Archive for September, 2008

dan ada seorang satpam menyebalkan

Masih ingat ‘jualan’ kue kering saya?

Hari Jumat yang memang jadwalnya saya kerja di rumah, saya isi dengan mengantar kue-kue pesanan orang. Semua lancar. Sampai saya mengantarkan paket-paket kue ke Graha Inti Fauzi (GIF), Buncit tempat kerja 3 sahabat saya yang kebetulan memesan kue juga.

Saya tunggu di parkiran, biar langsung bisa pindah barang antar mobil.

Parkirannya tidak begitu besar, hanya cukup untuk 4 baris mobil (2 lajur berhadapan). Saya yang diantar adik saya, parkir paralel, karena cuman mau nurunin barang, dan kami pergi lagi. Saya udah sering bangeut sebenarnya ke GIF, parkir cuman buat janjian ambil sesuatu, atau bahkan cuman nebeng parkir, dan pergi dengan mobil teman saya. Bahkan dulu jamannya trave masih ada, ruang rapat kantor itu sering kami jadikan ruang rapat dadakan tengah malam (seorang sahabat saya finance di satu kantor di gedung itu, pulangnya suka malam. Jadi sekalian aja, nungguin dia kerja sambil rapat hehehe). Biasanya normal-normal aja.

Tapi kejadian hari ini, bener-bener buat saya agak kapok ke GIF (kalau nggak pakai mobil bagus, dan well-dressed, arrrrghhhhh !!!)

Sambil nunggu, kami parkir paralel di lajur belakang. Ternyata mobil teman di lajur depan, jadi kami pindah lagi. Satpam (saya catat namanya: RUBINSON) udah mulai agak rese’. Dari gaya ngomongnya yang merendahkan sekali, sepertinya saya dan adik saya ini encik-encik penjual kue yang memang gak layak diperlakukan pantas. Saya masih diam saja. Orang begitu diladenin, buang-buang energi!

Kami mulai menurunkan barang.

Tiba-tiba ada mobil datang (mercy hitam, mengkilat). Mobil kami yang parkir paralel pas di tikungan memang menghalangi. Adik saya dengan tau diri mengatur parkirnya. Mobil mercy itu sudah bisa lewat. Tapi Pak Rubinson yang terhormat itu sepertinya tetap tidak terima. Mencoba tenang (walau saya mulai emosi juga liat dia yang seperti menganggap kami sampah), ‘Tinggal satu kali angkut aja Pak. Sebentar!). Dengan agak nggak terima (his face shows it sooooo obviouussssly !!!), dia mengangguk.

Angkut-angkut selesai.

Adik saya puter balik lagi untuk keluar.

Ternyata kami salah ambil jalur. Keluar harusnya ke kanan, kami lurus.

Dengan tidak sopannya, Pak Rubinson yang terhormat itu teriak-teriak memanggil. Saya bingung (belum sadar kalau salah jalan), tapi sedikit emosi dengan caranya yang seperti memanggil maling.

Saya turun, mau tanya ada apa. Adik saya ternyata turun juga.

‘Kenapa pak??’

Dia seperti kaget melihat kami turun, cuman menunjuk arah keluar. Saya langsung sadar ‘oh, salah jalan’. Dan balik ke mobil. Adik saya ternyata tidak balik ke mobil. Dia mungkin sudah benar-benar emosi, dan akhirnya menantang Pak Rubinson yang terhormat itu. Nggak mukul. Dia bilang dia nggak terima diperlakuin begitu. Emang gak bisa lebih sopan?

Pak Rubinson yang terhormat dengan pongahnya bentak-bentak: ‘KENAPA LO? KENAPA LO? GUA YANG NGATUR DI SINI !!! ‘

Satpam-satpam lain mulai berdatangan. 2 memegang adik saya dan memisahkannya dari Pak Rubinson yang terhormat (salah satu ternyata bilang, “Udah mas, maafin aja mas. Dia emang orangnya gitu,”

1 lagi menghampiri saya yang jadi ikutan sewot juga.

Saya cuman ingat saya sempat bilang, “Cara Bapak emang nyebelin Pak. Saya aja yang perempuan emosi!”

