sampai saya lulus pun saya masih terlibat di sana dan Senat Mahasiswa FEUI -Bidang Pengabdian Masyarakat), wajar kan kalau saya jadi malas nggak bisa masuk kelas mencari pembenaran 😉

Dengan segala kesibukan kerja sampingan dan organisasi itu, saya jadi nggak jualan lagi. Apalagi setelah tahun-tahun terakhir saya kuliah, saya mulai bantu-bantu di Conservation International. Waktu itu inget bangeut saya bantuin organize satu workshop di Bogor, soal lingkungan dan debt-swap, cuman datang beberapa kali untuk persiapan, workshop 2 hari di Novotel – Bogor, dan saya dibayar USD 150! Wow, anak kuliahan dapat honor dollar, noraknya gak ketulungan 😉

Setelah workshop itu, saya ditawarin untuk gantiin Mbak Myrna yang cuti melahirkan 3 bulan. Kuliah saya udah tinggal 2 mata kuliah, jadi saya iya aja. Padahal full-time, lha wong posisinya jadi sekretaris merangkap front office. Mulai dari ngatur jadwal meetingnya pak bos, arrange itinerary semua orang, booking ticket, bantu-bantu organize event, buat surat, terima telpon, wah seru deh…Yang asik: orangnya baik-baik, lingkungan kerjanya enak banget, saya masih boleh ngasdos, saya masih boleh ijin kalau ada jadwal ngasih training buat AIESEC, makan siang bisa sampe jam 3, ngantor bisa pake sendal jepit dan kaos, wah pokoknya saya seneng bangeut! Gajinya waktu itu 2.5 juta rupiah. Saya makin kaya 🙂

Setelah 3 bulan, Mbak Myrna masuk kerja lagi, dan saya ditawari untuk kerja beneran di CI, jadi staf untuk proyek kampanye hutan Sumatera dan Kalimantan – INFORM (Indonesia Forest and Media Project). Ditawarin gitu saya sempat dilema, karena ada tawaran untuk kerja di private sector juga (nanti kapan-kapan saya ceritain). Akhirnya saya pilih CI, dan saya memutuskan untuk lulus kuliah. Tadinya saya belum mau lulus, soalnya saya kan baru 5 tahun kuliah, jatahnya kan 7 tahun 😉 Waktu itu dapetnya lumayan deh, ini perbandingannya: gaji saya = teman saya yang jadi MT di perusahaan multinasional 🙂 INFORM baru setengah jalan, dan saya dapet beasiswa ke Belanda.

Di Belanda, saya memang di’gaji’ untuk belajar. Untuk uang beasiswa dapat jatah 875 euro / bulan. Lebih dari cukup untuk biaya hidup. Tapi saya kan mau jalan-jalan, jadi saya cari tambahan lagi. Tanya kanan-kiri, ada senior yang menyarankan untuk pasang iklan di parish.nl, komunitas untuk English Speaking International Roman Catholic Parish di Den Haag. Yang saya tawarkan bersih-bersih rumah 😉 Alhamdulillah, saya dapat 2 pekerjaan. 1 di Wasenaar, untuk satu keluarga campuran: ibu Argentina dan bapak Malaysia (anaknya cakep-cakep euy…hihihi…sempet aja!). Satu lagi untuk keluarga pasangan UK – New Zealand. Anaknya masih balita. Saya dibayar 8 euro per jam untuk bersih-bersih rumah, termasuk vacuum, sikat toilet, beresin kamar, dan bersihin dapur. Belakangan saya baru tau kalau kerja bersihin rumah orang ratenya memang lebih bagus daripada kerja di restoran (ada beberapa teman saya yang jadi waitress atau di dapur – cuci piring dan bantu koki masak), yang ‘hanya’ 5.5 – 6.5 euro per jam itu. Saya cuman kerja 6 jam per minggu, dan cukup untuk biaya jalan-jalan saya 🙂

Sebenarnya saya pengen cerita banyak soal kerjaan di Belanda ini. Saya belajar banyak lho dari kerjaan ‘sepele’ itu, dan saya bersyukur majikan saya baik-baik. Terharu deh kalo inget kebaikan-kebaikan mereka, saya seperti punya keluarga baru huhuhu…Tapi udah ah, daripada kepanjangan, bosen bacanya, saya sudahi sampai di sini saja. Nanti ya saya tulis, termasuk cerita-cerita soal kerjaan saya setelah pulang dari Belanda…Kapan-kapan 🙂
PS:

– Makasih ya yang udah ninggalin message di meebo saya. Tapi mau bales bingung, karena isinya cuman ‘meeboguest****’. Lain kali tulis nama dan linknya yak (kalo ada)…

– Saya bukan bermaksud riya’ atau apa dengan tulisan saya ini. Saya cuman ingin mengingatkan diri saya sendiri…cuman ingin blog ini jadi prasasti sebagian perjalanan hidup saya…yah, kali-kali kalau nanti saya udah pikun, anak-anak saya kan bisa baca di blog ini tanpa harus saya ceritain 😉

