Posts filed under 'financial and investment'

Dana Pensiun, Pentingkah?

Sebenarnya udah lama mau nulis soal Dana Pensiun ini, tapi lupa melulu (btw, draft di wordpress saya ada 33 tulisan sekarang :( )

Ada beberapa teman yang diberi fasilitas dana pensiun dari kantornya (termasuk PNS dll ya), jadi mereka tidak menganggap perlu lagi untuk menyisihkan sebagian uang untuk dana pensiun. Sah-sah saja, kalau memang dana pensiun yang diberikan kantor nantinya cukup. Tapi dengan tingkat inflasi, dalam 20-30 tahun ke depan (di saat kita pensiun), kemungkinan besar dana pensiun yang disediakan kantor tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kita. Apalagi kalau kita ingin tetap mempertahankan gaya hidup yang kita miliki sekarang, di saat kita masih aktif bekerja dan memiliki penghasilan. Nggak mau kan pensiun nanti nggak punya penghasilan, mau cari kerja juga susah, malah menyusahkan keluarga. Duh, jangan sampe deh…

Berapa banyak uang pensiun yang harus disiapkan?

Ini tergantung sekali pada umur berapa kita ingin pensiun, gaya hidup seperti apa yang ingin kita jalani ketika kita pensiun (mempengaruhi berapa biaya hidup yang dibutuhkan), dan perkiraan inflasi yang terjadi. Untuk perkiraan saja. Misal X berumur 30 tahun, ingin pensiun di umur 55 tahun, dengan perkiraan sampai umur 70 tahun (wallahualam..tapi nggak ada salahnya kita merencanakan, walaupun hasil akhirnya ada di Allah kan :) ). Biaya hidup 10 juta rupiah per bulan. Dengan perkiraan inflasi 10%, total dana pensiun yang harus disiapkan adalah 19.5 MILYARD!!! Gila kan…kalau nabung, kapan bisa kekumpul??? The good news is, jumlah segitu ternyata bisa dicapai hanya dengan investasi sebesar 300 ribu rupiah saja per bulan. Asik kan ;)

Sejak kapan mulai mempersiapkan dana pensiun?

Kalau udah tahu jumlahnya, kapan musti mulainya? Sedini mungkin lebih baik. Jangan tunda. Semakin muda kita mulai menyiapkan Dana Pensiun, semakin sedikit uang yang harus kita sisihkan untuk Dana Pensiun yang besar itu. Menurut Ernst & Young’s Personal Financial Planning guide:

20/20 rule:

To plan for 20 years for retirement, start accumulating funds no later than 20 years before your retirement begins.

Maksudnya, kalau kita mau menyiapkan dana pensiun selama 20 tahun (misal pensiun umur 55 tahun, hidup sampai umur 75 tahun, kita harus mulai mengumpulkan uang 20 tahun sebelum kita pensiun (20 tahun sebelum umur 55 tahun = ketika kita berumur 35 tahun). Kalau dana pensiunnya untuk 30 tahun, berarti ya harus mulai mengumpulkan dana pensiun 30 tahun sebelum kita pensiun.

CARANYA GIMANA?

Nah, ini saya nggak ikut-ikutan deh hehehe…ada banyak instrumen investasi yang bisa dipilih. Reksadana salah satunya. Ntar kapan-kapan kita bahas lebih detil soal reksadana ya… ;)

PS:

PR saya bulan ini adalah buat investment plan untuk dana pensiun ini. Duh, tinggal buka account aja lupa mulu :( Mumpung inget makanya ditulis di blog, biar nggak lupa lagi hehe

1 comment December 16, 2009

biaya pendidikan anak

Keponakan tercinta, tersayang, lanang ganteng saya udah 3 tahun. Sekolahnya yang biasanya cuman main-main di T*mbl* T*ts mau dipindah sama Ibunya ke sekolah yang lebih ’serius’. Sekolahnya bagus, enak bangeut, saya aja jadi pengen. Ada kasurnya segala, katanya anak-anak suka ngantuk kalau di kelas, jadi biar bisa tiduran hehehe Yang buat saya takjub, biaya sekolahnya. UGGGHHH! Itu untuk tahun sekarang. Tahun depan naik lagi, lagi dan lagi…Kalau anak saya sekolah nanti, udah berapa..? Saya jantungan!

Iseng-iseng menghitung biaya sekolah yang diperlukan nanti. Kalau mulai nabung (atau investasi) dari sekarang kan MUNGKIN nggak gitu berasa ya ;)

Hal penting yang harus diingat untuk menghitung biaya sekolah anak:

Inflasi biaya pendidikan di Indonesia = 20% per tahun. Besar ya? Tapi memang segitu. Bandingkan dengan kenaikan gaji rata-rata kita yang 10% per tahun aja udah alhamdulillaaaahhh bgt…Belum lagi krisis begini, punya kerjaan aja syukur ya, jangankan mikirin bonus dan kenaikan gaji tahunan.

Ini attach excel filenya, ayo itung-itung-itung…Begini cara pakainya:

1. Ada berbagai jenjang pendidikan di tabel, mulai dari playgroup sampai kuliah.

2. Yang harus kita isi adalah kolom-kolom yang berwarna biru (dirubah aja angkanya)

3. Kolom A: Tahun masuk sekolah dari sekarang. Misal anaknya sekarang umur 1 tahun, mau masuk playgroup umur 3 tahun. Jadi isi angka ‘2′ di kolom sebelah playgroup. Begitu seterusnya untuk setiap jenjang pendidikan.