Temannya itu membela. ‘Tapi tetap bu, memukul satpam itu salah!”

Tidak mau memperpanjang, saya minta maaf, dan balik ke mobil. Dan mengajak adik saya pulang. Saya masih sempat denger Pak Rubinson yang terhormat itu teriak, “UNTUNG AJA GUE LAGI PUASA !”

Dan sampai sekarang saya masih kesal bangeut! Sedikit menyesal, kenapa saya selalu kehabisan kata-kata kalau sudah kesellll bgt sampe ubun-ubun. Padahal masih banyak yang mau saya katakan.

Kalau jangan mentang-mentang dilihat karena kami Cina (separuh, tapi tampang saya dengan jelas menunjukkan. Saya nggak pernah menutup-nutupi kecinaan saya kok), kami bisa diinjak-injak (dari kecil saya udah sering kok dapet diskriminasi karena ras, jadi udah tau diri) dan dikira nggak puasa (adik saya puasa pak! Saya kalau nggak karena hamil muda, pasti puasa juga!)

Kalau jangan mentang-mentang mobil yang saya pakai mobil lama (saya mau nganter kue kering 100 dus, masa’ mau pake BMW?), dia jadi bisa seenaknya memperlakukan kami.

Kalau jangan karena saya dan adik saya berantakan (saya emang malas nyisir, btw. Adik saya apalagi), dia jadi bisa seenaknya mengira kami pedagang kue yang tidak ada harga dirinya.

Tau nggak Pak, saya ‘jualan’ kue murah itu juga karena biar orang-orang kayak Bapak bisa dapet pembagian kue!

Tau nggak Pak, tanpa ‘jualan’ kue pun saya masih bisa hidup. Daily rate saya di professional life mungkin sama dengan gaji bapak sebulan.

Jadi jangan belagu jadi orang, cuman karena Bapak Rubinson yang terhormat berseragam dan lebih memilih melayani orang-orang dengan kendaraan mewah !!!

Semoga Bapak Rubinson yang terhormat mendapat hikmah Ramadhan. Karma ada di mana-mana Pak!
ARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHH !!! KESEL BGT !!!

PS:

- Saya jarang emosi sampai sekesal ini dengan orang. Saya lebih memilih menghindari konflik daripada konfrontasi langsung. Tapi kali ini, saya merasa Pak Rubinson yang terhormat memang benar-benar keterlaluan! Saya dapet no telp pengelola GIF dari sahabat saya. Tadinya mau saya laporkan. Tapi mikir lagi, kalau dia sampai dapat teguran, atau sangsi, kasian bangeut ya? Keluarganya makan apa? Mana mau Lebaran…Saya memang masih kesal sampai sekarang, tapi toh dia tidak cukup berharga untuk ‘merusak’ kehidupan saya. Paling besok juga kekesalan saya udah hilang.

- Saya ngadu dengan sahabat saya yang berkantor di sana, dan kebetulan sedang keluar kota. Katanya dia juga pernah berantem sama satpam di GIF. Katanya lagi satpam-satpam di sana mata duitan semua. That explains!

13 comments September 19, 2008

medical tips for food lover

Q: I’ve heard that cardiovascular exercise can prolong life; is this true?
A: Your heart is only good for so many beats, and that ’s it… don’t waste them on exercise. Everything wears out eventually. Speeding up your heart will not make you live longer; that’s like saying you can extend the life of your car by driving it faster. Want to live longer? Take a nap.

Q: Should I cut down on meat and eat more fruits and vegetables?
A: You must grasp logistical efficiencies. What does a cow eat? Hay and corn. And what are these? Vegetables. So a steak is nothing more than an efficient mechanism of delivering vegetables to your system.
Need grain? Eat chicken. Beef is also a good source of field grass (green leafy vegetable). And a pork chop can give you 100% of your recommended daily allowance of vegetable products.

Q: Should I reduce my alcohol intake?
A: No, not at all. Wine is made from fruit. Brandy is distilled wine, that means they take the water out of the fruity bit so you get even more of the goodness that way. Beer is also made out of grain. Bottoms up!