March 24, 2008 at 4:03 pm 10 comments

FOCUS !!!

dartboard.jpgNote: ‘Focus’ here is not focus as in ‘a point of convergence of a beam of particles, as in lights, electrons, sounds, etc’, but more about focus as ‘a center of activity, attraction, or attention’ or point of concentration’

One of my biggest challenge in life as being ME is always focus and concentration. Saya termasuk salah satu orang yang susah fokus. Dari jaman sekolah dulu, saya nggak suka duduk di kelas dan dengar guru ‘ceramah’. Waktu kuliah lebih parah lagi, karena relatif lebih bebas, tidak ada keharusan untuk masuk setiap hari, saya jarang sekali masuk kelas. Teman-teman terdekat saya sudah cukup hapal dengan tampang saya yang sok serius mendengarkan dosen, padahal sebenarnya pikiran saya ngelantur kemana-mana. Saya lebih suka belajar sendiri, ketika saya mau, atau terpaksa karena ujian.

Contoh lain lagi banyak. Saya ingin sekali bisa nulis dan menerbitkan buku. Udah nulis beberapa lembar. Tiba-tiba di tengah jalan kepikiran ide lain, dan saya mulai menulis cerita lain. Hasilnya cerita saya nggak belum pernah ada yang selesai, hanya meninggalkan beberapa draft cerita tertumpuk di folder.

Begitu juga dengan postingan di blog ini. Kalau liat di bagian adminnya, ada beberapa draft yang sudah saya tulis (saat tulisan ini dibuat, saya liat ada 11 draft), dan belum selesai. Lagi nulis, lagi-lagi ‘berkhianat’, lagi-lagi buat tulisan baru, dan lagi-lagi akhirnya tergantung mood mana yang selesai duluan.

Untuk satu hal yang sederhana pun, saya juga tidak belum bisa fokus. Contoh, saya dari dulu pengen beli domain http://www.d3d3k.com. Browsing, cari-cari dimana tempat beli domain. Ketemu situsnya. Nah, instead of langsung beli domainnya, saya jadi iseng liat-liat domain lain yang bagus masih ada nggak. Kalau yang bagus itu udah ada yang punya, saya jadi browsing ke situs itu, pengen tau isinya apa. Begitu terus. Dan akhirnya saya jadi lupa tujuan awal saya, yang hanya beli d3d3k.com itu huhuhu… :((

Kenapa bisa begitu ya?

Padahal fokus itu penting.

The success-oriented mind is like a magnifying glass that focuses the rays of the sun in one concentrated spot. The magnified intensity of the rays dissipates the moment the glass is out of focus. When our minds wander from subject to subject, our productivity drops, our energies get sapped and our motivation dissipates’Gerhard Gschwandtner, publisher of Selling Power.

Saya sudah coba buat jadwal. Bertahun-tahun saya berusaha mendisiplinkan diri sendiri. Kapan kerja, kapan browsing, kapan belajar buat website, kapan bersosialisasi, kapan jalan, kapan ngerjain kerja sampingan, kapan ngurusin dagangan, dan kapan-kapan lainnya, tapi tetap saja hasilnya NOL BESAR! Saya benar-benar moody, semau saya, tidak bisa dipaksa, bahkan oleh diri saya sendiri. Menyedihkan!

Akhirnya saya buat deadline untuk semua yang mau saya lakukan. Sejauh ini saya cukup lega karena belum ada kerjaan atau komitmen lain yang keteteran. Semoga saja begitu terus. Salah seorang sahabat saya bilang, saya apa-apa dibuat deadline. Iya, karena kalau nggak ada deadline, saya akan terus nggak fokus, akan terus ngalor-ngidul kemana-mana, dan akhirnya yang penting-penting malah nggak selesai.

Ya, saya butuh deadline. Komitmen untuk harus selesai. Untuk apapun itu.

PS:

For you who have the same problem with me, please do share the tips ya…

– Walaupun susah fokus, saya bersyukur dikaruniai kecepatan…cepat berpikir, cepat tanggap, cepat belajar sesuatu, cepat mengerjakan sesuatu…Jadi biarpun kerja mepet deadline, bisa cepat selesai 😉

March 19, 2008 at 2:15 am 2 comments

90/10

Udah pernah denger ‘Prinsip 90/10’-nya Stephen Covey belum?Menurut beliau, dalam hidup kita ini:

– 10% terjadi karena apa yang KITA ALAMI…
– 90% sisanya ditentukan dari cara KITA BEREAKSI…

Kita tentu tidak bisa mengendalikan yang 10% itu. Buru-buru ke kantor karena ada meeting, tapi jalanan macet…Pesawat delay, gajian telat masuk, hidung pesek, muka jerawatan, badan pendek, dan seabrek hal lain yang kadang kita keluhkan. Kita memang nggak bisa mengontrol pesawat yang delay, hidung yang pesek, gaji yang telat masuk, ban mobil bocor, dan banyak hal lainnya, tapi kita bisa mengontrol yang 90%, REAKSI KITA ketika hal-hal itu terjadi.