4. Kolom B: Biaya saat ini. Kalau udah ada sekolah yang diincer untuk anaknya, bisa ditanya, berapa biayanya untuk masuk sekolah itu tahun ini. Masukkan angkanya untuk setiap jenjang pendidikan. Tabel ini hanya untuk biaya masuk sekolah ya. Belum termasuk biaya bulanannya.

5. Kolom C: Asumsi inflasi setiap tahun. Kalau mau lebih dari 20%, biar lebih aman, monggo diganti aja angkanya.

Kolom D (biaya nanti) adalah perkiraan biaya yang harus dikeluarkan nanti, dihitung otomatis oleh bang excel.

Kalau cuman mau liat berapa jumlah yang dibutuhkan nanti (angkanya bikin shock memang hehehe), udah cukup sampai situ aja ngisi tabelnya.

Tapi kalau mau tau, gimana caranya mencapai angka yang segitu, dengan cara apa, isi lagi kolom biru terakhir (kolom E, target rate investasi per tahun).

Asumsi return investasinya ini:

Deposito                                                                     5%

Obligasi / Reksadana Pendapatan Tetap     10 – 15%

Reksadana Campuran                                         15 – 20%

Reksadana Saham                                                 25 – 30%

Itu semua asumsi. Ingat, high risk high return. Kalau mau aman, ya masukin deposito. Misal semua diisi dengan return deposito (5%), nanti bang excel akan menghitung berapa yang harus disetor tiap bulan. Dengan investasi yang low return, setoran per bulannya juga musti besar.

Ayo mulai menghitung.

Karena anak sekolah nggak bisa nunggu bapak ibunya punya uang ;)

PS: Berhari-hari cari cara buat upload file excel ke wordpress, nggak nemu-nemu hehehe *gaptek* Jadi saya upload di sini aja ya. Monggo diunduh..

Excel file perhitungan biaya pendidikan anak

3 comments February 27, 2009

advice from warren buffet

Hei…walaupun mungkin agak terlambat, mumpung masih Februari, ini ada nasihat bagus menghadapi 2009 dari Opa Warren…Hope we become wiser this year, not just older. SEMANGAT !!!

================================================================

We begin this New Year with dampened enthusiasm and dented optimism. Our happiness is diluted and our peace is threatened by the financial illness that has infected our families, organizations and nations.

Everyone is desperate to find a remedy that will cure their financial illness and help them recover their financial health. They expect the financial experts to provide them with remedies, forgetting the fact that it is these experts who created this financial mess.

Every new year, I adopt a couple of old maxims as my beacons to guide my future. This self-prescribed therapy has ensured that with each passing year, I grow wiser and not older.

This year, I invite you to tap into the financial wisdom of our elders along with me, and become financially wiser.
Ø Hard work: All hard work bring a profit, but mere talk leads only to poverty.
Ø Laziness: A sleeping lobster is carried away by the water current.
Ø Earnings: Never depend on a single source of income. [At least make your Investments get you second earning]
Ø Spending: If you buy things you don’t need, you’ll soon sell things you need.
Ø Savings: Don’t save what is left after spending; Spend what is left after saving.
Ø Borrowings: The borrower becomes the lender’s slave.
Ø Accounting: It’s no use carrying an umbrella, if your shoes are leaking.
Ø Auditing: Beware of little expenses; A small leak can sink a large ship.
Ø Risk-taking: Never test the depth of the river with both feet. [Have an alternate plan ready]
Ø Investment: Don’t put all your eggs in one basket.

I’m certain that those who have already been practicing these principles remain financially healthy.

I’m equally confident that those who resolve to start practicing these principles will quickly regain their financial health.

With Best Regards,
Warren Buffet

2 comments February 23, 2009

annual (financial) check up

financial-image

Mumpung masih bulan Januari, kita check up tahunan yuk..Jangan cuman kesehatan badan aja, kesehatan keuangan juga harus di-check up lho. Ibaratnya lagi mau road-trip dari Jakarta ke Bali, apa kita masih di jalan yang benar? Kita lewat jalan tol (fast track) atau lewat jalan macet? Harus terus atau take a U-turn? Biar nyasarnya (kalau nyasar) nggak kejauhan ;)

1. Rasio cicilan hutang

Hari gini kayaknya jarang yang nggak punya hutang ya…Mulai dari cicilan kartu kredit, beli mobil/motor, sampai KPR/KPA. Lalu, cicilannya bagaimana? Rasio cicilan hutang yang baik adalah maksimal 30-35% dari penghasilan. Jadi kalau sekarang cicilan hutang Anda masih lebih dari rasio itu, ada 2 alternatifnya: lunasi hutang secepatnya (jual asset, hemat pos pengeluaran yang lain, dan jangan buat hutang yang baru) atau cari tambahan penghasilan lain.

2. Dana darurat, udah berapa?

Kalau urusan hutang udah beres, periksa kondisi ‘pundi-pundi’ yang isinya dana darurat yuk. Udah berapa banyak? Kalau di-PHK atau kehilangan sumber penghasilan, bisa bertahan hidup sampai berapa bulan? Idealnya, dana darurat ini besarnya 3-6 kali penghasilan bulanan (untuk yang single) atau 6-12 kali penghasilan bulanan (untuk yang sudah berkeluarga). Kalau belum ada dana darurat sama sekali? Ya harus mulai menabung, mau nggak mau alokasikan sebagian penghasilan untuk mengisi ‘kantong’ ini. Kalau belum ada dana darurat, lebih baik jangan investasi dulu. Kalau ada apa-apa, nanti investasinya jadi harus diambil, padahal kan investasi untuk jangka panjang. Nanti malah rugi.