Q: How can I calculate my body/fat ratio?
A: Well, if you have a body and you have fat, your ratio is one to one. If you have two bodies, your ratio is two to one, etc.

Q: What are some of the advantages of participating in a regular exercise program?
A: Can’t think of a single one, sorry. My philosophy is: No Pain…Good!

Q: Aren’t fried foods bad for you?
A: YOU’RE NOT LISTENING!!! …. Foods are fried these days in vegetable oil. In fact, they’re permeated in it. How could getting more vegetables be bad for you?

Q: Will sit-ups help prevent me from getting a little soft around the middle?
A: Definitely not! When you exercise a muscle, it gets bigger. You should only be doing sit-ups if you want a bigger stomach.

Q: Is chocolate bad for me?
A: Are you crazy? HELLO Cocoa beans! Another vegetable!!! It’s the best feel-good food around!

Q: Is swimming good for your figure?
A: If swimming is good for your figure, explain whales to me.

Q: Is getting in-shape important for my lifestyle?
A: Hey! ‘Round’ is a shape!

Well, I hope this has cleared up any misconceptions you may have had about food and diets.

And remember:

‘Life should NOT be a journey to the grave with the intention of arriving safely in an attractive and well preserved body, but rather to skid in sideways – Chardonnay in one hand – chocolate in the other – body thoroughly used up, totally worn out and screaming ‘WOO HOO, What a Ride’

AND…..

For those of you who watch what you eat, here’s the final word on nutrition and health. It’s a relief to know the truth after all those conflicting nutritional studies.

1. The Japanese eat very little fat and suffer fewer heart attacks than Americans.

2. The Mexicans eat a lot of fat and suffer fewer heart attacks than Americans.

3. The Chinese drink very little red wine and suffer fewer heart attacks than Americans.

4. The Italians drink a lot of red wine and suffer fewer heart attacks than Americans.

5. The Germans drink a lot of beers and eat lots of sausages and fats and suffer fewer heart attacks than Americans.

CONCLUSION

Eat and drink what you like.
Speaking English is apparently what kills you.

Add comment September 17, 2008

Jual Paket Kue Lebaran Murah: cocok untuk bagi-bagi

Hi…hi…

Udah mau lebaran nih…

Saatnya untuk berbagi rezeki dengan mereka yang sudah banyak bantu kita. Jangan lupa jasanya OB/OG yang rajin beliin titipan makan siang, sopir kantor yang kadang wara-wiri juga buat keperluan pribadi (hehehe), sampai ‘crew’ di rumah yang kadangan stand by 24 jam…

Ayo bagi-bagi kue kering buat mereka…

Ada paket kue kering buat Lebaran dengan harga terjangkau nih…

Cuman Rp 49.500 untuk 1 dus isi 4 toples, masing-masing:
- Kacang, sagu, kembang coklat, kembang kuning
atau
- Salju, sagu, kacang, kembang kuning

Packing:
Dus kado hijau cantik dengan tulisan ‘Selamat Idul Fitri’.
Cocok untuk langsung dibagikan, tanpa perlu repot mengemas ulang.

Ongkos kirim (untuk wilayah Jakarta dan Depok):
- Rp 10,000 untuk pembelian 1-9 dus
- Gratis untuk pembelian minimal 10 dus.

Untuk wilayah lain, dikirim pakai TIKI ya, jadi ongkos kirim sesuai tarif TIKI.

Mau beli banyak? Psssttt, harganya diskon lagi kalau beli minimal 25 dus.

Sip kannn !!!

Mereka-mereka yang dikasih pasti senang. Semoga jadi tambahan pahala juga buat kita, amien….

Pesan email langsung ke:

dedek.gunawan@gmail.com

Ini foto-fotonya ya:

Packagingnya

Kue Kacang

Kembang Coklat dan Kembang Kuning

Kue Putri Salju

Kue Sagu Susu

5 comments September 14, 2008

you DO have a choice

Buka puasa, ngobrol ngalor-ngidul, ada teman yang bertanya soal rencana saya setelah melahirkan nanti (amien…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…). Rencana? Ya, rencana…apakah akan terus bekerja, atau berhenti dan mengasuh anak.