Ya, reaksi kita. Punya hidung pesek, muka jerawatan, terus apa reaksi kita? Marah-marah? Jadi murung dan rendah diri? Terus hidung kita jadi mancung, muka jadi mulus? Kan nggak…Reaksi negatif yang kita keluarkan hanya membuat kita makin jauh dari jalan keluar, dan lupa bahwa ada banyak nikmat lain yang kita punya.

Contoh lain lagi: Bangun kesiangan, baru ingat kalau pagi ini ada meeting di kantor. Buru-buru ganti baju (tanpa mandi dan gosok gigi seadanya), minum kopi, daaaannnn…kopi tumpah ke baju. Apa reaksi kita? Ngomel sambil ganti baju? Di mobil masih ngedumel dan makin ngedumel karena jalanan macet. Takut telat, akhirnya maksa minta jalan, daaannnn..nyenggol mobil di kanan. Bemper mobil penyok, orang yang mobilnya tersenggol marah, harus bayar ganti rugi. Akibatnya? Sampai kantor malah makin telat…

Hari yang dimulai dengan situasi yang buruk, jika diteruskan dengan reaksi yang buruk juga, akan membuat semua makin buruk. Lebih parah, bahkan. Kejadiannya buruknya cuman 10%, reaksi kita menyumbangkan 90%, jadi benar-benar besar pengaruh reaksi kita itu. Kejadiannya bisa jauh berbeda kalau kita menghadapinya dengan lebih tenang, santai, dan kepala dingin. Dimulai dengan hal yang sama, tapi akhirnya bisa berbeda, lagi-lagi karena reaksi kita.

Prinsip 90/10 ini memang manjur berats. Membuat hidup lebih enteng kalau buat saya yang doyan ngomel ini (:P). Ada orang yang fitnah, walaupun sempat marah, tapi terus ya udah lah, biarin aja, saya percaya karma. Bangkrut dan menghabiskan uang ratusan puluhan juta saat mulai belajar bisnis dengan serius tahun lalu, ya coba relakan (walaupun nyesek bangeut sih, uangnya bisa buat apa gitu tuh hehehe). Anggap-anggap itu tabungan kegagalan, kita jadi belajar (belajar yang sangat mahaaalllll huhuhu), dan sukses pasti bakalan datang kalau kita terus usaha kan…? Amien…

Intinya ya…legowo…! React properly. Semua kejadian yang terjadi di muka bumi ini kan pasti ada yang ngatur (btw, saya salah satu penganut tidakpercayakebetulan), dan semua yang terjadi kan yang terbaik buat kita, jadi ya…santai sazaaaaa !!!

Next time, when something bad happens, watch out your reaction yak!

PS:

– salah seorang sahabat saya baru datang pulang dari Belanda, dan minggu kemarin kita kumpul lagi berempat. When things go wrong, and you know you’re not the only one who got broke a bit flips in life yet you can still laugh at it, mentertawakanbodohandirisendiriketawasampesakitperut, is still the best therapy of all! Thanks!

– pulang dari brewww, lewat Jl. Bangka Raya, ada rumah besaaarrrr bgt, kayak istana. Baru sadar ada bangunan itu disana. Itu bangunan apa ya?

March 18, 2008 at 3:18 am 1 comment

posting nggak penting

dsc_7427.jpgini cerita-cerita yang terjadi di balik pernikahan saya bulan kemarin:

1. Orang bilang calon pengantin harus puasa senin-kamis minimal satu bulan sebelum hari H biar auranya keluar. Atau kalau kepepet, tawar-tawar katanya bisa deh jadi satu minggu sebelumnya, tapi tiap hari. Saya agak-agak takut laper sakit, jadi cuman puasa SATU HARI sebelumnya, hari kamis doank!

2. Saya cuman tidur 1 jam pas hari H. Jadi ceritanya gini, akad nikah tgl 26 Januari 2008. Tgl 25 malam ada kumpul-kumpul keluarga di rumah saya (di Depok), lengkap dengan keluarga besar dari Lampung yang juga baru pada dateng. Selesai acara, sekitar jam 10 malam, kita rame-rame pindah untuk nginep di Kemang (biar deket dengan tempat akad nikah yang di Jeruk Purut). Otw, mampir ke tempat acaranya, mau liat orang dekor yang emang lagi siap-siap. Kaget juga karena dekornya kok kurang sesuai dengan yang kita mau, parahnya ada satu bagian rumah (sayap kanan yang harusnya berisi kursi-kursi enak buat duduk-duduk) kok jadi berantakan bangeut…Kursinya porak-poranda, jadi nggak bisa digunain. Jadilah kita complaint malam itu, dan orang dekornya bilang besok pagi aja ngeberesinnya…Besok pagi??? Akhirnya kita nekad, bilang kalau mereka nggak mau ya kita aja yang beresin. Jadilah saya, sang calon pengantin wanita-yang harusnya cantik jelita (hehehe), ikut mondar-mandir gotong mejakursi dengan kakak dan adik saya. Jam 2 lewat, saya dijemput sahabattercintayangjasanyatakakankulupakan, diantar ke hotel, karena saya nggak boleh nyetir sendiri (bah, peraturan ‘cam apa pula tuh!). Muter dulu ke Kebagusan, deket Ragunan, untuk nunjukin KUA dimana sangsahabattercintayangtakbolehdisebutnamanya itu harus menjemput penghulu besok paginya. Sampe hotel jam 3 pagi, ada insiden kamar hotel sedikit, dan saya tidur jam 3.15 pagi. Baru merem, jam 4 ada telpon, sang perias sudah datang…Lagi-lagi saya harus bersyukur dengan ketahanbantingan badan saya *somboooonnnggg* hehehhee…Untung mata saya nggak keliatan seperti zombie hidup..alhamdulillah…