3. Investasi

Kalau dana darurat udah aman, ayo mulai investasi! Menurut para financial planner, katanya rasio yang pas untuk investasi ini sekitar 25% dari gaji. Hayooo, udah segitu belum?

4. Kebutuhan bulanan

Berapa besar kebutuhan bulanan setiap individu/keluarga pasti beda-beda. Tergantung jumlah penghasilan, jumlah anggota keluarga dan gaya hidup. Kalau idealnya, jumlah pengeluaran bulanan itu jangan lebih dari 45% dari penghasilan (untuk yang sudah berkeluarga) dan jangan lebih dari 25% untuk yang masih single.

5. Asset oh asset…

Saya juga baru tau dari acaranya Aidil Akbar di O-channel, kalau idealnya kita harus punya asset yang nilainya sebesar:

Penghasilan setahun x usia : 10

Jadi misal penghasilan setahun 100 juta, usia 30 tahun, idealnya harus punya asset sebesar:

100 juta x 30 : 10 = 300 juta

Nah, berapa asset yang Anda miliki sekarang?

Semoga tahun ini kondisi keuangannya lebih sehat.

HAPPY NEW YEAR !!!

Add comment January 12, 2009

financial planning is NOT fun!

Saya masih ingat benar ‘perkenalan’ saya dengan nama-nama seperti S*fir Send*k dkk. Waktu itu, kira-kira setahun yang lalu, waktu ada promo HP CDMA Esia yang mulai mengeluarkan HP-HP murah. Lagi ngobrol-ngobrol mau beli type yang mana, seorang teman mengeluarkan kalkulator, mulai menghitung pendapatan, pengeluaran bulanan, dan tambahan pengeluaran kalau membeli tambahan 1 nomor HP lagi. Intinya, katanya, bedakan kebutuhan vs keinginan. Itu kata Safir Senduk, katanya lagi. Itu pertama kali saya dengar nama itu.

Dan saya spontan bengong. Idih, males bangeut! Beli HP yang (menurut saya) penting itu aja kok diitung-itung? Ada duit ya beli…Hidup kok ya dibuat susah! Mendzalimi diri sendiri!

Ngeliat saya yang bengong gitu, teman saya mulai nyerocos soal perencanaan keuangan, pentingnya budgeting, punya tujuan keuangan, dan lagi-lagi itu, bedakan keinginan dan kebutuhan. Saya langsung males lagi. Keinginan ya kebutuhan. Kerja susah-susah cari uang, buat apa kalau nggak untuk memenuhi keinginan, bukankah begitu?

Terus mulai ngomong soal investasi. Nah, ini saya agak tertarik. Retire young, retire rich, dan bisa bersenang-senang tanpa mikirin cari uangnya gimana. Liburan, HOREEEE !!!

Dari situ mulai deh saya beli buku, browsing, melahap semua soal keuangan, termasuk menulis di blog ini, supaya saya nggak lupa apa yang saya pelajari (dan mulai coba lakukan). Memang nggak semua saya tulis, malu-maluin soalnya kadangan hehehe Tapi lumayan lah, ada kemajuan, kalau saya liat blog-blog saya yang dulu, mana ada topik beginian ;) I feel more like a responsible adult :D Ini benar-benar dunia baru buat saya. Jangan salah, saya memang lulusan ekonomi, tapi lebih ke ekonomi makro, dengan segala asumsi, perhitungan dan teori perekonomian makro (halah, better not discuss it here). Bukan finance, apalagi personal finance (maybe I should take another course in personal finance? menarik soalnya ternyata, saya suka hehehe :D ). Untung juga kuliah ekonomi, jadi lumayan cepet ngeh soal inflasi, return on investment, pengaruh kondisi makro ke investasi (pribadi), interest rate…

Segala sesuatu kan katanya awalnya yang susah. Kalau udah jadi kebiasaan, jadi lebih gampang. Saya juga baru setahun ini mulai menata keuangan saya yang nggak seberapa. Makanya ditata, diplanning, biar yang nggak seberapa itu bisa maksimal. Sekarang sih masih ‘muda’, masih kuat cari uang lembur-lembur, tapi kita nggak mau kan diperbudak kerjaan terus? Diperbudak uang terus? Kerja keras cari uang, tapi uangnya nggak tau kemana, seperti menguap begitu saja. Nanti kalau pensiun gimana? Kalau dipecat kantor gimana? Kalau tiba-tiba ada resesi besar-besaran dan susah cari kerja gimana?

Saya dulu juga begitu :( Uang nggak tau abis kemana. Masih asik-asik aja, karena tiap bulan masih terima gaji. Beli mobil aja kalo nggak dipaksa kakak (dibayarin DP-nya, dan saya ‘terpaksa’ nyicil uang kreditnya yang ampun-ampunan itu tiap bulan), mungkin sampai sekarang saya belum punya mobil, tapi uang tetep abis nggak tau kemana. Urunan beli apartment juga gitu. Tau-tau kakak saya beli apartment 2 unit, dan saya ‘harus’ urunan bayar cicilannya yang bayarnya pake tunai bertahap itu. Ampuuunnn! Tapi sekarang saya bersyukur. Kalau nggak ‘dipaksa’ gitu, uang saya akan tetep abis, lengkap dengan tumpukan barang tak terpakai di gudang yang makin meninggi ;)

Masih belajar, masih salah-salah juga kadangan. Learning by doing, and mostly I did it wrong hehehe Makanya saya suka nyetanin teman-teman saya untuk mulai investasi dkk, jadi saya kan ada tambahan teman diskusi :) Adik saya ikutan saya setanin juga. Dia suka juga tuh. Saya bangga, seumur dia, dia udah mulai mikirin investasi (mengingat dulu nazar lulus UMPTNnya adalah beli buku komik, heran juga dia bisa mulai mikirin investasi :D ). Saya seumur dia dulu, wuahaahahah…!!! (btw, kalau mau baca blognya, di sini – http://ciwigunawan.blog.friendster.com).