Saya bilang saya belum tahu. Masih 6 bulan lagi, ntar aja saya pikirin ;) Teman saya, yang mungkin ternyata mengenal saya lebih baik dari yang saya kira (hehehe, sorry dude!) bilang nggak mungkin saya nggak punya rencana.

Jujur, saya memang nggak punya.

Yang pasti, akhir Desember nanti saya memutuskan berhenti dari salah satu pekerjaan saya. Jadi, waktu saya hamil 7 bulan nanti (insya Allah…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…), otomatis saya ‘hanya’ mengerjakan 1 pekerjaan, yang bisa dikerjakan dari rumah pula.

Lalu, setelah pekerjaan itu selesai? (it’s a consultancy job, doing one cost-benefit analysis, economic study for 1 year)

Saya bilang, saya belum tahu.

Kalau saya bisa cukup hemat menabung, seharusnya tabungan saya setahun ini cukup untuk saya setahun ke depan tanpa harus bekerja. Ditambah uang jajan dari Rahman (hehehe, curang ya saya…udah punya penghasilan sendiri, masih dikasih uang jajan :P ), harusnya lebih dari cukup, tanpa harus menurunkan standard dan gaya hidup. Itu dari segi keuangan. Dari segi aktualisasi diri dan kebutuhan lahir-batin saya yang nggak bisa diam? Nah, ini dia yang jadi pertimbangan utama.

Yang pasti, saya mau ngasih ASI dan stimulus ngajarin anak saya macem-macem sampai minimal 2 tahun (insya Allah…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…). Dan yang pasti juga, saya harus tetap punya penghasilan sendiri. Jadi keputusan apapun yang (nanti) saya ambil, harusnya bisa mengakomodir 2 hal itu ;)

Lalu, pekerjaannya apa? tanya teman saya itu, lagi.

Saya belum tahu. I’ll just cross the bridge when I get there, kata saya. Rejeki ada di mana-mana, dan nggak mungkin ketuker. Sekarang saya masih ada saluran rejeki saya. Untuk nanti, ya nanti saya cari. Toh, selama ini saya juga cukup sering berhenti dan pindah kerja. Cukup sering juga dapet rejeki di luar pekerjaan utama :) Positive thinking aja, kalau nanti akan selancar sekarang (insya Allah…amien…amien…).

Ada teman yang lain ikut nimbrung (kok saya jadi seperti disidang ya :P )

“Lo enak Dek. Punya pilihan. Bisa milih mau ngapain. Lha, kita? Mau pindah kerjaan aja susah banget nyarinya,”

Saya diam. Tapi mikir.

Benarkah tidak ada pilihan?

Sampai detik ini (dan semoga sampai berpuluh-puluh tahun mendatang), saya selalu percaya bahwa hidup adalah pilihan. Dan kita selalu punya kesempatan untuk memilih.

Ada cerita seorang teman. Single-parent, dengan 1 anak balita. Dia sudah single-parent sejak mengandung dan melahirkan anaknya (nggak usah dibahas kemana suaminya. Semoga pria b*ngs*t itu dil*kn*t seumur hidupnya, amien…). Saya tahu perjuangannya mengandung, melahirkan, dan bekerja keras setiap hari untuk anaknya. Hebatnya, dia masih bisa kuliah lagi, sambil bekerja dan mengasuh anaknya. Sekarang dia memutuskan untuk berhenti bekerja, agar bisa punya waktu lebih banyak untuk anaknya. Memutuskan untuk mengerjakan apa saja (iya, apa saja. Mulai dari jualan sampai jadi calo) agar anaknya tetap bisa makan dan sekolah.

Saya salut. Sebagian besar orang mungkin akan mikir bahwa mereka NGGAK PUNYA PILIHAN, selain terus bekerja, walaupun mereka nggak suka dengan pekerjaannya. Tapi dia? Dia berani memutuskan sesuatu yang menurutnya memang terbaik untuknya. Walaupun memang akan selalu ada pengorbanan.