3. Masih gara-gara dekor yang nggak sesuai itu. Tadinya kita mau pake tenda, akhir januari gitu lho, takutnya ujan deras. Mana pelaminan saya emang sengaja ditaro di alam terbuka gitu, pengantennya nggak suka phobia ruang tertutup soalnya 😉 Ternyata warna tendanya lagi-lagi kurang sesuai dengan yang kita mau. Jadi??? BONGKARRRR !!! Pas akad nikah, masih ada tendanya, siangnya langsung dibongkar. Dan abakadabra, malamnya udah nggak ada tenda lagi 😉 Untungnya lagi-lagi, nggak hujan saudara-saudara…Langit terang benderang, malah jadi bagus karena nggak tertutup tenda…alhamdulillah lagi…(note: cuman untuk mengingatkan saya biar lebih bersyukur, minggu depannya jakarta raya banjir!)

4. Acara saya ada 3 kali. Pertama: 26 Januari 2008, di Rumah Ranadi, Jakarta (akad nikah-pagi dan resepsi-malam). Setelah akad nikah ada upacara tuang teh (te’pai) untuk menghormati orang-orang yang dituakan. Ini adat Cina (bapak saya Cina). Kayaknya baru sekali ini deh ada te’pai pengantinnya pake kebaya hehehe 😛 Kedua: Adat Batak dan ngunduh mantu di rumah Rahman di Bandar Lampung. Saya nortor lho, seru bangeut! Nanti kalau udah ada videonya di-share yak! Nahhh yang ketiga, di kampung bapak saya di Sidorejo, Lampung Timur. Ini lengkap dengan dangdutan dan campur sari, sampe jam setengah 2 pagi! Seneng sih, liat Bapak saya seneng, liat orang-orang kampung yang jarang dapet hiburan seneng, jadi nggak papa deh capek bangeut 🙂 Pernikahan saya seperti global village (masih ingatkah dengan acara seru aiesec ini teman-teman? ;)), lintasadatbudayadanpropinsi

5. Penghulu matre! OMG, itu penghulu matreeeee sekaliiiii…! Sudahlah, tak usah diceritakan di sini, menyebalkan!

6. Kids corner. Tadinya saya pengen buat kids corner di pernikahan saya itu. Buat ponakan-ponakan, dan teman-teman saya yang bawa anak. Udah beli maenan (satu mobil nyaris penuh sama mainan), beli kado-kado buat hadiah, sewa satu guru TK buat nemenin anak-anak main, dan menu buat mereka pun udah siap (chocolate fountain, burger, sandwich dkk). Tapi pas maenannya mau disusun, kok ya tiba-tiba nggak ada. Nggak tau pada nyelip kemana. Akhirnya ya anak-anak pada main dengan mainan Ganang Gilang yang emang dibawa juga. Kado-kado dibagikan buat orang-orang yang bantuin beres-beres, oleh-oleh buat anak-anaknya ya pak…

7. Seserahan saya sebenernya biasa-biasa aja, standard, perlengkapan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cuman saya minta tambahan: Broadband CDMA USB Modem yang bisa buat saya connect internet dimanapun kapanpun (wireless mobile) dan koneksi internet gratis seumur hidup. Di antara semua barang seserahan yang saya terima, benda inilah yang paling berguna buat saya…

8. Saya dikasih kado sama Rahman, domain yang udah lama saya pengen (www.d3d3k.com – jangan di-klik blom ada apa-apa soalnya..in progress ;)). Dia juga buat satu sub-domain buat undangan, klik di sini kalau mau liat.