Ternyata nggak se-menyiksa diri seperti yang saya kira. Justru kayaknya hidup lebih aman. Masih kok ikutan rebutan ke sale. Masih juga hunting tanggal merah, tiket murah, dan menghitung-hitung kapan uang saya cukup buat liburan. Masih hobi nyobain tempat makan.

Tapi kayaknya jadi lebih tenang. Karena saya tau, walaupun uang saya habis untuk berburu sale atau pernak-pernik gak penting kesukaan saya, tapi dana buat ngelahirin, buat sekolah anak, buat dana darurat kalau ada apa-apa, buat dana pensiun, alhamdulillah mulai terkumpul dikit demi sedikit, dan aman tersimpan di postnya masing-masing :)

So yeah, now I can say that financial planning is NOT indeed FUN! :)

2 comments December 10, 2008

haramkah bermain saham?

Almost the end of the year…Thought of starting my own stock portfolio since the middle of the year, unfortunately have no time to learn the fundamental thingy (yeah, right, no time to learn or not enough guts and courage to start? ;) you can always made up reasons for sure). What I have now is Reksadana, not enough adrenaline, just follow what your MI decides…nggak seru hehehee

I think I am ready next year…GO GIRL! (psssttt, I am no longer a girl I think, will be 30 next year, haha!)

First thing first, halalkah bermain saham?

Ini ada beberapa referensi yang saya baca, siapa tau berguna juga buat yang mau ikutan main. Belajar bareng yuk :)

* Dari http://syariahonline.com

Pada dasarnya berinvestasi itu halal, yang membuatnya menjadi haram adalah bila terdapat beberapa faktor, misalnya:

1. Investasi Dengan Sistem Bunga / Interest

Di bursa saham itu harus anda pastikan bahwa sistem investasinya adalah investasi mudharabah, yaitu investasi bagi hasil. bukan sistem riba yang membungakan uang. Sebab bila investasi itu menggunakan pembungaan uang, maka hukumnya menjadi haram oleh sebab akadnya yang ribawi itu.

2. Investasi Pada Bidang Yang Halal

Anda juga pastikan bahwa investasinya pada perusahaan yang halal, baik produknya maupun metode pengembangan usahanya.Maka bila perusahaannya itu memproduksi babi, makanan haram, prostitusi, obat-obatan narkotika dan sejenisnya, maka investasi di bursa saham itu pun ikut haram.

3. Menghindari Investasi Yang Bersifat Spekulasi

Investasi dengan cara spekulasi yaitu sikap gambling/judi atau untung-untungan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya seraya merugikan investor lainnya. Spekulasi ini dilakukan antara lain melalui margin trading, short selling dan option dengan mengharapkan capital gain. Namun demikian tidak semua harapan keuntungan melalui capital gain dapat dikategorikan termasuk spekulasi.

Sedangkan margin trading, short selling dan option dilarang karena Islam tidak memperbolehkan seseorang menjual sesuatu yang tidak ada padanya/tidak dimilikinya. Selain itu ada laranan berbisnis dengan cara untung-untungan.

* Dari http://www.halalguide.info

Jual beli saham pada dasarnya adalah merupakan bentuk syirkah mudharabah, dimana antara pengusaha dan pemilik modal sama-sama berusaha yang nantinya hasilnya bisa dibagi bersama. Dalam hal ini, pemegang saham adalah pemilik modal dan bank sebagai pengusahanya. Hanya perlu diperhatikan masalah kehalalan usahanya. Bila bank tersebut adalah bank konvensional yang menggunakan sistem bunga ribawi, tentu saja seorang muslim tidak boleh mendukung jenis usaha tersebut. Karena bunga riba adalah sesuatu yang diharamkan Allah. Ayat tentang bunga riba ini ada di QS. Al-Baqarah : 275, QS. Al-Baqarah : 276, QS. Ali Imran : 130.

Sehingga membeli saham bank konvensional tersebut pun terlarang karena uang kita akan diputar dalam sebuah bisnis ribawi yang diharamkan. Hal yang sama juga berlaku pada saham perusahaan yang jelas-jelas produksi merupakan barang yang diharamkan syariat seperti minuman keras, rokok, usaha panti pijat dan sejenisnya.

Banyak sumber lain, bisa tanya ke om google. Saya cukup 2 itu aja, dengan fatwa halal dari MUI.

I got homework for next year, YAY! :D

2 comments December 5, 2008

krisis…krisis…

Makin hari krisis makin berasa ya ke sektor riil. Ya jadinya pengaruh besar juga ke kita-kita ini. Harga susu naik, pampers naik, gas naik, jatah makan siang musti naik juga, taxi jadi mahal bangeut. Duh!
Di dunia maya juga, makin banyak email-email saya dapat soal what to do-what not to do di saat-saat begini. Pegang cash, jangan beli dollar, jangan beli emas, beli emas, beli dollar kan udah 11 ribu lebih..waduh, pusing!

Saya bukan ahli masalah keuangan, lagi belajar juga nih. Tapi ketika ada teman yang bilang ’sayang bangeut ya investasi lo’ (investasi saya memang lagi jeblok bangeut sekarang), ‘coba kalau tau dari awal tahun ya, kan bisa ditarik duluan’, ‘nasi udah jadi bubur ya’, saya agak-agak mikir juga…Haruskah saya menyesal? Soalnya walaupun (sementara) uang saya ambles, tapi kok saya tidak menyesal hehehe :p

Kenapa?