Ada cerita tentang seorang tercinta lagi. Saya kaget luar biasa ketika dia memutuskan untuk pindah dan bekerja di luar Jakarta (di luar Pulau Jawa bahkan). Dia punya alasan sendiri, saya tahu. Saya hanya tidak bisa mengerti. Berjauhan dengan suaminya, padahal saya tau ada tawaran pekerjaan di Jakarta yang dia tolak. Kenapa? Sampai sekarang saya nggak tau. Yang saya tau, dia bilang dia senang di sana. Jauh dari polusi, nggak ada macet. Jam empat sudah bisa pulang kantor. Makan siang pulang. Anaknya bisa terus minum ASI (you know who you are. Miss you mbak…). Ahhhh…lagi-lagi pilihan…

Cerita lagi.

Kali ini tentang seorang sahabat yang sangat mendamba untuk punya anak. Awalnya nggak. Tapi setelah menikah hampir 10 tahun, dan belum juga punya anak, dia mulai resah. Periksa dokter, katanya kesehatannya bagus. Mungkin karena load pekerjaan yang terlalu banyak, stress, jadi terbawa ke hormon. Lalu? Dia berhenti kerja. Total program untuk hamil. Walaupun itu berarti harus merubah banyak hal, berkorban banyak hal, tapi itu pilihan kan?

Ah, saya udah terlalu panjang cerita.

Semoga saya juga selalu ingat kalau:

There are always choices.

Even when you choose not to choose anything. But THAT IS YOUR CHOICE!

8 comments September 4, 2008

puasa untuk perempuan hamil

Perempuan hamil atau menyusui termasuk dalam salah satu golongan yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa Ramadhan. Bagaimana dengan penggantiannya? Apakah dengan puasa di hari lain, atau membayar fidyah atau bahkan dua-duanya (membayar puasa dan fidyah)?

Tidak ada nash yang sharih untuk menetapkan bagaimana mereka harus mengganti puasa wajib. Yang ada nashnya dengan tegas adalah orang sakit, musafir dan orang tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa.

Orang sakit dan musafir dibolehkan untuk tidak puasa, lalu sebagai konsekuensinya harus mengganti (qadha’) dengan cara berpuasa juga, sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Sedangkan orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu lagi untuk berpuasa, boleh tidak berpuasa namun tidak mungkin baginya untuk mengqadha (menganti) dengan puasa di hari lain. Maka Allah SWT menetapkan bagi mereka untuk membayar fidyah, yaitu memberi makanan kepada fakir miskin sebagai satu mud.

Dalil atas kedua kasus di atas adalah firman Allah SWT:

Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (dibolehkan berbuka dengan mengganti puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (QS. Al-Baqarah: 184)

Untuk perempuan hamil dan menyusui, ada beberapa pendapat dari ulama:

Pendapat Jumhur Ulama

Di dalam kitab Kifayatul Akhyar, disebutkan bahwa masalah perempuan hamil dan menyusui dikembalikan kepada motivasi atau niatnya. Kalau tidak puasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya, maka dianggap dirinya seperti orang sakit. Maka menggantinya dengan cara seperti mengganti orang sakit, yaitu dengan berpuasa di hari lain.

Sebaliknya, kalau mengkhawatirkan bayinya, maka dianggap seperti orang tua yang tidak punya kemampuan, maka cara menggantinya selain dengan puasa, juga dengan cara seperti orang tua, yaitu dengan membayar fidyah. Sehingga membayarnya dua-duanya.

Pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas

Namun menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita yang hamil atau menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa harus berpuasa. Karena keduanya tidak berpuasa bukan karena sakit, melainkan karena keadaan yang membuatnya tidak mampu puasa. Kasusnya lebih dekat dengan orang tua yang tidak mampu puasa.

Dan pendapat kedua shahabat ini mungkin tepat bila untuk menjawab kasus para ibu yang setiap tahun hamil atau menyusui, di mana mereka nyaris tidak bisa berpuasa selama beberapa kali ramadhan, lantaran kalau bukan sedang hamil, maka sedang menyusui.

Sumber: Eramuslim

2 comments September 2, 2008


Categories

...recent ramblings...

…comments…

…archives…

Blogroll

…recommended…

...photos...photos...

More Photos

…i am part of…

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

...since january 3, 2008...