9. Kami nggak ngundang banyak orang waktu pernikahan kemarin, karena emang pengen acara yang cozy, akrab, dan nggak (suka yang) terlalu crowded. Senang sekali banyak teman yang saya nggak sangka-sangka pada datang. Makasih banyak ya…Walaupun banyak juga sahabat saya yang nggak bisa datang karena sedangmencarinafkahdinegaralain, huhuhu sediiiihhh…

10. Saya nggak punya lubang anting (dulu pernah tindik waktu SMA, dan cuman tahan seminggu karena saya nggak betah beranting dan akhirnya lubangnya nutup sendiri). Jadi 2 hari sebelum hari-H saya sibuk cari tempat buat nindik. Ketemu, dikasih tau Nia, di GIANT Poin Square Lebak Bulus. Orangnya bilang anting tembakan itu nggak boleh dilepas, tunggu 1 minggu dulu, karena masih basah. Tapi ya…mau gimana lagi? Saya sukses beranting tapi saya kapok, kuping saya sakit! Nggak mau lagi pake anting!

11.Kata orang, banyak cobaan kalau mau menikah. Benar, saya setuju 100%. Tapi jarang ada yang bilang kalau ternyata ada banyak keajaiban juga yang terjadi. Mengingat persiapan pernikahan kami hanya 1 bulan lebih (siapa bilang kebiasaan last-minute bisa ilang?), lagi-lagi saya harus mensyukuri kebaikanNya. Tuhan baik, sangat baik, teramat baik, kalau niat kita tulus, pasti jalannya dilancarkan.

PS:

– Saya berhutang banyak sama banyak orang yang udah banyaaakkk bangeut bantuin. Makasih ya, semoga dibalas yang lebih-lebih sama Yang Di Atas.

– Kalau di atas saya bilang dekornya agak-agak bermasalah, itu bukan kesalahan dekornya lho…Salah kita juga yang emang terlalu percaya, dan kurang cekdanricek. Saya tetap rekomendasikan mereka 🙂

– Kalau mau liat foto-fotonya, saya posting di album foto saya, di s i n i

March 17, 2008 at 4:52 am 10 comments

::: count your blessings, not your trouble :::

1. Saya diberi keluarga yang sangat amat supportif, penuh cinta, dan selalu ada setiap saya butuh. Kedua orang tua yang mengajari saya banyaaaakkk hal soal hidup dan kehidupan, kedua kakak yang penuh sayang-cerewet-selalu menganggapsayamasihkecil, kedua adik yang manja-tapi-sok-besar, kedua kakak ipar yang baik-baik, kedua keponakan perempuan yang lucu-cerewet-suka asal, kedua keponakan lelaki yang gundul-idungbulat-makhluk-makhluk terlucu di dunia, dan satu suami yang jadi partner saya dalam segala hal. They are the best!

2. Saya diberi sahabat-sahabat dan teman-teman yang walaupun sekarang udah tersebar di puluhan kota di 5 benua, tapi saya tau mereka akan selalu ada…Thanks for all the good times and bear with me on the bad times…

3. Saya sehat dan nggak gampang capek ;). Mengingat saya pernah sakit-sakit yang agak parah (SD kelas 2 – sakit liver, SMA – batu ginjal), saya bersyukur saya masih diberikan kesehatan dan energi berlimpah sampai sekarang.

4. Saya bisa bermimpi, dan diberi kemampuan untuk mencapai mimpi-mimpi saya itu…Amien ya Allah…

5. Saya diberi kesempatan untuk mengalami banyak hal: baik-buruk, enak-nggak enak, menyenangkan-menyesakkan, yang memperkaya dan membuat hidup saya penuh warna.

6. Saya diberi kesempatan untuk bisa memilih dalam banyak hal dalam hidup. Di saat orang lain banyak yang (merasa) tidak punya pilihan, saya selalu dihadapkan dengan banyak pilihan dan diberi kesempatan untuk bisa memilih yang sesuai dengan kemauan saya…Terimakasih ya Allah…

7. Saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang memperkaya hidup saya. Mungkin mereka nggak sadar, tapi dari mereka saya belajar banyak, tentang banyaaaakkk hal…

8. Sebenarnya masih banyak lagi yang mau saya syukuri, tapi nanti kebanyakan, sampe tahun depan pun nggak akan selesai nulis semua yang udah saya dapat. Tapi yang pasti, I am blessed for having YOU! The Almighty, yang selalu ada setiap saat, mengabulkan doa-doa saya, memberikan yang terbaik walaupun saya nggak minta (termasuk yang no.1-7 di atas ;)), selalu mengampuni kesalahan-kesalahan saya, dan selalu mendengar dan menjawab amarah-omelan-complaint-dan gerutuan saya dengan cara-Nya yang ajaib…Terimakasih ya Allah…

Happy Birthday to me 🙂

hoooreee.jpg

March 11, 1979

March 11, 2008 at 2:14 pm 6 comments

DREAM !

fly-high.jpg

Akhir-akhir ini makin banyak kayaknya buku, film, diskusi, seminar, training yang membahas soal pentingnya punya mimpi dan bahwa kita pasti bisa mencapai mimpi-mimpi kita itu.