Selain karena uang yang saya investasiin memang juga nggak banyak (kalau nggak saya investasiin paling juga berubah wujud jadi pernak-pernik lucu gak penting), sebenarnya tanda-tanda krisis ini udah dari awal tahun kok. Cuman waktu itu kan belom (terlalu) pengaruh ke sektor riil, jadi ke kita nggak berasa. Dan saya tetap memilih untuk tidak menarik investasi saya, malahan tetap berusaha berinvestasi dengan teratur. Jadi bukan karena ‘nasi sudah menjadi bubur’ :p

Investasi saya yang ikutan tergonjang-ganjing (baca: saham) adalah investasi untuk jangka panjang.
Yang baru akan saya gunakan nanti, lebih dari 15 tahun lagi. Masa’ sih dalam waktu 15 tahunan itu, pasar tidak membaik? Lagipula, kalau saya berhenti investasi dan mulai menabung saja (seperti saran dalam salah satu email berantai yang saya terima), uangnya jadi nggak cukup untuk mencapai tujuan keuangan saya. Misalnya saja untuk dana pensiun. Setelah itung-itung, saya dan Rahman butuh uang 28 milyar untuk pensiun dengan nyaman, tanpa membebani anak cucu. Banyak bangeut ya? Ngeri melihat angkanya. Kalau dengan menabung, saya harus nabung sekitar 90 jutaan per bulan, selama 25 tahun untuk mencapai angka itu. Darimana uang sebanyak itu??? Ngeliat angkanya aja saya pingsan! Kalau investasi, insya Allah dengan ratusan ribu per bulan, 25 tahun lagi uang saya yang pas-pasan ini cukup buat mencapai angka segitu. Amien…

Kalau untuk tujuan jangka pendek, seperti melahirkan dan rencana-rencana lain yang pengennya dicapai dalam 3 tahun ke depan ini, saya memang lebih memilih menabung/deposito. Lebih aman untuk jangka pendek. Saham saya boleh anjlok, tapi saya tetap harus melahirkan (insya Allah) 4 bulanan lagi kan?

Jadi, kalau saya boleh urun rembug what to do with your money, yang paling penting menurut saya adalah:

Pertama, dana darurat, dana darurat, dana darurat.

Dana ini jadi 1000x lipat lebih penting sekarang. Nggak ada yang tau kondisi perekonomian ke depan gimana. Nggak ada yang tau sampai kapan perusahaan bisa membayar kita. Jadi, DANA DARURATnya dipenuhin dulu, jangan sampai kosong!

Kedua, Kalau dana daruratnya udah penuh, sampe luber, udah siap dengan kondisi apapun yang bakalan terjadi nanti (diPHK, harga barang makin menggila dll), dan masih ada uang sisa banyak, lihat lagi tujuan keuangan Anda, terutama yang jangka pendek. Alokasikan untuk memenuhi yang buat jangka pendek dulu. Caranya? Lihat profil resiko. Kalau mau aman, ya nabung aja.

Ketiga, dana darurat udah, tujuan jangka pendek juga udah terpenuhi. Terus ngapain? Ya…liburan aja, daripada pusing mikirin masa depan yang nggak jelas! hehehe :P Seriously, daripada uangnya abis ke M*tr* Great Sale yang penuh orang itu (termasuk saya hehehe), sisihkan sebagian aja buat ke great sale yang lain, stock market! Saham-saham bagus lagi obral gila-gilaan tuh. Tapi inget, ini uang yang emang bener-bener harus udah siap kalau hilang ya. Udah siap kalau harus menunggu lamaaaa sekaliiii baru menghasilkan. Uang yang memang nggak akan dipergunakan sewaktu-waktu (kan tadi udah punya dana darurat, jadi bisa dong pake itu ;) )

Yang pasti, jangan ikut-ikutan jadi spekulan dadakan yang jual-beli USD dalam keadaan begini. Paling untung berapa sih? Tapi makin membuat negara kita seperti kehilangan harga diri.

Mendingan uangnya buat beli produk-produk Indonesia (nah, yang ini saya setuju dengan email berantai itu). Seharusnya kita memang cinta produk-produk Indonesia SELALU bukan, nggak cuman pas krisis aja? ;)

6 comments October 30, 2008

ngobrol!

Seorang teman dekat saya akan menikah (uhuyyy..cihuyyy..!!!). Mulailah diskusi kami yang biasanya berkisar antara ’si ini jadian dengan ini’, ‘artis ini kok gitu ya’, ‘ada promo ke sini’, ‘ada diskon di sini”, bergeser jadi ke hal yang lebih serius. Salah satunya, soal kebiasaan mengelola keuangan pasangan (yang lain banyak, tapi di sini bahas yang ini aja hehehe).

Saya akui, satu ilmu SANGAT penting yang saya pelajari dalam 1 tahun belakangan ini (dari pertengahan tahun kemarin, tepatnya) adalah soal mengelola keuangan. Sampai dengan akhir tahun kemarin, jangan harap saya punya tabungan kecuali untuk liburan yang sudah saya rencanakan. Tujuan keuangan saya cuman satu: pergi ke ABC, XYZ, DEF. Tercapai pergi ke satu tempat, muncul tempat yang lain. Duh!

Ketika sudah mulai berpikir untuk serius dengan Rahman, topik soal hal yang (katanya) sensitif ini juga salah satu yang jadi bahasan. Sebenarnya, Rahman duluan yang mulai ngebahas soal ini. Saya waktu itu masih gengsi :P (Gile aje, ntar dikira gue matre! Padahal kan saya juga punya penghasilan sendiri. Bisa kok beli mobil dan apartemen -walaupun seuprit- sendiri. Jadi sorry deh ye kalau matre! hehehe). Dari hasil obrolan berkelanjutan itu (lanjut sampai sekarang, bahkan), banyak yang bisa saya pelajari. Walaupun profil resiko kami bagai bumi dan langit, untungnya saya dan Rahman punya banyak pandangan yang sama soal pengelolaan keuangan.

Salah satunya:

Seorang laki-laki WAJIB menafkahi istri dan anak-anaknya. Sementara jika seorang perempuan mampu bekerja, ia TIDAK WAJIB memberikan hasil kerjanya itu kepada keluarganya.

Jadi?

Kalau kata Rahman, uang dia = uang saya. Semua kebutuhan pokok keluarga harus dari gaji dia. Karena itu tanggung jawab dia, katanya.

Uang saya = ya uang saya, pake aja semau saya buat apa. Tapi yang penting, kalau nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan Rahman dan pendapatannya (diPHK, misal, audzubillahimin dzalikkkk), pendapatan saya bisa jadi ‘bemper’ sementara, sampai dia dapat pekerjaan baru.

Hahahaha…big grin on my face hihihi (I guess this is one of the many reasons why I said yes when he asked me to marry him hehehe I don’t mind to start everything from zero, but I need to make sure that he is responsible, right?)

Lalu, siapa yang mengelola keuangan?

Di keluarga kami berdua, kebetulan Ibu yang berperan besar dalam pengelolaan keuangan. Kalau di antara kami berdua? Rahman tipe yang nggak mau repot, maunya liat best practice orang-orang kayak gimana, he’ll follow the same path. Tipe konservatif, yang cari aman dalam berinvestasi. Saya kalau soal uang, risk taker. Sering Kadangan suka nggak mikir panjang. Boros pula. Impulsive buyer kelas berat. Tapi kalau udah niat sama sesuatu, yah bisa juga lah berpikir jernih. Kadang-kadang hehehe

Mengakomodir itu semua, jalan tengah memang sepertinya yang terbaik.

Gaji Rahman untuk memenuhi kebutuhan pokok kami sehari-hari, ditambah dengan alokasi untuk proteksi, dana pendidikan anak dan beli rumah (dia bilang itu tanggung jawab dia, karena kebutuhan pokok-papan. He said he doesn’t want my money :P )

Gaji saya untuk memenuhi tujuan keuangan yang lain (dana pensiun, dana weekend, dana liburan – I don’t mind saving to go places anyway…yay!, dan seharusnya bisa mulai membangun mimpi saya untuk punya active assets)

Pilihan investasi kemana?

Saya kan yang hobi browsing dan baca yang begini-begini, jadi untuk gaji Rahman saya buat ‘proposal’ mau investasi kemana. Instrumen yang aman-aman aja deh. Reksadana campuran paling maksimal (untuk mengurangi rasa bersalah saya juga kalau nanti ternyata lost :P ). Uang saya? Nah, ini dia yang bahaya hehehe Toh, saya pikir dana pensiun ‘baru’ akan kami pergunakan kira-kira 25 tahun lagi. Kalau untuk jangka panjang, boleh dong investasi ke instrumen yang resikonya (agak) besar? ;)

Untuk liburan? Kalau investasinya nggak berhasil, ya tinggal ubah tujuan liburannya ke tempat yang lebih murah :P

Ada untungnya juga punya profil resiko yang beda begini. Saya jadi lebih ‘mikir’ dulu sebelum bertindak. Sebelum beli yang mahal-mahal (kalau yang nggak mahal mah ya sudahlah…I work for that, I deserve it dong :P ). Nggak terlalu grabag-grubug. Walaupun tetap masih kacau juga :(

Kepanjangan.

Ah, pokoknya obrolan masalah pengelolaan keuangan emang nggak pernah abis deh…

Selamat ngobrol dengan (calon) pasangan ya :)

Update:

Banyak komentar japri yang masuk ke email saya soal posting ini. Yang cewek pro. Yang cowok bilang enak bangeut :P Just to make things straight, jangan salah persepsi soal postingan saya di atas. Sama sekali bukan mengajarkan apalagi provokasi bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik dan benar. Karena memang nggak ada yang benar dan salah. Semua tergantung. Tergantung pasangan yang akan menjalaninya. Kebetulan, buat Rahman dan saya, itu yang terbaik buat kami. Menurut kami.

Yang saya mau highlight di postingan ini, hanya bahwa: sangat penting untuk mulai ngobrol (bagi yang belum) dengan (calon) pasangan masalah yang satu ini. Udah, itu aja. Bagaimana nanti menjalaninya, ya terserah hasil obrolan berdua. Dicari yang enak buat kedua pihak. Itu kan gunanya NGOBROL..? ;)

2 comments October 16, 2008

gonjang-ganjing pasar modal: what should I do?

Udah lama nggak nulis soal keuangan dan perencanaan keuangan…Belajar saya mandek, lagi tertarik belajar hal lain hehehe Tapi mumpung pasar modal lagi gonjang-ganjing begini, sepertinya penting untuk ikutan urun rembug apa yang harus kita lakukan.

Alasan apa yang terjadi di pasar modal global, dan imbasnya ke pasar modal Indonesia, udah banyak diulas dimana-mana ya. Males nulis di sini hehehe

Lalu, setelah begini, kita sebagai orang yang baru belajar investasi, harus bagaimana?