Saya 100% yakin dengan itu semua. Jadi inget, dulu, waktu masih kuliah dan aktif di o r g a n i s a s i i n i, saya sempet jadi trainer. Salah satu materi training yang harus kita buat dan kasih adalah soal Power of Dream ini. Saya masih inget bangeut materinya, salah satunya adalah pentingnya punya orang-orang terdekat yang bisa kita bagi soal mimpi kita – harta karun kalau kita juga punya orang-orang dengan mimpi yang sama. Dengan sharing mimpi-mimpi kita, secara nggak sadar, alam bawah sadar kita akan ‘menuntun’ kita, jadi pelan-pelan, selangkah demi selangkah, akan makin mendekatkan kita mencapai mimpi-mimpi kita itu.

Soal mimpi-mimpi ini, saya punya banyak keajaiban dalam hidup saya.

Dulu, bapak menyuruh saya untuk ikutan beasiswa ke Singapura. Ada beasiswa yang setiap tahun memang dijatahkan untuk pelajar-pelajar negara ASEAN melanjutkan SMA ke Singapura. Iya, saya memang masih SMP waktu itu. Bapak udah bilang soal beasiswa itu dari saya kelas 2 SMP, dan semangat bangeut nyuruh saya ikutan kalau lulus nanti. Saya? MALES! Jadi formulirnya nggak saya kirim-kirim, sampai udah dekat waktu deadline dan bapak saya nanya. Ketika tahu kalau belum saya kirim, beliau kecewa dan saya menyesal…Jadi pada hari-hari terakhir (kayaknya udah telat malah hehehe), saya kirimkan juga formulirnya. Beres Pa, the job is done!

Seperti harapan saya, saya nggak diterima 😉 Tidak mau mengecewakan orang tua yang sangat saya cintai itu, saya turuti keinginannya untuk coba lagi, beasiswa ke sekolah ini sekarang. Sekolah yang baru dibangun, kolam renang aja belum jadi. Gedung sekolah baru beberapa bagian yang udah berfungsi. Waktu itu, sekolah ini termasuk pelopor sekolah dengan kurikulum nasional plus (kalo sekarang mah kayaknya di tiap kode pos aja minimal ada 1 sekolah berkurikulum national plus, entah bener entah nggak hehehe), Bapak saya memang up-date kalau masalah-masalah begini, jadi saya percaya 1000% waktu beliau bilang, “Walaupun baru, ini sekolah bagus, Dek,”. Bener sih, waktu saya masuk, status sekolah itu masih terdaftar. Setahun kemudian langsung disamakan. Laboratoriumnya lengkap, mulai dari bahasa (guru saya banyak yang bule..), art, sampe musik. Olahraga? Dari anggar sampai berkuda.

Untuk memasukkan saya ke sekolah itu dengan uang sendiri jelas nggak mungkin. Uang masuk dan SPPnya USD, belum lagi uang asramanya yang per bulan Rp 800,000 itu (note: ini 800 ribu tahun 1994 ya, kalau diitung inflasi sekarang, bisa beli permen banyaaaakkk bangeut 😛). Lolos tes awal, saya dipanggil tes wawancara, dan ternyata saya lolos! Lumayan deh, nggak dapet beasiswa ke Singapura, beasiswa ini pun OK kok 😉

Di sekolah itu saya belajar banyak hal. Salah satu turning point saya berubah adalah di sekolah itu menurut saya. Ketemu banyak orang, dengan beribu (eh, muridnya belum sampe 1,000 deng…saya sekelas cuman 21 orang, dan kita cuman punya 3 kelas di angkatan saya hihihih…) kepribadian, tambah lagi tinggal di asrama, those are really unforgettable years! Di situ juga orientasi saya mulai berubah. Saya jadi pengen sekolah ke luar negeri pas kuliah nanti! Nggak tau gimana caranya, tapi saya pengen! Mulai deh ikutan test TOEFL dan SAT buat syarat-syarat masuk kuliah nanti. Untuk urusan sekolah ke luar ini, mama sebenernya nggak setuju. Buat almarhumah Mama saya tercinta itu, “Ngapain sekolah jauh-jauh? Kalau Mama kangen, susah nengoknya!”. Walaupun Mama rela melepas anak-anaknya melanjutkan sekolah ke Pulau Jawa setelah SMP (kami sekeluarga tinggal di Bandar Lampung), tapi buat beliau Bandung udah paling jauh (kakak-kakak saya SMAnya di Bandung).

Jadi Papa-lah partner kompak saya dalam perburuan beasiswa ini. Gentlement agreement: Papa nggak mungkin nyediain uang sebanyak itu untuk saya pergi ke manapunitunegeriantahberantahyangsayamau (waktu itu saya pengen ambil arsitektur di Canada), tapi bakalan diusahain untuk biaya hidupnya per bulan. Jadi saya kudu cari beasiswa. Theeeennnnn…krisis moneter! Dollar melonjak gila-gilaan, dan bahkan untuk biaya hidup pun saya harus cari sumber lain. Daaaaannnn, susah cari beasiswa untuk S-1 (S-2 banyak, pengalaman di kemudian hari membuktikan :P).

Untuk sementara, saya memang harus mengubur impian saya dulu. Tapi mimpi itu masih ada, cuman hibernasi sesaat 😉 Alhamdulillah, saya diterima di s i n i. Padahal itu juga ‘kecelakaan’. Saya tergila-gila dengan arsitektur, kayaknya keren bangeut bawa tas tabung panjang dan gambar-gambar gitu. Jadi saya pilih Arsitektur ITB dan UI. Pilihan ketiga harus IPS nih, karena saya ambil formulir IPC. Jadi ya iseng pilih Ekonomi UI. Lucunya, Papa saya bilang, dulu waktu masih kecil saya pernah bilang pengen jadi bankir yang bisa gambar rumah.

Tadinya terpikir untuk ikut lagi UMPTN tahun depannya, masih penasaran dengan arsitektur. Tapi terus saya seneng dengan kampus saya, ketemu teman-teman yang azaib-azaib, jatuh cinta dengan organisasi kampus, dan saya nggak mau pindah…

Lulus S-1 tahun 2002, dan mulai semangat cari kuliah lagi. Pilihan saya: EROPA ! Saya mau jalan-jalan! Europe is heaven for backpackers, I MUST GO THERE! Eropa mananya? Saya cuman bisa bahasa Inggris, jadi Prancis dan Jerman harus disingkirkan jauh-jauh. Pilihan saya cuman 2: UK atau Belanda. Saya apply beasiswa untuk kedua negara itu. UK prosesnya lebih panjang, diterima tahun ini kita baru berangkat tahun depannya, ada kursus-kursus dulu. Belanda? Diterima tahun ini, beberapa bulan kemudian kita berangkat. Dan saya nggak mau nunggu. Lha wong semangatnya sekarang? Jadi waktu lolos test kedua Chevening (beasiswa ke UK), dan dipanggil untuk interview terakhir, saya ‘nggak bisa’ dateng…Belanda? Pengalaman kerja minimal 2 tahun. Untungnya, saya emang udah nyambi kerja sana-sini waktu kuliah, termasuk jadi asdos dan mulai gawe di s i n i (baca postingan saya soal kantor saya ini di s i n i), dan ternyata pengalaman kerjaasal saya itu diitung, jadi…2003 saya berangkat ke Belanda…! All the thumbs in the world up for the Planner! Hooorraaaayyy !!!

Semoga belum bosen baca cerita saya 😉

Saya punya BUKU MIMPI. Semua yang saya pengen, saya tulis di situ. Mulai dari yang sederhana (seperti pengen punya tabungan xxx) sampe yang ajaib dan sepertinya susah untuk tercapai (ngajak bokap keliling dunia) semua saya tulis di situ. Tapi tau nggak, sedikit-sedikit tercapai lho…Walaupun uang tabungannya nggak pernah banyak karena setiap banyak pasti diambil buat jalan-jalan, tapi setidaknya PERNAH punya uang segitu hehehe…Walaupun belum ngajak bokap keliling dunia, tapi udah pernah ngajakin jalan ke beberapa negara Eropa (nggak nyangka, uang gaji dari nyetrika dan bersihin rumah orang bisa buat saya keliling beberapa negara Eropa lho…) dan beberapa negara ASEAN…Hopefully many more to come 🙂

Waktu saya cerita sama Rahman, dia ternyata juga punya DAFTAR MIMPI. Nggak kayak saya yang isinya udah mirip scrapbook saking banyaknya coretandangambarnggakjelas, Rahman buatnya di Excel, dan di-save di laptop (OMG, he is so IT !!!). Mulai dari pengen punya laptop, motor, sampe rumah (yang katanya ditulis setelah dia ketemu saya lagi beberapa tahun lalu – nggak tau bener apa nggak, tapi saya senang! hahaha…)

Yang saya cerita di atas cuman 1 dari banyak mimpi aneh saya. Nggak semua langsung tercapai sih…Nggak semua juga udah tercapai…Tapi saya akan terus bermimpi, akan terus menulis di buku mimpi saya…Ya, mumpung mimpi masih gratis 🙂

SOMEDAY, I WILL !!!

Carpe diem,

.dedek.

PS: Photo dari sini

March 6, 2008 at 3:30 pm 5 comments

cities I’ve ever visited

cities-ive-ever-visited.jpg

saya barus instal aplikasi baru di f r i e n d s t e r s a y a, nama aplikasinya ‘Cities I’ve Ever Visited’. Jadi ada gambar peta dunia gitu, terus kita bisa kasih tanda (pin) kota-kota mana aja yang udah pernah kita datangi (been), akan pergi (going), atau kita bisa kasih tips and trik traveling ke sana gimana (can advise friends). Kita bisa kasih tanda juga (star sign) untuk kota-kota yang jadi favorite kita di antara kota-kota yang udah pernah kita datangi. Mereka sih bilangnya kotanya bukan cuman kota besar aja, termasuk suburbs juga, tapi saya coba masukan Depok (hihihi) dan Garut kok nggak ada ya…Padahal di Garut kan banyak makanan enak 🙂