1. Rencana keuangan harus jalan terus

Kalau sudah kondisi begini, kesediaan dana darurat harus diperhatikan. Dana darurat yang besarnya sekitar 3-6 kali kebutuhan bulanan kita itu, sangat berguna ketika kita butuh uang tunai mendadak, seperty safety net ketika pasar modal atau investasi kita yang lain terjun bebas.

2. Investasi juga harus jalan terus

Untuk pilihan investasi yang mana dan bagaimana, kenali resiko investasi Anda.

Konservatif
Kalau Anda tipe konservatif, jangan ragu dan malu untuk berhenti dulu jika Anda tidak merasa nyaman dengan kondisi pasar modal sekarang yang sangat tidak stabil. Tapi tetap sisihkan sebagian penghasilan Anda, untuk bermain di instrumen-instrumen jangka pendek. Jadi, tetaplah menabung, deposito, atau berinvestasi pada produk-produk berisiko rendah seperti reksadana pendapatan tetap.

Moderat
Jangan ikutan panik dan sibuk mencairkan reksadana. Saat ini kondisi pasar sedang menurun, jika Anda mencairkan reksadana sekarang, maka Anda akan melakukan cutloss. Padahal kalau tidak Anda cairkan, kerugian yang Anda derita hanya di atas kertas saja (tidak real). Tetap lakukan investasi secara reguler, karena kalau tidak, berarti Anda kehilangan momentum untuk mencapai apapun itu tujuan finansial Anda. Dibutuhkan tabungan yang jauh lebih besar nantinya, untuk menggantikan investasi Anda saat ini.

Agresif
Hi…hi…it’s time for shopping! ;)
Pasar saham sedang menuju ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Anda yang berani mengambil resiko pasti tak mau kehilangan kesempatan, memanfaatkan momentum penurunan tersebut. Bisa dengan menambah/menitikberatkan investasi pada reksadana saham untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang (di atas 10 tahun).

Apapun keputusan yang diambil, ingat untuk jangan ikut-ikutan. Banyak baca, tanya, sebelum mengambil keputusan. Dan jangan menipu diri sendiri. Kenali profil resiko Anda :)

1 comment October 15, 2008

save money on food

I just read an interesting article from kiplinger.com. It’s about saving money on practically everything. There are 8 spending categories, let’s start with the first one, my all time favorite: FOOD !!! :)

They say, this is the way to satisfy the hunger without starving your wallet. Hmmm…quite promising, right?

So, here are ten ways to save money on groceries and dining out.

1. LEARN TO COOK

Eating out is a huge budget buster. Even seemingly inexpensive fast food can add up quickly. Cooking your own meals could save you a small fortune on restaurants and groceries (you’ll buy fewer pricey frozen and prepared meals).

Menurut saya: Ini bener bangeut! Selain lebih sehat, you can reduce your expenditure significantly just by cooking yourself. Dulu waktu di Belanda, ini kerasa banget. Makan nasi rames (ada banyak resto Indonesia di sana), harganya sekitar 6.50 euro/porsi. Ada mie di stasiun (saya suka makan kalau mau berangkat kerja), harganya 4.95 euro. Padahal cuman spaghetti digoreng, dengan daging sedikit dan rasa yang juga standard. Saya bisa buat lebih enak, kalau lagi rajin hehehe Kalau makan di restoran jauh lebih mahal lagi. Padahal kalau masak sendiri, mie, spaghetti, dan teman-temannya itu harganya sebungkus gak sampe 2 euro. 50 euro itu bisa buat 1 minggu!

2.TAKE FEWER TRIPS TO THE GROCERY STORE

Making bigger shopping trips less often will cut down on your impulse buys. In fact, almost half of all shoppers go to the store three or four times per week. Shoppers making a “quick trip” to the store usually purchase 54% more than they planned, according to a study published by the Marketing Science Institute. If you go to the store three times a week and spend $10 on impulse buys each trip, that adds up to $120 extra per month. But if you go only once a week, you’ll spend $40 per month on impulse buys. That saves you $80 per month, or $960 per year.

Kalau saya, untuk belanja bulanan yang banyak memang hanya sebulan sekali. Tapi sejak adanya jaringan toko ritel xxxxmart dimana-mana, agak susah juga buat nggak mengunjungi toko-toko itu kalau lagi butuh sesuatu, dan berakhir exactly seperti yang tertulis di atas. Tapi bener juga ya, akan dicoba! Mungkin jangan lihat saving yang kita lakukan dalam sekali kunjungan, tapi lihat dalam sebulan, setahun. Baru kan berasa!

3. BREAK YOUR RESTAURANT ROUTINE

This may seem obvious, but we are creatures of habit and convenience. Make an effort to cut back a little, such as dining out once a week instead of three nights a week. With $20 meals, this simple act will trim your expenses by $160 a month. Or, try something different — and cheaper. Pick up a restaurant guide or a tour book of your city for budget-friendly suggestions. If you eat out three times a week, cutting just $5 from each meal ticket will save you $60 a month.

I think this is SO TRUE ! Coba aja dalam sebulan ini (mumpung masih awal bulan sekarang), hitung berapa kali kita makan di restoran, dan berapa uang yang sudah dikeluarkan. Saya pernah menghitung. Pengeluaran saya untuk makan memang lumayan banyak. Dalam seminggu, bisa 4-5 kali makan di restoran (di luar makan di kantin pas makan siang, di luar makan di tenda ya…). Misal rata-rata 4 kali. Pengeluaran sekali makan misalnya 100-200 ribu. Rata-rata 150 ribu. Sekarang lagi dicoba untuk tidak terlalu rakus maruk, jadi makan mahalan 2 kali aja dalam seminggu. Kalau dihitung, penghematan saya bisa 300 ribu per minggu = 1,2 juta per bulan…Lumayan bangeut…Yah, sedang diusahakan…Semoga bisa ya..