Saya nggak hapal semua kota yang udah pernah saya datangi, tapi yang bisa saya inget (dan bisa saya temukan di aplikasi itu) ada 59 kota. Lumayaaaannnn…Note: kota-kota yang saya tulis ini adalah kota-kota yang pernah saya datangi lebih dari 24 jam yaaa…

Here is the list:

ASIA/PACIFIC

Cambodia: Phnom Penh, Siem Reap (2). Kayaknya ada kota-kota lain deh, karena saya kan dari Phnom Penh ke Siem Reap naik bis (6 jam), dan sempat berhenti-berhenti. Tapi lupa dan nggak penting juga ya soalnya cuman mampir, gak sampai 24 jam, jadi ya sudah lah 2 itu sazaaaa…

Indonesia: Nah ini banyak, ada 20, dan kayaknya harusnya masih ada lagi, cuman kota-kota kecil gitu saya nggak ngeh…Yang saya dapet: Bandar Lampung, Bandung, Cirebon, Jakarta, Kuta (ini kok jadi kota ya di aplikasi itu..saya kebetulan liat, jadi saya klik aja), Lombok, Makassar, Malang, Medan, Nusa Dua (nah, ini juga kok kota…?), Palembang, Parapat, Semarang, Seminyak (ini juga kota…?), Solo, Sukabumi, Sumba, Surabaya, Ubud (kota…?), Yogyakarta.

Laos (1-semata wayang, dan aku tidak berminat kembali ke sana hehehhe): Vientiane

Malaysia: Genting dan KL (2). Bolak-balik ke Malaysia, selaluuuu ke dua kota itu doank…Sekarang sejak mereka belagu gitu, jujur saya males ke negara itu lagi, walaupun vincciiiii huhuhuuh…Ada cerita kocak juga waktu saya mau iseng ikutan judi di Genting sama keluarga saya, nanti kapan-kapan diceritain hehehe 😛

Singapore: Singapore dan Sentosa Island (2)

Thailand – ada 5: Bangkok Hua Hin, Krabi, Patong (ini tempat shootingnya The Beach – Leonardo Di Caprio itu, keren euy!), Phuket (saya kesini setelah tsunami, 2006, dan udah kembali normal, nyaris nggak ada sisa-sisa tsunaminya).

Vietnam: Ha Noi (1). Sebenernya saya sempet ke luar-luar kotanya, malah lebih keren-keren pemandangannya, tapi lagi-lagi, nama kota-kotanya saya lupa, nanti saya liat lagi catatan ya…

EUROPE

Austria: Vienna dan Salzburg (2)

Belgia: Brussels dan Brugge (2)

England: London dan Oxford (2)

Scotland: Edinburgh (1)

Spanyol: Barcelona (1). Ini ada kota lain lagi juga, saya bener-bener musti liat catetan saya nih 😦

Perancis – 1: Paris (ini harusnya ada kota-kota lain juga, lupa juga hehehe…)

German: Berlin, Frankfurt, Munich (3)

Hungary: Budapest (1)

Greece: Athens (1) (ini muter-muter juga, sempet ke mainlands dan islandsnya…keren BGTBGTBGT! Saya nggak tau surga itu gimana, tapi tempat ini udah kayak surga buat saya :))

Italy: Pisa, Rome, Venice, Florence (4)

The Netherlands – 8: ini agak-agak gak akurat, karena kayaknya saya udah pernah nginep di semua kota di Belanda, tapi yang saya inget cuman: Den Haag (iya dunksss), Amsterdam, Rotterdam, Leiden, Wageningen (fitri, eka, kotamu ada nih…), Utrecht, Gouda, Groningen (vie..vie…ada ;))

Teruuuussss…yang jadi favorite? Athens, Venice, Edinburgh, Oxford, Barcelona, Salzburg, Bangkok. 6 yang pertama saya cintaaaa sama alamnya, aura kotanya, pokoknya bener-bener Allahu Akbar! Kalo Bangkok? shoppiiiiiiiiiinnnnnnnnggggggg…!!! Yang saya suka di Bangkok tuh selain murah-murah bangeut, handycraftnya itu lho, bener-bener detil dan halus buatannya, tapi tetep murah! Bukan cuman handycraftnya aja, tapi kayaknya orang-orang Thai itu emang dilahirkan teliti, detil, dan apik, jadi kayaknya semua aspek kehidupannya begitu..Liat aja cara mereka nyusun makanan, persembahan buat raja, pokoknya seru bangeut! Udah gitu kotanya riweuh, nggak teratur, macet, bising, polusi, waaahhh kayak Jakarta tapi berasa aman, seru bangeut!

Di aplikasinya ada pilihan ‘going to’, tapi saya nggak berani klik apa-apa, padahal pengennnnn ke…Nepal, India, China, dan Afrika (Cape Town deh at least)…amien…amien…amien…

March 4, 2008 at 3:13 pm 4 comments

Older Posts


Categories

…recommended…

...photos...photos...

…i am part of…

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

...since january 3, 2008...

  • 118,987 hits