4. BRING YOUR LUNCH TO WORK

Spending just $2 a day on a home-made lunch versus $6 a day on the sandwich shop next to the office will save you about $80 a month and $960 each year.

Berapa anggaran makan siang Anda? Rata-rata kebanyakan orang mungkin 10-20 ribu rupiah ya per hari. Kadang-kadang bisa makan mahalan, tapi kalau setiap hari bangkrut juga hehehe Kalau bawa makan siang dari rumah, dengan perhitungan menghemat 50%-nya saja, maka Anda akan bisa menghemat 100-200 ribu per bulan. Lho, kok dikit ya? Kurang signifikan sepertinya. Atau hitungan saya salah ya? Kalau masak di rumah, hematnya berapa % ya? Ada yang punya pengalaman? hehehe

5. GROCERY SHOP WITH FOCUS

Another way to cut down on impulse buys is to shop with a list. Sketch out the week’s meals and jot down the ingredients you’ll need. Remember to factor in treats, snacks and lunches. Then stick to the list. You might find it helpful to leave the kids at home so you’re not tempted to give into pressure from crying children for an extra treat or toy that isn’t on your list.

Ini berhubungan dengan no. 2 di atas sepertinya. Make a list, go shopping, and stick with the list! Sounds simple, tapi prakteknya? Susaaahhhh…Mari sama-sama berusaha…Semangat!

6. BUY GENERIC

You can almost always save money by choosing a no-name brand instead of a brand name. And you usually won’t sacrifice much in quality on many items, from cereal to canned goods and frozen vegetables. Also, the savings on generic baby formula and prescription drugs can be huge.You could save a few cents to a couple of dollars per item. And that adds up quickly each month.

Ini bener lho…Mulai dari obat generik sampai kue ulangtahun. Ada teman saya yang jago buat kue, rasanya nggak kalah sama bakery terkenal. Tapi karena belum punya toko, cuman usaha rumahan, harganya jadi jauh lebih murah. Bisa cerewet lagi, minta rasa macem-macem hehehe Saya juga buat dimsum dan bakso, rasanya gak kalah sama di restoran deh :P Baru mulai buat, tapi karena home-industry, nggak repot sama budget besar buat promosi dan biaya-biaya siluman lain, jadi harganya masih terjangkau bangeut. Lho, kok saya jadi promosi hehehe :P

7. MAKE YOUR OWN LATTE

That daily $4 cup of coffee is costing you $120 per month — or more than $1,400 per year. Invest in a good-quality machine and make your own brew for much less. Or kick the caffeine habit altogether and enjoy the health benefits along with the financial.

Saya bukan penggemar kopi, lebih suka teh dan susu (I LOVE DAIRY !!!). Nyammm! Tapi kalau lagi ngumpul di St*rb*cks, berasa banget memang. Tapi karena nggak terlalu sering juga, hanya kadang-kadang, ya sudahlah, biarkan saja…

8. USE COUPONS

You know about coupons for groceries. But don’t overlook bargains for dining out. For instance, at Restaurant.com you can get a $25 gift certificate to local restaurants for only $10. Use the coupon once a week, and you’ll save $60 per month. Or, before you dine out, hit the Web. At http://www.retailmenot.com/coupons/food, you can quickly find printable coupons and codes for dozens of eateries.

Nahhh, ini yang saya suka. Walaupun di sini kupon belum terlalu banyak, tapi ada diskon lain yang bisa dimanfaatkan. Diskon kartu kredit! Kata siapa kartu kredit itu musuh? Bisa kok jadi teman, asal kita disiplin bayar sebelum batas waktu. Dan diskon di restorannya itu lho! Makan di Takigawa, Poke Sushi diskon 50% kan lumayan bgt! Bgt! Kalau yang saya tau, kartu kredit yang rajin memberi diskon untuk restoran-restoran itu adalah Mandiri, HSBC (ini juga diskon di blitz! wow!), BCA (di starbucks, free upgrade). Jadi ya, jangan kita yang dimanfaatkan kartu kredit, tapi kita yang harus memanfaatkan mereka! ;)

9. TIME YOUR MEAL

No, eating quickly won’t make the bill smaller. Rather, consider eating out for lunch instead of dinner. That way, you can get lunch-menu prices for dinner-quality entrees.

Ini sepertinya untuk restoran-restoran yang suka ada menu ‘paket makan siang’. Kualitas sama, tapi harga lebih murah.

10. MIND THE UNIT PRICE

Many grocery store tags will tell you how much an item costs per ounce, per pound or by some other unit of measure. Comparison-shop by unit price and save. For example, a pack of 40 diapers at our local drug store cost $13, or 33 cents per diaper. A box of 144 diapers cost $35, or 24 cents per diaper. A difference of 9 cents may not seem like much, but when you change a diaper six to eight times each day, that amounts to a savings of $16 to $22 per month. One caveat: Don’t buy in bulk if you won’t use it all — otherwise, you wasted your money, no matter how good a deal it was.

Iya nih, point yang terakhir juga bener bangeut. Kadangan suka beli banyaaakkk, karena lebih murah, padahal akhirnya nggak kepake juga, dan berakhir di tong sampah! Lagi-lagi, musti buat list kali ya. Berapa yang kita butuhkan dalam sebulan. Dan stick with it!

See you on the next saving tips for the other 7 categories! ;)

2 comments May 2, 2008

Previous Posts


Categories

...recent ramblings...

…comments…

…archives…

Blogroll

…recommended…

...photos...photos...

More Photos

…i am part of…

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

...since january 3, 2008...